Angel!!

Angel!!
Bab 107. Pertemuan



'Mas kenapa liatin aku kayak gitu banget? Dan ini.. Coklat? Tiap hari ngasih coklat sama surat kayak gini.. Biasanya kan orang-orang ngasih hadiah atau kado pas hari anniversary aja mas.' (Surat yang Ndis maksud adalah sejenis qoute yang sengaja Dewa tulis dengan tangan dan diberikan pada Ndis setiap hari.)



'Kenapa emangnya? Kamu enggak suka coklat? Pasti lebih milih pelukanku kan? Hahaha.'


'Bukan gitu, aku merasa mas terlalu mengistimewakan aku. Aku bingung balesnya dengan cara apa.'


'Cukup cintai aku dengan tulus. Saat kamu ngasih aku segenggam cintamu, aku akan membalas dengan mencintaimu di sepanjang usiaku.'


Ndis kangen Dewa. Sekelebat bayangan saat mereka bercakap di depan rumah berhasil meloloskan air mata yang Ndis tahan agar tak lagi jatuh membasahi pipinya.


"Kapan mas pulang.. Cepet sembuh mas.. Aku kangen.." Ucap Ndis lirih melihat foto mereka berdua di ponselnya.



Dewa belum sembuh? Belum. Ada beberapa hal dan kondisi tertentu yang membuat kesehatannya up and down. Kadang Ndis berpikir, apa kondisi Dewa saat ini adalah hukuman atau balasan yang diberi Sang Pencipta padanya? Saat Dewa berusaha mendekati Ndis, dan menjadikan Ndis kekasih hatinya dulu.. Ndis terkesan cuek dan masa bodoh. Tapi sekarang, saat Ndis beneran melabuhkan hatinya untuk Dewa dia harus dihadapkan dengan kenyataan jika penyatuan cinta mereka terpaksa ditunda karena kondisi kesehatan Dewa yang tak kunjung pulih dari kecelakaan yang Dewa alami beberapa bulan lalu.


'Kok mendadak mendung ya mas.. Padahal tadi cerah banget. Ilang deh bulannya ketutup awan.'


'Karena senyummu membuat rembulan malu dan memilih menutupi dirinya dengan berselimut awan, kamu diem aja udah cantik banget.. Apalagi saat senyum gitu. Kamu bisa lihat sendiri kan efek senyuman mu, bulan aja minder liat kamu tersipu seperti ini apalagi aku?'


Dewa, gombalan recehnya selalu bisa membuat lengkungan senyum terukir di bibir Ndis. Bukan bermodal bualan aja, Dewa justru yang terus meminta Ndis untuk membawa hubungan mereka pada satu janji suci menuju jalan yang lebih diridhoi Allah yaitu sebuah pernikahan. Keberanian Dewa bukan tanpa alasan, dia tak ingin dianggap main-main menjalani semua ini dengan Ndis.


Rasa sayangnya sudah mentok pada gadis imut tersebut. Pun, dia juga tak mau jika nantinya Fajar membelokkan stir dan kembali menatap Ndis bukan sebagai sahabat tapi sebagai perempuan yang patut diperjuangkan.


Dewa takut bersaing dengan Fajar? Tidak. Dia yakin pesonanya lebih unggul dari siapapun di sini, terpancar nyata dan tak ada yang meragukan soal itu. Dewa selalu memakai patokan, jika ada masalah selesaikan jangan dihindari. Masalah yang besar sebisa mungkin dibikin kecil, masalah kecil dihilangkan, dan kalau memang tak ada masalah kenapa harus sibuk mencari? Buang-buang tenaga dan waktu aja untuk menyelesaikannya, ya kan?


"Mbak.. ngapain sih di kamar mulu? Keluar sini!" Bagas berteriak dari luar kamar Ndis.


Sebelumnya sudah dijelaskan ya kalau Bagas itu adalah anak dari om Seno dan tante Indah yang merupakan adik dari bapak Parto, ayahnya Gendis. Bagas memanggil Ndis mbak tapi tidak dengan Lintang. Untuk Lintang, Bagas selalu memanggil sepupunya itu cukup dengan nama saja.


"Apa?" Saut Ndis dari dalam kamar tanpa membuka pintunya.


"Mbak.. Mau denger berita penomenal ndak?"


Mengalah. Ndis keluar dari kamar, mengikat rambutnya asal dan menemui Bagas yang sudah cengar-cengir menunggunya di depan pintu.


