
Hari makin sore, saat Jo melewati embung (yang enggak ngerti bisa tanya mbah gugel.) dia memutuskan berhenti di sana. Motor di parkir asal. Toh tak akan ada orang yang minat mencuri motor butut pemberian bapaknya itu, pikirnya.
Semilir angin terasa sejuk, menyamarkan bau ketek Jo karena percayalah sebelum menuju embung tadi dia belum mandi. Dia cuek aja. Toh dia ke sana juga sendiri. Outfit yang dia pakai juga ala kadarnya, hanya celana denim panjang dengan robekan di bagian lutut, sebenarnya celana itu lebih tepat dinamakan 'palu' atau pamer lutut, saking lebarnya robekan yang memperlihatkan bagian itu hingga terekspos secara nyata. Diimbangi dengan kaos hitam putih sederhana yang memang klop di badannya. Meski tak mandi pun tak apa, dia ganteng menurut emak bapaknya!
Gitar yang dia bawa tadi dia mainkan. Bukan untuk mengamen, siapa juga yang akan nyawer dia lha wong di tempat itu sepi, sunyi, hanya dia sendiri.
"Lintang.. Berapa lama lagi aku mok suruh nunggu? Aaah lama-lama sutris (stress) aku mikirin kamu! Tes tes ehm.. Sekiaaan lama aku menunggu,, untuk kedatangan mu,, pada siapa aku mengadu.. kalau bukan mamaku! Aku yakin mas Ridho Rhoma minder denger suaraku!"
Pesen othor, mencintai seseorang sewajarnya aja karena cinta dan micin itu efeknya hampir sama. Jika dikonsumsi berlebihan yang didapat hanya kebodohan! Camkan!
Lirik yang dia ganti seenak jidat tak membuat Jo malu, ngapain malu wong nyatanya dia enggak hafal lagu itu. Dan sekali lagi dia merasa sendirian di sana, mau malu sama siapa emangnya?
"Ku menangiiiiiis membayangkan.. Ku jomblo sendirian yang lain punya pasangan.. Harus selalu kau tahuuuuu,, aku lah hati yang telah kau jolimiiiii.. Ku menangiiiiiis uwoooooo uwoooooo" Tingkat sutrisnya udah fatal!
"Mas Jo apa sih, berisik tahu enggak." Jo kaget, dia nyampe jatuh terjengkang. Tak peduli dengan gitar yang hampir terinjak olehnya karena gerakan spontan yang dia lakukan.
Clingak-clinguk matanya mencari sumber suara tadi berasal. Bukan! Bukan hantu, dia yakin tadi bukan suara protes hantu yang terganggu dengan jeritan hatinya. Keabsurd'tan Jo yang lain, dia langsung membaca Ayat Kursi keras-keras saat melihat sosok Lintang dengan baju putih cemberut menatap tajam ke arahnya.
"Mas Jo!! Mas pikir aku hantu apa??" Lintang melipat kedua tangannya di depan dada.
"Lin..." Jo pelan-pelan mendekati Lintang. "Lin, ini bener kamu kan?" Meyakinkan diri kalau yang ada di depannya memang Lintang. Gadis yang membuat dirinya setengah edan!
"Siapa lagi kalau bukan aku?" Masih manyun.
"Kok kamu bisa ke sini? Sama siapa?" Jo celingukan mencari manusia lain selain mereka berdua di sana. Ketemu, ada Bagas yang sibuk dengan ponselnya sekarang menoleh ke arah Lintang dan Jo. Bagas melambaikan tangan seperti bilang 'Oe aku di sini gaess!'
"Sama Bagas." Jawab Lintang yang juga menunjuk Bagas hanya dengan pandangan mata.
"Udah lama di sini? Kok aku enggak lihat ya? Oiya ngapain ke sini?" Saking senengnya ada Lintang di sana, Jo langsung memberondong Lintang dengan banyaknya pertanyaan sekaligus.
"Mas Jo bisa enggak nanyanya satu-satu?"
"Satu-satu.. aku sayang kamu! Dua-dua.. kamu enggak ada duanya! Tiga-tiga.. kamu wajib percaya! Satu dua tiga.. Lintangnya Jo istimewa!" Yang baca sambil nyanyi, bisa ngumpul di pojokan!
"Mas Jo apa sih, dikata aku anak kecil apa?" Ngomong gitu tapi lengkungan itu tercetak nyata di wajah Lintang.
"Sebelum mas Jo ke sini, aku sama Bagas udah ada di sini duluan. Gimana mas mau lihat aku, orang nyampe sini mas Jo langsung nangkring genjrang-genjreng kok. Dan.. Aku ke sini ikut Bagas aja, lagian bosen di rumah enggak ada yang ngajak jalan!" Wah kode keras!
