
Malam itu di bawah gerimis yang berubah jadi hujan, Ndis merasa ada yang menggerakkan hatinya untuk tetap membiarkan Dewa menggenggam tangannya. Bahkan saat Dewa berpamitan dan mengusap pucuk kepalanya pun dia hanya diam dan mengangguk. Apa itu lampu hijau untuk Dewa?
Di tempat lain, pagi itu Jo sudah mau pulang ke desanya, desa Wekaweka. Bersama dengan Bagas tentunya. Dengan mata membulat dan mulut menganga, hampir saja lalat tak berdosa nyasar ke dalam gua yang dia ciptakan.
"Ono opo Jo?" Tanya Bagas selesai menyisir rambutnya dengan tangan.
"Delok!" (Lihat!). Bagas melihat ponsel yang masih ada di tangan Jo. Beberapa kali Bagas mengedipkan mata, tidak menunjukkan ekspresi kaget yang berlebih seperti yang Jo lakukan tadi.
"Dilamar? Lanjutane piye kui?" (Lanjutannya gimana itu?) Bagas mengambil sendiri ponselnya, bukan ikut membuka aplikasi jejaring sosial seperti Jo, dia malah langsung menekan nomer telepon Lintang. Beberapa saat menunggu, tidak ada jawaban.
"Iki bocah, yahmene sih turu opo yo?!" (Ini bocah, jam segini masih tidur apa ya?!)
Berusaha sekali lagi menelpon nomer Lintang tetap tidak ada jawaban. Akhirnya Bagas manyun, menebak dan mengira-ngira sendiri kelanjutan video yang dia lihat di ponsel Jo tadi.
"Fajar udah tahu?" Tanya Bagas kepada Jo.
Jo menggeleng kepala pelan. Dari bilik kamar mandi kecil, Fajar muncul dengan muka biasa aja. Masih sama kek biasanya. Bedanya dia udah mandi!
"Ada apa? Kenapa muka kelian aneh gitu?" Tegur Fajar melemparkan handuk kecil ke arah Bagas. Bagas serta merta menangkap handuk itu dan balik melempar kepada Jo. Jo diem aja. Bodo amat dengan lemparan handuk dari Bagas tadi.
"Jar.. Ah udah lah bingung aku mau ngomongnya, lihat sendiri aja. Nih.." Jo menyerahkan ponselnya. Menunjukkan video yang berhasil membuat mata Fajar melebar sempurna. Diposting semalem. Ya Allah cobaan apa ini, saat dia masih mikir mau pulang kasih surprise malah dia yang dikejutkan duluan dengan video yang di posting Lintang di akun ig nya.
Segera dia raih ponsel di atas kasur yang tadi digletakan seperti benda tak berguna. Bukan Lintang, dia menghubungi Ndis tentunya. Menunggu meski hanya beberapa detik hanya untuk mendapat jawaban dari telepon Ndis saat ini tuh terasa begitu lama. Lama sekali.
'Assalamualaikum.. Iya Jar,' Di seberang sana terdengar mengucapkan salam.
'Waalaikumsalam, Ndis..'
Diam. Fajar terdiam, tenggorokannya terasa kering.
'Iya. Kenapa? Jo sama Bagas udah balik dari sana ya? Bilangin mereka suruh hati-hati ya.' Suara itu mendayu, merasuk kalbu, menikam jantung saat hanya anggukan tanpa Ndis bisa melihat Fajar mengangguk itu untuk apa. Lebay thor lebay... Ya mben!
'Iya. Ndis.. Semalem.. Tadi malem kamu ada acara khusus?'
Bagas dan Jo ikut mendengarkan dan menunggu jawaban dari Ndis. Sejenak terjadi keheningan. Terdengar samar-samar suara Lintang memanggil-manggil kakaknya.
What?? Dia bilang iya, Oh my.. Nyemplung aja ke sumur punya pak haji Udin Jar! Ajor Jar ajooor!!
'Lalu..' Enggak kuasa meneruskan pertanyaan. Hanya kata itu yang keluar dari bibirnya.
'Mas Dewa ngasih aku cincin.' Hanya itu yang Ndis ucapkan. Udah lima belas detik menunggu tapi tidak ada kelanjutan dari kalimat Ndis tadi.
'Oowh gitu ya.. Ya udah ya Ndis, aku mau anter Bagas sama Jo dulu. Mereka pamit mau pulang pagi ini, kamu jaga kesehatan di sana ya,'
Ndis.. aku sayang kamu.. Hatiku sakit denger kamu dapet cincin dari cowok lain Ndis. Tapi, aku bisa apa? Aku udah ungkapin perasaanku ke kamu, berjanji akan kembali hanya untukmu, tapi sepertinya.. Kamu enggak lagi butuh aku..
Rintihan hati Fajar. Setelah telepon dimatikan, dia tidak lagi membahas tentang perbincangannya di telepon tadi dengan kedua sohibnya.
Bagas dan Jo saling menatap, mereka tahu saat ini Fajar sedang terserang patah hati, jantung, empedu dan segala jenis jeroan lainnya ikut krek. Kesian sekali kamu Jar... Kisahmu harus berakhir bahkan sebelum dimulai.
"Bali sesok ae Jo, sakno kui Fajar. Wedi aku nek dekne nenggak karbol rasa stroberi." (Pulang besok aja Jo, kesian itu Fajar. Takut aku kalau dia nenggak karbol rasa stroberi.)
Bagas menyarankan. Jo manggut-manggut aja. Fajar duduk diam setelah memakai baju untuk badannya. Dia masih enggak percaya, saat ini dia kalah start!
Bukan.. bukan kalah start, dia lebih dulu mengungkapkan perasaannya. Ndis juga udah tahu jika dia suka, dia sayang dan sangat mengagumi gadis itu. Lalu apa masalahnya di sini? Apa pesona Dewa sangat bersinar seperti piring kinclong yang abis di cuci dengan sabun cuci piring wangi lemon seperti iklan di tipi-tipi itu?
Apa yang udah dilakukan Dewa dan dia enggak lakukan untuk Ndis? Perhatian? Waktu? Kasih sayang? Apa.. Apa yang salah?
Fajar masih diam dengan berjuta pikiran bergelut di otaknya.
"Jar.. Masih ada kami, jangan diem aja gitu." Jo menepuk punggung Fajar.
"Lha iyo.. Jar, Kamu di sini untuk mengejar cita-citamu jangan sampai masalah ini mengganggu konsentrasi mu ke depannya. Jar.. Gunakan akal dan logika mu di sini Jar." Bagas yang sebenarnya adalah sepupu Ndis malah menyemangati Fajar agar tidak terpuruk karena hatinya yang morat-marit karena ulah sepupunya itu.
"Aku enggak apa-apa.. Tenang aja.." Ucap Fajar lirih.
Jo dan Bagas tahu, enggak apa-apa yang dimaksud Fajar adalah remuk ajur udah tak berbentuk lagi itu hati.