
Hari masih siang, jam 13.45 tapi Dewa sudah ada di rumah Ndis. Setelah kepulangan Rama dengan sedikit drama mengusir sahabatnya itu, Dewa bergegas ke rumah Ndis. Dan di sinilah mereka sekarang, di ruang tamu keluarga bapak Parto.
"Mas, aku terserah Ndis aja. Restuku sudah turun sewaktu kelian mantab bertukar cincin dulu. Tapi, jujur saja aku lebih senang jika pernikahan kelian disegerakan. Dulu.. Aku sama ibunya Ndis menikah dua bulan setelah dia resmi aku lamar. Aku terlalu takut kehilangan ibunya Ndis hahaha" Tawa pak Parto mendapatkan senyuman dari ibu Shela yang baru saja datang dari dapur setelah membantu Ndis membuat kue.
"Dek.. Ndis mana? Ini mas Dewa mau ngajak ngomong serius." Tanya pak Parto kepada istrinya.
"Masih di dapur mas, sebentar lagi juga keluar." Bu Shela tetap terlihat cantik dan makin bersahaja, padahal dulu sewaktu masih muda, dia pernah mendapat julukan nini kunti oleh pak Beni dan pak Seno, yang tak lain adalah sahabat merangkap ipar dari pak Parto.
Yang ditunggu datang, Ndis membawa nampan berisi beberapa piring kue buatannya dan ibundanya tadi sebelum Dewa tiba di rumahnya. Disusul Lintang yang membawa nampan berisi minuman. Lintang yang tahu ini bukan area dia untuk nimbrung segera kembali ke kamarnya untuk melakukan ritual jadi tukang pijit! Mijitin hape!
"Insya Allah aku siap mas." Ndis berkata dengan mantap tanpa terbata atau menunduk tanda malu-malu kucing.
"Alhamdulillah ya Allah." Dewa langsung mengucap syukur saat Ndis bersedia untuk segera dia halalkan. Berbagai kata telah dia siapkan untuk meluluhkan hati Ndis, tak lupa dia terus berdoa dalam hati agar niatnya untuk segera mempersunting Ndis diijabah Allah SWT. Dan akhirnya semua terjawab, Ndis menerima dia untuk menjadi suaminya.
Mendapatkan jawaban yang memuaskan jiwa dan raganya, Dewa ingin segera pulang untuk memberi kabar kepada orang tuanya, siapa lagi kalau bukan mbah dan buleknya.
"Hmm mas.. Mau pulang sekarang?" Tanya Ndis yang mengantar Dewa sampai depan rumah.
"Iya dek, kenapa? Mbah sama bulek harus tahu, agar mereka segera ke sini untuk menentukan tanggal pernikahan kita." Tukas Dewa.
"Aku pengen jalan.. Sama kamu, hmm enggak mau ya?" Penuturan Ndis membuat Dewa tercengang. Enggak biasanya Ndis ngajak dia healing duluan, biasanya meski diajak Ndis lebih suka ngetem di tokonya atau di bawah pohon rambutan legend depan rumahnya.
"Oke ayo! Kamu mau ke mana?" Mana bisa Dewa menolak permintaan sang pujaan hati.
"Hmm yang penting sama kamu.." Mulai deh bucin nya! Senyum terus berkembang, hati Dewa seakan ditumbuhi berbagai jenis bunga kecuali bunga raflesia arnoldi!
Setelah meminta ijin kepada kedua orang tua Ndis untuk mengajak Ndis jalan bersamanya, Dewa langsung membawa Ndis ke pantai yang berjarak lumayan jauh dari desa mereka. Mayan bikin boyok pegel karena dua jam lebih Ndis bonceng motor model nung_ging itu.
"Bentar lagi dek, kamu pasti suka tempatnya." Sama Dewa pun membuka kaca helmnya agar suaranya terdengar oleh Dek pacar.
Sampai.. Ndis terpukau dengan hamparan pasir putih yang menyambutnya.
"MasyaAllah mas.. Ini indah banget." Ndis langsung berlari kecil menuju pantai yang berpasir putih itu. Dewa senang perjalanan lumayan jauh itu bisa menciptakan senyum untuk Ndis.
"Putihnya pasir ini enggak seputih hatimu yang tulus nerima aku, aku yang bukan siapa-siapa ini.. Aku enggak mau nyamain luasnya lautan ini seperti luasnya rasa sayang ku ke kamu karena jelas antara laut dan perasaanku itu jauh berbeda. Laut ini bisa dinikmati siapa saja sedangkan hatiku hanya untuk kamu seorang." Dueeer.. seperti terjadi ledakan kembang api tahun baru di hati Ndis, Ndis tak bisa menahan kegembiraannya. Jelas, Ndis selalu merasa sapisial (spesial) saat bersama Dewa.
"Mas.." Panggil Ndis saat lelaki itu masih menatapnya lekat. Dewa mendekat, meraih jemari lembut Ndis.
"Dalem calon bidadari surgaku.."
"Aku sayang kamu. Aku sayang banget sama kamu, apa aku pernah bilang itu?" Dewa langsung merengkuh tubuh kecil Ndis ke dalam pelukannya. Woeeeeii tempat umum itu!
"Bilang sekali lagi.." Dewa melepas pelukannya.
"Aku say-" Belum sempat Ndis melanjutkan kalimatnya, bibirnya telah terkunci oleh anunya Dewa. Bibir dewa bergerak perlahan tanpa menuntut. Ndis terkejut, seperti tersengat ubur-ubur di dasar laut. Ada sensasi trecep-trecepnya!
"Mas..." Ndis sedikit mendorong Dewa.
"Maaf dek.. Aku enggak akan ulangi itu tanpa ijin mu." Dewa mengusap bibir Ndis pelan. Membuat si pemilik bibir ngeblush menahan malu. Jantungnya berdetak keras, dia sampai takut bakal terkena serangan jantung karena ciuman yang Dewa berikan tadi.