"Kamu denger aku nyanyi?" Rasanya Jo ingin cari karung, kardus bekas atau kresek hitam pun tak apa untuk menutupi wajahnya. Bukan malu lagi yang dia rasakan tapi, udah ke tahap memalukan diri sendiri. Tapi, tak apa juga kalau Lintang denger nyanyiannya.. Seenggaknya Lintang tahu kalau Jo makin kedanan (tergila-gila) pada dirinya.
"Iya denger. Bagus kok suaranya, pinter parodiin lagu juga."
Mendengar pujian Lintang, Jo senang bukan main. Dia akan manfaatin momen ini untuk nembak Lintang lagi! Dia enggak mau menyia-nyiakan kesempatan langka seperti ini. Jo berharap Bagas enggak buru-buru nyamperin mereka agar Jo bisa pokus merangkai kata untuk nembak targetnya. Meski belum mandi, pede tetep sebuah kewajiban di sini.
"Lin.. Kamu tahu kan aku sayang banget sama kamu?" Sebuah anggukan menjawab pertanyaan Jo. Masih diam tak bersuara, Lintang hanya mendengar apa yang Jo ingin sampaikan kepadanya.
"Kamu tahu enggak Lin, kalender di rumahku seluruhnya aku kasih warna hitam. Kamu tahu kenapa?" Jo menatap intens netra indah Lintang.
"Mas Jo kurang kerjaan, mungkin." Jawab Lintang dengan senyum imutnya.
"No no, bukan itu sayang.. Aku kasih warna hitam di semua kalender ku di rumah karena barang sehari pun aku enggak mau libur untuk mencintaimu!" Nyess.. Jo yakin Lintang menyukai jawabannya.
"Gimbalmu mas."
"Gombal Lin gombal! Beda satu huruf aja artinya udah beda." Keduanya tertawa.
Momen nembak yang aneh! Yang setuju sama othor angkat ketek tinggi-tinggi gaess!
"Apanya yang gimana mas?" Mencoba mengulur waktu. Lintang sebenernya tahu apa maksud Jo saat ini. Senyum terus terukir di wajah Lintang.
"Kamu mau enggak adopsi aku agar hatiku ini ada yang punya? Dari dulu cuma kamu pemilik hatiku tapi, owner hati ini seperti lupa jika dia belum memberi stempel kepemilikan yang sah di sana. Lontang-lantung plus digantung itu enggak enak Lin. Nek seneng aku ngomong'o.. (Kalau suka aku bilang aja..) tapi, kalau emang kamu merasa aku enggak pantas buat kamu yang seperti bidadari turun dari kayangan dan aku rela cosplay jadi mas Tarub untuk kamu.. Cukup bilang aja emoh (enggak mau) sekarang. Daripada aku terus mok gantung. Mati kagak, megap-megap iya!"
Otomatis Lintang tertawa. Bagas yang ternyata sudah memposisikan diri duduk di dekat Jo juga ngakak dibuatnya.
"Diem Gas!" Kompak keduanya membentak Bagas. Bagas bukannya diem malah makin puas ketawanya.
"Lucu lucu, kamu ikut stand up komedo aja deh Jo. Asli kamu berbakat banget hahaha."
"Stand up komedi Tejooo! Kelian ini suka banget ganti-ganti perbendaharaan kata. Menangis guru bahasa Indonesia kelian kalau tahu kelian sering typo saat mengucapkan kalimat dalam bahasa Indonesia."
Bagas kembali ketawa. Lintang hanya tersenyum, melihat Jo dengan celana compang-campingnya. Tetep keren!
"Aku jawab sekarang ya mas?" Tanya Lintang.
"Iya Lin iya." Mengangguk mantap.
"Aku juga sayang sama mas Jo."
"Eaaaa enggak jomblo lagi, pejeh oe pejeh!" Bagas memukul pelan perut Jo.
Terserah apa yang Bagas lakukan padanya, hari ini dia amat sangat senang. Rasanya beban di hatinya ilang, lenyap, tak bersisa bersama kentut yang baru saja meluncur tak bisa dia tahan! Bagas maki-maki Jo yang malah tertawa tanpa dosa. Sedangkan Lintang masih dengan senyum imut, dia melihat ke arah Jo dan Bagas.
'Jangan tanya bagaimana esok
Ku tak ingin menerka perasaan ini
Yang kutahu, hari ini ku mencintaimu
Yang kutahu, ku sangat menyayangimu
Biarlah semua berlalu
Jalani seperti apa adanya
Bunga kan mekar meski kemarau melanda
Bunga kan mekar meski kemarau melanda
Bukan ku ingin memastikan
Akulah cinta sejati mu
Yakinkan hatimu
Akulah takdir yang engkau nantikan
Ku ingin kau merasa tentram
Biarlah berada di sampingku
Karena diriku sangat menyayangimu
Ku akan membuktikan cinta di hatimu
Satu rasa menggapai bahagia
Ku pinang dirimu sebagai teman hidupku
Berjanjilah, Kasih, setia bersamaku'