Angel!!

Angel!!
Bab 40. Hujan



Beberapa hari di rawat di puskesmas, akhirnya Ndis diperbolehkan pulang. Masih harus berobat jalan dan istirahat, itu yang disarankan dokter agar kondisi Ndis bisa cepat pulih seperti sedia kala. Lho emang belum sembuh benar apa? Ya belum, mana ada orang kecelakaan sembuhnya instan?!


"Mbak." Bagas memanggil Ndis yang baru duduk di ruang tamu dibantu Lintang.


Ndis melihat ke arah Bagas seperti bertanya 'opo?'.


"Neta sing gawe awakmu ngene ki to?" (Neta yang bikin kamu kek gini to?)


"Mbuh Gas, tapi sak kelebatan roh dekne lewat bar aku tibo." (Enggak tahu Gas, tapi sekilas lihat dia lewat setelah aku jatuh.)


Dan lagi, pembicaraan berbau detektif terjadi lagi. Lintang, Jo dan Bagas saling melempar asumsi mereka masing-masing. Sedangkan Ndis hanya diam. Terasa ada yang kurang di sini. Fajar yang tidak ada di tengah-tengah mereka, sedikit memunculkan rasa rindu untuk Ndis. Hah, sedikit? Iya.. Karena yang banyak itu hanya rinduku ke kamu hahahaha. Othor tertular pirus enggak jelas!


"Assalamualaikum," Salam dari Dewa mengacaukan kekhusyukan obrolan mereka berempat. Bertiga sih lebih tepatnya. Yang satu kayak patung, diem dan bagian ngaminin (aamiin'n) aja dia.


"Waalaikumsalam.. Pak Dewa," Lintang menyambut girang kedatangan gurunya yang memang sudah dia tunggu dari tadi. Ada konspirasi apa ini wahai anak kuda?


"Pak tua itu lagi.." Jo memandang malas.


"Sopo Jo?" Bisik Bagas pada Jo.


"Gurune Lintang, saingane Fajar, musohku soale aku oda seneng dekne!" (Gurunya Lintang, saingannya Fajar, musuhku karena aku enggak suka dia!)


"Wah wong siji kok gelare akeh men Jo hahaha." (Wah satu orang kok gelarnya banyak banget Jo hahaha.)


"Kelian berisik tahu enggak! Ayo ke depan aja. Beli es cendol. Udah ada pak Dewa yang nemenin mbak kok." Lintang menarik tangan Bagas dan Jo bersamaan. Keduanya manut (patuh) aja diperlakukan seperti itu sama Lintang.


"Gerimis gini Lin, ngapain juga mau nyendol dawet? Mending cari yang anget-anget aja." Suara Jo memprotes tapi tetap mengikuti kemauan Lintang.


Akhirnya mereka bertiga pergi juga, entah kemana yang nulis pun tak tahu.


"Udah baikan?" Tanya Dewa memperhatikan muka Ndis yang masih tampak pucat.


"Iya." Jawab Ndis singkat.


Jedeeeeeerrrrr. Suara petir mengagetkan keduanya. Hujan. Jangan protes bunyi petirnya, enggak menerima protes!


"Apa kedatanganku ke sini salah timing? Kok diem aja dari tadi." Berucap setelah beberapa menit tidak ada obrolan apapun.


Ndis sadar dia terlalu cuek, tapi dia juga tidak bisa pura-pura beramah tamah kepada orang jika hatinya sedang sinkron dengan cuaca saat ini. Hujan deras ditambah iringan suara petir menjadikan suasana agak horor. Horor? Bukannya romantis? Cuma drama di tipi-tipi yang ngasih kesan kalau hujan petir itu romantis! Di dunia nyata, cuaca seperti itu sungguh sangat medeni gaess! (nakutin gaess!)


Kemana bapak Parto dan ibu Shela? Ada di rumah tapi, mereka tahu harus memberi waktu untuk para muda-mudi itu. Karena mereka juga pernah muda. Sangat tidak nyaman saat kegiatan pedekate malah ditemani para sesepuh.


"Tadi udah makan?" Dewa tetap bersabar melakukan pendekatan.


"Udah."


"Udah minum obat?"


"Huum."


"Enggak ada."


"Kamu lupa, ada aku yang selalu siap jadi obat untuk hatimu. Cuek mu ini karena di dalam sana terasa seperti kutub Utara, dingin belum disinggahi siapapun." Pede sekali anda pak guru.


"Mungkin kamu kurang membaca. Aku kasih tahu, kalau kutub Utara punya penduduk asli bernama suku Eskimo. Jadi kalimat mu tadi salah kaprah."


Dewa tersenyum. Baru juga mau ngegombal malah terlihat seperti orang bodoh di depan gebetan.


"Ndis," Panggil Dewa dengan raut muka serius. Ndis menoleh tanpa menjawab.


"Aku suka kamu. Mungkin sudah naik level jadi sayang. Atau malah upgrade lagi jadi cinta. Aku sendiri enggak tahu gimana bisa namamu nyantol di hatiku."


Hujan kali ini seperti memberi keberanian kepada Dewa untuk menyatakan perasaannya.


"Kamu anggap aku jemuran? Nyantol.. Bahasamu kenapa seperti itu?" Ndis sedikit menarik ujung bibirnya.


"Mau gimana lagi, aku hanya ingin jujur tentang apa yang aku rasakan ke kamu."


Dan akhirnya suasana yang tadinya sedingin es kiko bisa menghangat seperti skuteng. Hujan memang membawa berkah. Itu yang dirasakan Dewa saat ini. Senyum di wajah Ndis saat mendengar dia bercerita mampu menciptakan kilatan di hatinya.


Apa Ndis menerima pernyataan cinta Dewa? Enggak. Dia tidak memberi jawaban. Dia bahkan belum merasakan getaran apapun saat bersama dengan Dewa.


"Aku pulang dulu ya, aku cuma mau memastikan kamu baik-baik aja. Meski sebenarnya aku yang enggak baik-baik aja saat jauh dari kamu." Wes angel!!


Dewa menaruh kotak persegi panjang di meja. "Buat kamu." Imbuhnya.


"Mas Dewa.. Berapa mantanmu?" Ndis bertanya sambil tersenyum. Tanpa memperhatikan buah tangan yang dibawakan Dewa untuknya.


"Aku bukan orang yang suka mengingat jumlah mantan. Tapi, jika kamu menyuruhku mengingatmu tiap waktu.. Enggak akan ada penolakan atau perintah dua kali darimu... Aku pasti melakukannya." Ya salam.. Pak guru! Bucinmu bikin Pio mau muntah rasanya.


Kali ini Ndis tertawa.


"Kamu ini muridnya Deni Cagur ya? Pinter banget ngegombal."


"Pulang dulu ya,, Kamu cepet sehat biar nanti pas aku ke sini lagi enggak sendiri." Dewa bangun dari duduknya.


"Hah?" Ndis enggak ngerti.


"Kalau kamu udah sehat, aku bisa ngelamar kamu dan bawa orang tuaku ke sini untuk menjadikan kamu halal untukku."


Spontan ucapan Dewa membuat segaris senyum lagi di wajah Ndis. Jangan percaya sama gombalan om-om Ndis, mereka itu tipe garangan yang udah master dalam dunia percintaan.


✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