Angel!!

Angel!!
Bab 91. Kecelakaan



Dewa menuju motornya, memakai helm full face dan tanpa menunggu dia arahkan si ijo menembus pekatnya malam.


Sepi. Jalan yang dilalui Dewa terbilang cukup sepi, berniat ingin segera sampai rumah, Dewa menambah kecepatan motornya.


Dewa yang terlalu bersemangat karena berpikir bisa sampai rumah bersamaan dengan Ndis nantinya tidak memperhatikan jika dari arah berlawanan ada mobil box tanpa penerangan melaju cukup kencang dan memakan jalur yang harusnya untuk kendaraan lain dari arah sebaliknya. Mobil box itu menghindari lubang cukup dalam di jalurnya sehingga sang supir memilih memakan jalur yang diperuntukkan untuk kendaraan dari arah lain. Menyadari ada bahaya, Dewa segera membanting stang motornya ke arah kanan. Naas.. Kencangnya mobil box melaju lebih dulu menangkap tubuh Dewa yang sudah kehilangan keseimbangan.


Decit rem dari mobil box terdengar cukup nyaring. Sang supir segera turun untuk melihat kondisi orang yang dia tabrak. Dia panik, melihat banyaknya darah tumpah ruah di jalanan. Kerasnya benturan membuat lampu depan mobilnya yang memang tidak menyala pecah. Penyok di bagian kiri.


"To... Tooloong.." Ragu ingin meminta tolong atau membiarkan saja Dewa yang terbujur di jalan sang sopir dengan gagap berteriak meminta tolong.


Tidak mau meninggalkan Dewa di jalanan dengan kondisi seperti itu, Pak sopir ini juga masih punya rasa tanggung jawab dan empati tinggi. Dia takut jika orang yang dia tabrak meninggal. Rasa takutnya kalah dengan rasa peduli untuk menolong sesama. Pak sopir itu sudah melakukan kesalahan dengan tidak menyalakan lampu depan kendaraannya, ditambah lagi dia sudah memakan jalur yang tidak diperuntukkan untuknya. Dia tidak mau menambah kesalahan dengan membiarkan lelaki yang tak sengaja dia tabrak meninggal kehabisan darah karena keegoisannya.


"Mas.. Mas.. Bangun mas.. Mas masih bisa dengar aku mas?" Tak ada jawaban. Mata Dewa terpejam seutuhnya.


Beberapa warga yang dekat dengan jalan raya berbondong keluar dari rumah, meski hujan masih cukup deras mereka penasaran dengan bunyi keras benturan yang barusan terdengar.


"Pak tolong pak.. Masnya ini luka parah.." Masih tergagap pak supir meminta bantuan warga sekitar untuk mau menolong Dewa.


"Astaghfirullah.. iya iya. Pakai mobil saya saja pak! Kita antar orang ini ke rumah sakit! Bapak yang bawa mobil box ikut saya juga ya!" Ajak salah satu warga. Tanpa pikir panjang pak supir segera mengiyakan ajakan warga tersebut.


Sedangkan di mobil, Ndis merasakan dadanya bergemuruh. Seperti ada yang terjadi.. Tapi, dia sendiri enggak tahu ada apa. Perasaannya makin tak karuan saat mendengar petir bersahut-sahutan.


"Kenopo Ndis? Bentar lagi sampai kok.." Jo melihat Ndis sekilas yang memegang dadanya.


"Jo.. balik lagi ke tempat tadi yuk. Perasaanku enggak enak banget." Jo melotot, yang bener aja. Ini sudah hampir sampai rumah Ndis tapi yang bersangkutan malah ngajak Jo puter balik.


"Eh kenapa? Ini lho udah mau sampai desa kita.. Masa iya kita ke sana lagi? Jauh Ndis.." Jo memprotes usulan tak masuk akal Ndis.


"Jo nomer mas Dewa enggak bisa dihubungi." Ndis memperlihatkan ponselnya yang tidak tersambung saat menelpon Dewa.


"Kamu mau kita kesambar petir bareng? Jangan main hape pas hujan petir gini ah! Aku masih perjaka, belum pernah anuan, belum ka_win, moh aku lewat gara-gara kesamber gledek!"


"Tapi Jo.." Ndis ngeyel.


"Ndis aku dikasih amanah Dewa buat jaga kamu, anterin kamu sampai rumah dengan selamat. Apa jadinya kalau aku malah ngajak kamu muterin jalan enggak jelas? Pas nanti dia sampai rumahnya duluan dan kamu masih pengen muter-muter di jalan pasti aku lagi yang kena omel. Diomelin pacarmu, diomelin Lintang, Dicemberutin bapak ibumu juga pasti. Tolong jangan aneh-aneh lah.." Jo menolak ajakan Ndis untuk kembali ke warung tadi.


Ndis membuang nafas kasar. Gelisah, dia merasa ada yang enggak beres. Tapi mau bagaimana lagi, benar kata Jo.. Jika dia tidak cepat sampai rumah orang tuanya pasti akan sangat khawatir. Dia mensugesti dirinya sendiri jika semua baik-baik aja. Ndis terus melihat ke arah ponselnya, berharap ada telepon atau pesan dari Dewa. Jo yang melihat hal itu hanya bisa menggeleng kepala.


✨✨✨✨✨✨✨✨✨


"Dewa?!! Kenapa dia sus? Siapa yang membawa dia ke sini?" Tanya Fajar panik saat melihat Dewa terbaring di ranjang pasien dengan muka pucat dan kondisi yang memprihatinkan.


"Pasien adalah korban kecelakaan dok! Tidak ada keluarga yang mengantar, hanya beberapa warga yang membawa pasien ke sini!" Terang suster setelah selesai memasang alat infus untuk Dewa.


"Periksa respon, denyut nadi dan pernafasan!" Perintah Fajar cepat.


"Detak jantung melemah dok." Salah satu suster ikut memberi laporan pada Fajar.


"Pasang alat pacu jantung sus! "


Muka Fajar terlihat tegang. Dia tahu Dewa adalah seseorang yang berarti untuk Ndis, dia akan melakukan apapun untuk bisa menyelamatkan Dewa. Senyum Ndis masih menjadi motivasi untuk Fajar.


'Bertahan Dew.. Aku tahu kamu kuat! Kalau kamu enggak bangun, aku pastikan Ndis bakal aku rebut dari tanganmu!' Hanya berucap dalam hati.


"Benturan keras membuat salah satu ginjal pasien mengalami kerusakan dok." Suster memberikan hasil foto rontgen kepada Fajar.


Fajar memerintahkan suster untuk membawa Dewa ke ruang operasi. Tindakan cepat harus segera dia lakukan untuk menyelamatkan nyawa mantan rivalnya.


Sing kuat Dew.. Nek oda kuat nanti dek Manismu disikat pak dokter lho!