Angel!!

Angel!!
Bab 36. Detektif Bagas dan Lintang



Hanya menunggu hitungan menit, Parto pun sampai di puskesmas. Di sana dia melihat Ndis yang sudah terlelap memejamkan mata. Rasa teriris itu muncul. Parto dekati anak gadisnya, melihat beberapa luka yang sudah dibalut perban serta bagian tubuh lain yang lecet seperti itu tentu saja membuat hati Parto terenyuh.


"Dia baru tidur om." Berkata memecah kesunyian. Parto mengangguk.


"Maturnuwun mas udah mau repot-repot jagain Gendis." Dari suaranya, sangat jelas kesedihan dalam diri Parto. Ya jelas sedih, bapak mana yang enggak sedih saat melihat anaknya terbaring sakit seperti itu.


Jika ada orang tua yang justru acuh dengan kondisi anaknya saat sakit atau justru mereka lah penyebab dari anak-anaknya sakit.. mungkin orang tua seperti itu perlu dipertanyakan kewarasannya. Oke kembali ke cerita aja!


Dewa dan Parto berbincang tentang penyebab Ndis kecelakaan. Dari keterangan sejumlah warga yang melihat Ndis pertama kali, mereka tidak menemukan orang lain di sana. Tapi, mereka juga menemukan ponsel Ndis yang sudah tak berbentuk ada di tengah jalan. Mereka berpikir mungkin ponselnya bisa terhempas cukup jauh dari Ndis karena posisi Ndis jatuh pertama kali adalah di tengah jalan.


Semalaman Parto dan Dewa ada di puskesmas, baru setelah adzan berkumandang Dewa pamit untuk pulang. Dan berjanji akan kembali menjenguk Ndis secepatnya.


Setelah kepergian Dewa, Ndis baru membuka matanya. Seperti memang sengaja bangun saat Dewa sudah pergi dari sana.


Parto tak lantas bertanya kenapa Ndis bisa mengalami kecelakaan itu saat tahu anaknya sudah bangun. Dia justru tanya, Ndis butuh apa? Mau minum atau butuh yang lainnya. Benar-benar bapak yang sangat peduli dan sayang pada anaknya ya?


Sebenarnya Parto trauma dengan apapun itu yang berkaitan dengan kecelakaan motor, beberapa puluh tahun yang lalu dia hampir kehilangan saudara satu-satunya juga karena kecelakaan motor. Dia sampai syok saat pertama kali tahu Ndis ada di puskesmas dan dirawat di sana dengan alasan yang sama seperti yang menimpa adiknya dulu.


Pagi hari mentari menyapa dengan sinar terangnya, hampir semua keluarga Parto ada di puskesmas saat ini. Untuk apa lagi kalau bukan membesuk Ndis yang sedang dirawat di sana.


Kekhawatiran jelas nampak pada raut wajah masing-masing dari mereka. Dari ibu, adik, om, tante, uti dan kong pun ada untuk memberi dukungan dan doa demi kesembuhan Ndis.


"Lin, arep ngomong aku!" Ucap Bagas, anak dari Seno dan Indah yang saat ini mulai beranjak dewasa. Usianya baru delapan belas tahun tapi kepekaannya terhadap sekitar sangat tinggi. Di usianya sekarang dia bahkan memilih ngekost dan bekerja apa saja yang penting halal untuk biaya kuliahnya. Bukan Seno segitu pelitnya sampai tidak mau atau tidak mampu membiayai pendidikan anak sulungnya tapi memang itu pilihan yang Bagas ambil sendiri. Meski begitu, Seno tentu tak lepas tangan begitu saja dan membiarkan tanpa mengawasi setiap pergerakan anaknya.


"Opo Gas?" Tanyanya saat Lintang sudah di luar ruang rawat inap mengikuti Bagas yang memilih menjauh dari keramaian di ruangan tadi.


"Reti ora kowe ningopo mbak Ndis nganti iso tibo ngono iku?" (Tahu enggak kamu kenapa mbak Ndis bisa sampai jatuh kayak gitu?)


Bagas ini jarang menggunakan bahasa Indonesia saat bercakap dengan keluarga atau temannya. Dia lebih suka memakai bahasa daerahnya.


"Oda. Kenopo emange, kowe reti?" (Enggak. Kenapa emangnya, kamu tahu?) Lintang balik bertanya kepada Bagas.


Bagas memperlihatkan foto hape Ndis yang hancur tak beraturan kepada Lintang.


Lintang memperhatikan secara seksama foto yang udah dizoom berulang olehnya. Dia manggut-manggut, entah mengerti atau enggak yang penting jangan sampai terlihat bodoh di depan saudaranya ini.


"Mbak duwe musuh kan?" Tanya Bagas selanjutnya.


"Hooh!" Lintang menjawab singkat.


Keduanya lalu berasumsi dengan pikiran mereka masing-masing. Pembicaraan asal tebak pun terjadi di sini. Mereka mendata siapa saja yang sekiranya paling tepat untuk mereka tuduh sebagai pelaku yang musti bertanggung jawab atas kecelakaan yang menimpa kakak mereka itu. Entah disebutnya naluri detektif atau emang hanya kepo akut yang musti dituntaskan, Lintang dan Bagas langsung menunjuk satu nama. Neta!


Setelah merasa mereka satu pendapat, Bagas dan Lintang lantas kembali ke ruangan tempat Ndis di rawat.


Di tempat lain di waktu yang sama. Fajar terlihat sangat tidak fokus dengan apapun yang dia lakukan, penyebabnya adalah wa dari Jo semalam yang mengabarkan jika Ndis kecelakaan. Dari semalam tak hentinya Fajar menghubungi Jo untuk menanyakan kabar Ndis. Berharap semua akan baik-baik aja. Dan tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan kepada gadis yang dia sayangi itu.


"Awas nabrak lagi! Meleng mulu perasaan kalau jalan!!" Hardikan dari gadis yang bernama Meica Queendy membuat Fajar tersadar. Dia ada di lorong rumah sakit dan bingung mau ngapain. Fokusnya hanya pada ponselnya saja. Menunggu pesan balasan dari Jo.


"Maaf mbak." Hanya itu yang Fajar ucapkan.


"Kamu kan udah tahu namaku kenapa manggil aku mbak mbak terus sih? Aku bukan mbakmu." Protesnya.


"Meica?" Tanya Fajar memiringkan kepalanya.


"Queendy. Aku lebih suka dipanggil Queendy." Fajar hanya mengangguk tanda mengerti. Tapi kembali, dia melihat ponselnya yang mulai bergetar tanda pesan masuk.


"Alhamdulillah.." Ucap Fajar setelah membaca pesan dari Jo yang mengabarkan jika Ndis hanya luka ringan saja. Dan kemungkinan sore ini boleh pulang.


Queendy yang merasa terabaikan langsung berjalan cepat meninggalkan Fajar tanpa pamit terlebih dulu.


✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨



Kui Queendy gaess. Wes ameh kepo sopo neh?