Angel!!

Angel!!
Bab 34. Kiblat Hati



Parto mengucapkan terimakasih kepada Dewa karena sudah mengantar Lintang pulang ke rumah dengan selamat tak kurang satu apapun. Kesibukannya membuat dirinya tidak sempat menjemput Lintang sendiri tadi. Dan Parto pikir, Lintang akan dijemput Ndis. Karena Ndis keluar juga udah dari tadi.


"Jadi Gendis belum pulang om?" Dewa bertanya dengan nada khawatir karena sang Surya sudah kembali ke peraduan.


"Belum. Tadi ijin nganter roti sama sekalian mau jemput adiknya. Ini bocah pergi hapenya sampai enggak bisa dihubungi itu ya ngopo?!" Menjawab sambil terus berusaha menghubungi nomer telepon Gendis.


"Biar aku yang cari om. Kalau cuma daerah sekitaran sini insya Allah aku hafal di luar kepala." Dewa berpamitan kepada Parto. Parto mengiyakan niat baik Dewa. Tapi, Parto tak lantas berpangku tangan. Setelah Dewa pergi, Parto meminta ijin Shela untuk mencari Gendis.


Bukan tidak percaya pada Dewa tapi, Gendis adalah anak gadisnya, tanggung jawabnya, bukan hal baik membiarkan orang lain bersusah payah mencari putrinya sedangkan dia sendiri ongkang-ongkang kaki di rumah. No. Parto bukan lelaki seperti itu.


"Mas.. Bawa mobil aja. Mendung gini lho, takutnya nanti hujan.." Shela mencium tangan suaminya saat Parto berpamitan.


"Pak.. Nanti beliin Lintang coklat silperkuin yang gede dua ya hehehe!" Ini bocah. Apa dah!?


"Bapakmu itu mau cari mbak Ndis, bukan mau jalan-jalan. Malah minta coklat, itu di kulkas kan masih ada brownies.. Makan! Habisin." Shela menegur Lintang yang malah cengengesan.


"Sambil menyelam pipis juga gitu buk hahaha, jadi sekalian nitip jajan sama bapak... biar pas bapak datang nanti bikin Lintang seneng." Entah sifat siapa yang Lintang tiru ini. Gemblungnya bikin orang tepok jidat.


Setelah drama ini dan itu, Parto langsung tancap gas mencari anak sulungnya. Khawatir karena Ndis tidak pernah pergi tanpa memberi kabar seperti sekarang ini. Lho bukannya tadi bilang kalau Ndis udah ijin mau antar kue? Iya, tapi keluar dari rumah siang hari dan ini sudah mau malam. Kekhawatiran seorang ayah akan hilang jika sudah bertemu putrinya dan memastikan sendiri Ndis tidak kenapa-napa.


Tadi siang, Ndis selesai mengantar pesanan. Dia langsung menuju jalan arah sekolah Lintang. Karena tadi Lintang bilang tidak ada ekstrakulikuler, jadi pulangnya bisa lebih awal. Tapi, dijalan dia dikagetkan oleh kemunculan Neta yang menghadangnya.


"Turun!!" Bentak Neta arogan. Menatap Ndis dengan tampang sengaknya.


"Minggir, aku males ribut." Ndis tidak langsung turun dari motor. Dia hanya menaikkan kaca helmnya dan masih duduk manis di atas jok motor.


"Kamu budek atau apa? Aku bilang turun sekarang!!" Bentakan Neta untuk Ndis yang terdengar sangat marah.


"Ooowh aku tahu, kamu takut kan sama aku?? Iya lah secara para pengawal mu lagi enggak ada di sini, Fajar pergi dan Paijo sibuk dengan galonnya!!" Maksud Neta galon adalah bisnis isi ulang air mineral yang Jo rintis dari modal dan dukungan orang tuanya.


"Enggak ada yang perlu aku takutin dari kamu, dari dulu sampai sekarang." Akhirnya Ndis turun dari motor. Mendekati Neta. "Mau apa hmm?" Tanya Ndis selanjutnya.


Kaget. Tentu saja. Ndis pikir enggak akan ada setan yang mau merasuki Neta, karena Neta sendiri juga sudah termasuk golongan dari jenis mereka (setan). Tapi, lihat.. Neta bahkan bisa kerasukan seperti itu sekarang ini.


