
Demi kesejahteraan hati dan keselamatan hubungan antara dia dan Meica, Fajar tidak menunggu seminggu lagi untuk datang ke tempat Meica.
Harusnya dari awal dia melakukan tindakan ini. Selalu menunda-nunda sesuatu yang baik akan membuat dia tidak mendapatkan apapun pada akhirnya.
Dengan berbekal keyakinan dan keinginan untuk memperbaiki serta mempertahankan hubungannya dengan Meica, Fajar segera memacu kendaraannya di tengah keramaian jalan.
'Kesalahan mu hanya satu. Kamu enggak sadar kalau melakukan kesalahan. Itu aja sih.' Kembali Fajar teringat ucapan Bagas. Temennya itu kalau udah ngomong pedihnya nyampe ulu hati. Tapi, memang benar sih. Fajar sering enggak sadar saat dia melakukan kesalahan, saat dia menyesal di situ kesadarannya baru balik pada tempatnya.
-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-
"Udah kamu di mobil aja. Aku enggak suka kamu deket-deket aku." Neta keluar dari mobil Rama.
"Enggak usah ngatur! Aku pacarmu, bukan babu mu!" Rama tak peduli dengan hentakan kaki Neta saat Rama ngeyel ikut turun dari mobil.
"Ngapain ke sini?" Rama melihat malas saat tempat yang di tuju Neta adalah tempat nongkrong Fajar.
Maksud hati ingin membuat Rama cemburu dan buru-buru minggat dari kehidupannya, dia malah dihadapkan dengan kenyataan bahwa cowok yang dituju enggak ada di tempat nongkrong. Tempat itu ramai tapi, enggak ada Fajar di sana.
"Udah sih enggak usah berisik!" Neta menemukan mainan baru. Dia melihat Ndis lagi sama Bagas. Langkahnya cepat ingin segera mengganggu makhluk yang baru berjarak beberapa meter darinya aja udah membuat dia bete.
"Mau apa lagi dia itu... Haiish" Ucap Rama yang tahu tujuan Neta adalah Ndis.
"Kamu kok di sini? Bukannya harusnya kamu nyiapin pengajian buat cowokmu yang baru mati itu ya?" Langsung membuat kuping Ndis panas. Bagas menyipitkan matanya. Pandangan malas langsung tertuju pada Neta. Bagas sangat tidak suka dengan manusia bernama Neta ini.
"Punya mulut dijaga. Jangan mentang-mentang aku selalu diem kamu bisa seenaknya asal njeplak!" Ndis berdiri mendekati Neta. Neta tersenyum sambil mencibir, dia tak takut sama sekali dengan Ndis. Dari awal dia paling benci dengan sosok yang dianggap sok lemah, sok alim, sok bijak dan sok-sok yang lain itu. Sepertinya akan terjadi adu mulut dalam arti yang sesungguhnya.
"Emang kenapa? Mulut mulutku ini, mau aku ngomong apapun suka-suka ku lah." Mengibaskan rambutnya yang sekarang di model curly.
"Asal kamu tahu..yang kamu ucapkan dan lakukan dicatat oleh malaikat di kanan dan kiri mu, hati-hati kalau ngomong. Oowh lupa, mungkin yang ada di sisimu bukan malaikat tapi jin, demit, jurig atau sejenisnya. Makanya bentukan mu jadi kayak gini. Tingkah laku mu liar tak terkontrol. Wajar sih wajar.." Mendengar celoteh Ndis, Rama yang awalnya ada di samping Neta langsung beralih ke samping Bagas. Bagas tertawa melihat kelakuan Rama. Apa mereka saling kenal? Tentu aja.
"Takut dikata cosplay jadi demit bro?" Tanya Bagas cekikikan. Rama hanya diem aja. Masih fokus dengan debat terbuka yang sedang berlangsung.
"Kamu nanyaeek?" Ndis sudah jengah tiap kali bertemu Neta, gadis itu selalu menghujaninya dengan kata-kata nyelekit. Kali ini dia enggak mau diam. Ndis akan melawan apapun yang Neta kicaukan.
Mata Neta melotot. "Enggak usah sok gaul kamu ya! Makin benci aku sama kamu."
"Masa? Kok aku enggak peduli!" Ndis tersenyum sinis.
Tak ingin keributan makin menjadi, Bagas berusaha menengahi mereka.
"Yok udah yok drama nini kunti dan nimas ayu nya udahan, bubar aja bubar.. Kelian enggak malu dilihatin orang apa? Mending saling berpelukan kayak teletabis. Lebih baik punya banyak temen daripada banyak musuh ya to?" Bagas sok bijak on.
"Enggak!" Dijawab Neta dan Ndis bersamaan.
"Nah itu kelian udah kompak, udah lah Net.. Apa sih yang enggak kamu demenin dari Gendis? Toh sekarang kamu udah punya aku, Gendis juga punya Dewa. Enggak ada lagi alasan kelian untuk terus musuhan. Beda cerita kalau kelian sekarang rebutin aku sih hahaha" Giliran Rama yang mode gaje!
"Denger ya kelian semua, mau sampai rambut dia memutih dan keriput kulit di tubuhnya.. enggak akan pernah aku mau damai sama dia!"
"Tunggu.. Kelian jadian?" Ndis menautkan alisnya.
"Huum" Kata Rama.
"Enggak!" Ucap Neta cepat.
Benaran tak kompak. Neta langsung menatap tajam ke arah Rama, 'Awas kau Ram, abis kau abis ini!' Mungkin itulah yang Neta pikiran saat melihat Rama senyum tanpa dosa.
"Wah bro tipe mu kok horor ya, atau kamu udah putus asa karena enggak ada cewek lain selain dia yang ada di sekitarmu? Mau aku kenalin sama jajaran cewek-cewek kece kenalan ku? Aku kok miris sama nasibmu bro.. Takut kamu kena tekanan darah tinggi atau lemah jantung kalau terus-terusan sama dia. Kamu enggak tekanan batin punya pacar dia bro?"
Bukannya marah, Rama malah ngakak karena ucapan Bagas. Sedangkan Neta yang tidak menemukan apa yang dia cari dan merasa diolok-olok jika terus bersama Rama, akhirnya hengkang melangkahkan kaki meninggalkan tempat itu tanpa memperdulikan suara Rama yang terus memanggilnya.