
Setelah sama-sama menyandang gelar dokter, hubungan Meica dan Fajar terkesan lurus-lurus aja. Enggak ada rollercoaster hati yang membuat debaran muncul layaknya pasangan kekasih pada umumnya. Keduanya sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Hanya kadang masih suka bertemu dan berkirim kabar seperlunya. Sedikit info aja, Fajar dan Meica di tempatkan di rumah sakit berbeda yang membuat mereka menjalani hubungan secara LDR.
Model pacaran apa itu? Model pacaran orang sibuk! Mereka sibuk membaktikan diri untuk kepentingan masyarakat. Keduanya punya satu pemikiran yang sama, menyembuhkan orang sakit lebih penting daripada baperin orang sehat yang akhirnya malah jadi tersakiti!
Lalu apa kabar dengan Neta? Apa dia masih getol ngejar-ngejar Fajar? Masih! Mungkin di sini cuma Neta yang berdedikasi tinggi dalam memperjuangkan cintanya.
Neta belum tahu jika Fajar sudah pacaran dengan Meica, meski dulu Fajar pernah berkata jika dia punya pacar di kota tapi, hal itu tak lantas membuat Neta percaya. Baginya, Fajar masih jomblo dan harus dia miliki titik.
Sore itu Fajar bermaksud ngapel ke tempat Meica, bukan malam minggu tapi hanya hari ini dia bisa luangkan waktu. Memang butuh waktu lumayan lama untuk bisa sampai di tempat Meica tapi, demi cinta jare di manapun pasti akan dia disamperin.
Bermaksud ingin memberi kejutan untuk sang pacar, Fajar sengaja tidak memberi tahu kedatangannya kepada Meica terlebih dahulu. Tiga jam tiga puluh menit bukan waktu yang sebentar, dan dia memilih mengendarai motor karena di rasa lebih cepat daripada dia harus membawa mobil.
Sampai di rumah Meica, Fajar melihat Meica sibuk dengan jemuran baju di samping rumahnya. Meica ada di rumah? Iya, karena kebetulan Meica ditugaskan di rumah sakit yang dekat dengan desanya. Meica sangat bersyukur dengan itu karena bisa terus bersama dengan ayah dan adiknya saat dia sedang tidak bekerja seperti sekarang ini.
Mendengar bunyi motor yang tak asing untuknya, Meica tak pantas berlari lebay ke arah sang pacar yang belum turun dari motornya.
"Enggak kangen?" Tanya Fajar kepada Meica yang hanya dijawab senyum kecil.
"Ayah di rumah Ca?" Tanya Fajar kembali. Sekarang mereka ada di ruang tamu. Ada Kiki juga di sana yang terlihat sangat senang dengan kedatangan Fajar.
"Enggak. Ayah baru aja pergi. Capek ya? Ke sini kok enggak ngasih kabar dulu." Meica menunjukkan perhatiannya pada mas pacar dengan membawakan air minum untuk Fajar.
"Aa kok baru ke sini lagi.. Aa sibuk kayak teteh ya? Aa teu kangen teteh?" Kiki menopang dagunya. Bertanya dengan suara khas bocil nya.
"Kalau aku enggak kangen ya enggak bakal ke sini Ki." Seketika jawaban Fajar membuat Meica makin sumringah.
Melihat Meica mendapat kunjungan dari lelaki lain saat dia ada di sana tentu saja membuat Fajar bak air mendidih. Dia berusaha woles dengan kehadiran makhluk yang berstatus mantan pacar Meica itu.
"A Ijal aya naon? Tumben aa main kadieu?" (A Ijal ada apa? Tumben aa main ke sini?) Pertanyaan Kiki membuat Meica tersadar dari lamunannya. Beberapa saat tadi Meica sempat speechless dengan kedatangan Rizal. Sang mantan yang mengakhiri hubungan dengannya itu sudah tidak pernah lagi berkunjung ke rumahnya setelah memutuskan menikah dengan Sofi.
"Mau ketemu abah neng, abah ada di rumah?" Rizal menunduk mensejajarkan pandangannya pada gadis kecil yang tadi bertanya padanya.
Fajar memperhatikan perubahan wajah Meica, meski hanya beberapa detik, Fajar tak suka saat Meica menatap intens pada tamu yang baru datang itu.
"Kenapa cari ayah?" Tanya Meica menyipitkan matanya. Jujur saja meski terkesan cuek dan judes dengan pertanyaan yang Meica lontarkan untuk Rizal tapi, Fajar lebih suka Meica diam aja membiarkan Rizal ngowoh dengan posisi masih di ambang pintu.
"Ada sedikit kepentingan dengan abah." Rizal menjawab seperlunya.
Fajar berdiri dari duduknya. Ini enggak bisa dibiarin. Ya kali hadirnya jauh-jauh kalah pesona sama si mantan? Big no! Berada tepat di sebelah Rizal, Fajar serta merta menepuk pundak Rizal ringan. Memberi isyarat agar mau mengikutinya.
Meica yang tidak ingin terjadi pertumpahan darah di rumahnya, segera mengikuti kedua lelaki tesebut. Dan Kiki yang tak tahu apa-apa hanya dia memandang ketiga manusia dewasa itu pergi. Dia lantas meneruskan kegiatan nonton tipinya.
"Maksud kamu apa dengan berkunjung ke sini?" Fajar langsung ke inti masalah. Dia tidak suka basa-basi.
"Maaf.. Bukannya tadi aku sudah jelaskan maksud kedatangan ku ke sini? aku ke sini karena nyari abah." Rizal menjawab dengan lugas dan santai, seperti tak ada beban.
"Apa tidak terlalu mengada-ada? Aku tahu kamu masih menyimpan rasa untuk pacarku atau harus aku pertegas jika Meica adalah calon istriku?"
Rizal dan Meica terkejut, yang lebih terkejut adalah ayah Meica yang baru tiba dari rumah kerabatnya. Beliau mendengar apa yang dikatakan Fajar tadi,