Dia melaporkan apa yang dia tahu sewaktu di embung tadi kepada Ndis. Semua! Tak ada yang Bagas tutup-tutupi, beberapa bagian malah sengaja dia tambah-tambahi. Bagus Gas baguuus!!


"Terus sekarang Lintang sama Jo di mana? Belum pulang? Kamu biarin mereka berduaan abis jadian?" Tanya Ndis dengan sorot mata membunuh.


Bagas bukannya takut malah makin bersemangat ngomporin Ndis.


"Hahaha.. Kenapa mbak? Biarin aja. Bentar lagi juga balik. Kalau nyampe jam delapan enggak nongol juga, aku pastiin Jo bakal kehilangan masa depannya yang enggak begitu beharga itu!" Gas.. Gas.. sungguh lucknut ucapan mu itu nak!


Deru motor yang dia hafal meski belum melihat wujud pengendara dan motor yang dipakai terdengar di telinga Ndis. Ndis bergegas keluar rumah. Tanpa memperdulikan Bagas yang terus nyerocos tanpa henti.


Dia yakin tidak sedang berhalusinasi. Di sana.. Di depan sana, sosok yang dia rindukan itu turun dari motor ninja ijo kebanggaannya. Motor yang menjadi saksi bisu berpisahnya dua insan yang sama-sama mencinta oleh derasnya air hujan kala itu. Motor yang dipakai saat kecelakaan dan mengakibatkan mereka harus berpisah berbulan-bulan lamanya. Ndis mendekat perlahan. Hanya memastikan jika penglihatannya masih normal.



"Mas..." Ndis gemetar melihat Dewanya tersenyum simpul. Sedikit menunduk, Dewa melihat Ndis yang menangis seakan tak percaya jika dirinya benar ada di hadapan Ndis.


"Dalem kesayangan. Apa kabar?" Dewa mengusap lembut pipi chubby calon istrinya, menggeleng pelan memberi isyarat agar Ndis menghentikan tangisannya.


"Kenapa enggak kasih kabar sama sekali? kenapa bikin aku sesak nyampe mau mati karena terus mikirin kamu? Kamu mas.. Kamu bikin aku kayak orang gila.." Ndis meracau. Dia senang bisa berjumpa kembali dengan Dewa memang itulah yang dia tunggu-tunggu sejak lama. Dia hanya mencurahkan apa yang dia rasakan. Dewa harus tahu bagaimana susahnya Ndis lewati hari tanpa Dewa di sisinya.


"Aku enggak mau bikin kamu cemas dan makin kepikiran tentang aku dek.."


Apa itu cukup membuat Ndis tenang? Enggak! Ndis justru makin deras mengeluarkan air matanya. Dewa tahu pasti akan seperti ini awal pertemuan mereka, setidaknya Dewa tahu jika Ndis juga sangat mencintainya, sama seperti dia yang sebenarnya paling tersiksa dengan perpisahan mereka.


"Makasih semua doanya ya Manis.. Alhamdulillah semua doamu nyampe ke aku. Aku bisa rasain ketulusanmu menungguku. Dan maaf.. kalau aku baru bisa nemuin kamu sekarang, aku udah berusaha secepatnya bangun dan pulih dari kondisiku pasca kritis waktu itu.. maaf bikin kamu secemas ini."


Sebuah pelukan dan usapan rambut pelan Dewa berikan saat Ndis terus sesenggukan dalam tangisnya.


"Aku yang harus bilang makasih sama mas.. Makasih udah mau kembali.. Berjuang untuk sembuh dan terus hidup buat aku, buat mbah, buat bulek.. dan semua orang yang sayang sama mas di sini. maaf waktu itu aku ninggalin mas sendiri.. Aku bodoh! Harusnya aku tetep di sana bareng mas.."


Pelukan itu dieratkan. Seperti tak ingin pisah satu sama lain, tanpa mereka sadari sepasang mata sejak tadi melihat drama pertemuan mereka sambil makan singkong goreng di dalam ruang tamu. Siapa? Bagas!


Yang membuat Bagas terbatuk-batuk adalah kejadian setelahnya. Harusnya dia bisa menebak, saat dua insan udah kasmaran di level Dewa dan Ndis seperti itu.. Ending pertemuan mereka pastilah silaturahmi bibir dan 'adu mulut' tanpa lihat sikon!


"Apes!! Dua kali dalam sehari liat orang ci_pokan! Lenyap aja kamu Gas! Enggak guna!" Bagas hanya bisa menggerutu.