
Ternyata sedari tadi Beni sibuk mengirim pesan untuk kedua teman lamanya, siapa lagi kalau bukan Parto dan Seno. Kesibukan masing-masing membuat mereka jarang kumpul. Malam ini Beni menyempatkan waktu untuk ngajak kedua sahabatnya itu untuk ngapelin mbok Yun. Si pemilik warung legend di desa Wekaweka.
Terlihat Parto lebih dulu sampai di warung mbok Yun. Hanya menggunakan kaos dan celana denim, penampilannya tidak menunjukan kalau dia adalah bapak beranak dua, di mana kedua anaknya pun telah menginjak dewasa.
"Weh calon bapak mertua," Mata Jo berbinar melihat kedatangan Parto yang masih beberapa langkah jaraknya dari tempatnya duduk.
"Kamu lihat Parto rasa segan mu muncul, lha lihat bapakmu sendiri kok cuek-cuek aja. Anak macam apa kamu ini?" Beni memprotes reaksi berlebihan yang ditunjukkan oleh Jo saat melihat Parto datang.
Fajar bisa tersenyum mendengar kelakuan bapak dan anak yang sama sablengnya itu.
"Assalamualaikum, eh kok ada Jo sama Fajar juga." Parto memilih duduk di dekat Beni.
"Waalaikumsalam pak, iya kebetulan tadi ketemu di sini." Jo dan Fajar menyalami Parto. Yang barusan berkata adalah Jo.
"Udah sana pergi! pada cari tempat mangkal lain aja, jangan di sini! bikin sempit aja." Beni terang-terangan mengusir anaknya dari warung mbok Yun.
"Apa sih Ben, mok ya biarin. Kamu takut ketahuan anakmu kalau mau ketemuan sama mantanmu ya hahaha, ati-ati dimutilasi kamu nyampe rumah!" Parto ngakak.
"Lambemu to To, nanti kalau Jo ngadu ke mamahnya bisa mampos aku. Dikiranya beneran." Ketiga pria beda generasi yang mendengar ucapan Beni.
"Ya udah om, pak.. Aku tak pulang dulu. Agak pusing, nyut-nyutan rasanya kepalaku." Fajar kembali menyalami Parto dan Beni.
"jar... Oe Jar! Kamu kenapa? Pak.. aku mau nyusul Fajar dulu." Kalau yang ini pergi langsung nyelonong tanpa rasa sungkan harus menyalami bapaknya atau Parto terlebih dahulu.
Parto dan Beni hanya diam melihat kepergian kedua anak muda tadi.
"Seno belum dateng?" Tanya Parto celingukan mencari manusia bernama Seno yang sudah sembilan belas tahun menjadi saudara iparnya.
"Belum. Dia kalau diajak ngumpul kan paling susah. Banyak banget alasannya. Yang anaknya rewel enggak mau ditinggal, yang harus jaga rumah, pokoknya macem-macem jurus dia pakai tapi enggak pernah aku dengar dia pakai alasan istrinya kalau enggak bisa kumpul sama kita." Beni kembali menghubungi nomer Seno.
"Bucinnya sama si Indah udah mendarah daging nyampe tua pun kayak gitu. Tapi, aku seneng lah lihatnya.. Dia selalu prioritaskan Indah dan anaknya." Ungkap Parto.
"Kalau itu ya harus To, aku pun selalu prioritasin Virza sama Jo kok."
Terdengar suara motor dengan deru khasnya. Bapak gaul satu ini memang lebih suka menunggangi kuda besi dari pada mobil pribadinya.
"Kangen aja mbok, cuma di sini yang suasanya enggak berubah meski udah puluhan tahun dunia mengalami perubahan." Beni menjawab pertanyaan mbok Yun.
"Kok lama banget kenapa Sen? Digondeli (Digelayuti) Indah terus ya? Hahaha."
"Mana ada Indah kayak gitu, yang ada dia tuh yang enggak mau pergi jauh meski sejengkal jaraknya dari Indah." Beni makin ngakak karena perkataan Parto.
"Hmmmm wes sak bahagiane kowe-kowe wae, aku tak meneng." (Hmmmm udah sebahagia kamu-kamu aja, aku tak diem.)"
Mereka larut dalam obrolan, Seno sesekali terlihat sibuk dengan ponselnya. Sudah bisa dipastikan siapa yang membuat Seno sesibuk itu.
"Masih suka mancing Ben?" Tanya Parto pada Beni tanpa mau mengganggu kesibukan Seno.
"Masih. Pagi mancing, sore mancing, malemnya dengerin ceramah." Beni kembali menyelipkan batang tembakau pada mulutnya.
"Kemajuan! Dulu mana pernah mau diajak ke pengajian. Tambah umur makin lurus jalanmu Ben, mantap lah." Seno manggut-manggut mendengar perkataan Beni barusan.
"Pengajian apa? Dengerin ceramahnya si Virza itu. Bojoku kalau ngamuk nyampe seminggu aku diomelin, pernah alat pancing aku beli mahal-mahal malah dibakar sama dia. Wes, angel pokok'e."
Bukannya prihatin, keduanya malah tertawa tanpa kontrol. Puas sekali rasanya mendengar penderitaan Beni yang sering disiksa Virza seperti itu.
"Lagian kamu juga salah, hobi mu itu lho bikin bojomu tensinya naik terus. Masih mending enggak dituker tambah kamu!" Giliran mbok Yun yang berkomentar. Makin kencang lah Parto dan Seno tertawanya.
"Ya mau gimana mbok, Virza aku ajak mancing enggak mau. Ngajak Jo? Alah bocah iku.. Lebih suka mancing perasaan dari pada mancing ikan. Padahal aku juga enggak sering lho kayak gitu, paling seminggu empat kali aja." Beni berusaha membela diri. Menganggap yang dia lakukan sudah benar. Dan berpikir harusnya Virza yang lebih mengerti hobinya itu.
"Seminggu empat kali kamu bilang enggak sering? Lha kalau jatah malam mu dipangkas jadi setahun cuma dikasih empat kali kamu mau?" Ngakak. Parto dan Seno lagi-lagi tertawa mendengar ucapan mbok Yun.
"Ya ndak gitu juga mbok.. Kelamaan nganggur ndak terjamah bisa jamuran nanti." Protes Beni.
"Tinggal dicacah (dicincang) buat umpan mancing ikan Ben, gitu aja kok susah." Parto menimpali.
"Njiiir.. Ngilu dengernya vang_ke!!"
Malam itu ketiga lelaki legend yang sudah mendahului kisah sukses mendapatkan jodoh masing-masing bernostalgila di warung mbok Yun. Meski banyak kafe dan tempat tongkrongan lain yang sudah menjamur, bagi mereka warung mbok Yun adalah tempat paling berarti dan penting karena dari sana kisah tentang mereka berawal.