Enggak terima! Tentu saja. Tanpa banyak tanya, tanpa banyak kata, Ndis langsung menarik kasar rambut Neta yang baru diajak nyalon ke tempat Elis sebelum bertemu Ndis tadi.


"Lepasiiin!! Aaaaww.. sakiiit!! Linggis, kamu nyakitin aku!! Rambutku baru aku blow tadi!! Cewek gila!!! Lepasin!!" Bukannya melepaskan tangannya dari rambut Neta, meski Neta sudah berteriak nyaring senyaring pengeras suara penjual tahu bulat yang membahana, Ndis justru dengan sigap langsung menelikung tangan Neta yang dipakai untuk menamparnya tadi.


"Aku salah apa sama kamu sampai kamu nampar aku kayak tadi?? Kasih alasan yang masuk akal, kalau enggak rambutmu ini bakal lepas dari kulit kepalamu!! Dan tangan yang kamu pakai buat nampar aku, aku pastikan patah saat ini juga!" Bukan berteriak, tapi ucapan Ndis mampu membuat Neta merinding.


"Aku benci kamu!! Aku benci apapun yang ada pada diri kamu, kamu tahu itu!! Kamu mainin perasaan Fajar, kamu anggap dia sekedar pelampiasan. Saat kamu butuh dia, kamu baru sibuk cari-cari dia. Tapi, sekarang kamu udah ada yang lain. Dan Kamu masih enggak mau lepasin Fajar buat aku?? Kamu maruk banget jadi cewek!!"


Ndis mendorong Neta maju menjauh dari dirinya. Jadi karena Fajar? Karena Fajar dia ditampar sekeras tadi?


"Otakmu itu udah tercemar limbah dari pabrik mana? Masih bisa buat mikir apa enggak? Fajar suka sama siapa itu hak dia. Kamu atau siapapun enggak bisa maksa hatinya untuk suka sama kamu! Dan jangan asal njeplak bilang Fajar hanya pelampiasan ku, dari dulu kamu juga tahu aku, Fajar dan Jo sahabatan dari kecil." Berucap tenang tapi penuh penekanan di setiap kata yang keluar dari bibir Ndis.


"Kamu tahu Fajar suka sama kamu!! Apa dia enggak pernah bilang hah?? Enggak bilang pun harusnya kamu juga bisa mikir, perhatian dia ke kamu itu beda!! Bukan lagi perhatian antara sesama teman seperti yang kamu bilang tadi!! Bullshit kalau kamu bilang enggak tahu! Biar apa kamu kayak gitu?? Mau dianggap laris? Laku? Dikejar-kejar cowok kayak Fajar,, iyaa???" Neta menggebu-gebu saat meluapkan emosinya.


"Dia itu kiblat hatiku... Hanya dia!! Dan aku sangat enggak rela kamu mainin dia kayak gitu!!" Berteriak lagi, sepertinya teriak-teriak udah jadi hobi Neta.


Ndis agak tertegun sesaat mendengar ucapan Neta. Kiblat hati? Apa lagi itu? Manusia kayak Neta bisa dapet kosakata seperti itu dari mana.. Haiiss!


"Boleh aku kasih saran? Bucin sewajarnya aja, jangan seperti ini. Jika dilakukan tes kejiwaan, aku yakin para psikiater akan meluluskan kamu dengan gelar sebagai orang gila baru bersertifikat SNI!" Ndis berjalan mendekati motornya lagi.


"Kalau Fajar enggak bisa sama aku, aku pastiin kamu juga enggak akan bisa dapetin dia!! Aku akan jadi orang paling bahagia saat kamu patah hati sampai hilang kewarasan karena enggak bisa dapetin cinta Fajar ataupun cinta dari cowok yang sekarang deketin kamu!! Camkan itu!!" Neta.. Berucap itu mok ya yang baik-baik aja, serem tahu enggak pakai ngutuk-ngutuk orang kayak gitu!


"Semoga enggak kebalik ke diri kamu sendiri!"


Ndis langsung menjalankan motornya menjauh dari tempat Neta saat ini.