
Beberapa hari ini Dewa disibukkan dengan kegiatan ekstrakurikuler yang lumayan menyita waktunya. Jadwal untuk bertemu dengan Ndis menjadi berkurang, hanya sesekali Dewa mengirimkan pesan menanyakan kabar gadis manis itu, sebagai bentuk perhatiannya untuk Ndis.
Tak lupa dia juga menitipkan salam yang tidak gratis untuk Ndis kepada Lintang. Tidak gratis? Tentu saja, setiap kali Dewa minta tolong disampaikan salamnya untuk Ndis, Lintang selalu diberi jatah jajan dari pak gurunya. Lintang sih happy-happy aja, lha wong dikasih kok. Dia enggak minta. Lagian di dunia ini mana ada yang gratis kisanak? Jangan jawab kentut itu gratis, ku santet kelian!!
"Pak Dewa nanti jadi ke rumah?" Tanya Lintang saat sudah berada di depan gerbang sekolah.
"Diusahakan ya." Ucap Dewa sambil tersenyum kepada muridnya yang hilir mudik menyapanya.
"Lin, ayo!" Teriak Jo mengagetkan Lintang,
"Lho kok mas Jo yang jemput, bapak mana? Mbak mana?"
"Bapak sibuk. Bengkelnya ramai. Ndis jalan sama Fajar, enggak tahu kapan pulangnya. Ayok lah. Panas ini." Jo sengaja mengatakan hal demikian agar Dewa merasakan panasnya api cemburu. Tapi, yang terjadi Dewa malah membalas ucapan Jo dengan senyuman aja.
"Hati-hati nganter calon adik iparku pulang, jangan ngebut." Pesan Dewa untuk Jo.
Jo melengos. Pinter banget sih pak tua itu ngomongnya, aku yakin dia itu sodara jauhnya Neta. Kalau ngomong jleb banget. Pikir Jo. Tanpa memperdulikan perkataan Dewa tadi.
"Pak Dewa, aku pulang dulu ya. dadaaaah, assalamualaikum pak.." Lintang melambaikan tangan ke arah gurunya, dibalas dengan senyum ramah dan anggukan kepala oleh Dewa.
"Kamu apa sih Lin, enggak usah pamer dadaah dadaaah gitu ngapa? Nanti kalau guru mu itu naksir kamu kepiye lho, enggak punya saingan aja aku pusingnya kayak gini apalagi mok kasih saingan... Bisa keriting rambut ku mikirin kamu." Berkata setelah jauh meninggalkan Dewa di depan gerbang sekolah.
"Pamer dada apa mas? Mas Jo aneh deh?! Gaje tahu enggak.. Orang aku enggak ngapa-ngapain kok dikata pamer dada! Jangan nyebelin deh!!" Tiba-tiba suasana hatinya memburuk karena oleh kata Jo yang enggak karuan.
"Bukan gitu dedekku, manjaku, maniskuuuu,,, iya iya aku minta maaf.." Salah lagi kan aku! Gara-gara pak tua itu, Lintang ngambek sama aku.
✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨
Kembali ke dalam ruang kerjanya, perhatian Dewa teralihkan oleh ponselnya yang bergetar beberapa kali. Dia mengambil ponsel itu, dilihatnya manusia mana yang menghubunginya.
"Ya bro, ada apa?" Setelah mendengar apa maksud si penelepon, Dewa hanya iya-iya saja. Setelah sambungan terputus, Dewa segera bergerak keluar ruangan untuk menuju tempat parkir. Dia lebih mementingkan sahabat yang butuh dirinya dari pada kerjaan yang enggak kelar-kelar itu.
Tiga puluh menit mengendarai motor menembus jalanan, Dewa sampai di tempat yang dia tuju. Di sana sudah ada Rama. Dewa menghampiri Rama yang melihatnya dengan muka datar.
"Hmmmm... Muka mu itu udah kayak jemuran kering yang belum disetrika. Kucel banget." Dewa duduk di kursi yang ada di depan Rama.
"Aku nyerah lah Dew," Ucap Rama pada Dewa yang menanggapi dengan eseman saja.
"Emang susah banget dapetin gebetanmu itu nyampe kamu nyerah sekarang?" Tanya Dewa penasaran.
"Dua tahun bukan waktu yang singkat Dew, apa yang enggak aku lakuin buat dia? Semua yang kamu saranin udah aku praktekin , tapi ya itu.. Dia enggak melirik sama sekali ke arahku. Dia masih aja nguber-nguber cowok brengsek yang jelas enggak anggap dia ada."
Rama mulai bercerita. Cowok juga butuh tempat anu gaess. Enggak cewek aja, waktu mereka down para cowok juga akan mencari sahabatnya untuk berbagi kebapukan haqiqi yang melanda hati.
"Ya udah. Mundur teratur aja. Mau tetap maju pun sia-sia. Bukan kamu yang dia mau. Lepaskan, ikhlaskan, enggak usah buru-buru cari yang baru. Hati bukan karung goni yang dengan mudah masuk keluarin orang begitu aja." Dewa santai saat memberi nasehat kepada Rama.
"Haaaaah.. iya lah Dew." Membenarkan ucapan sohibnya.
"Kamu lebih cocok jadi pakar percintaan Dew daripada jadi guru, enggak malu sama umur? Dua puluh sembilan tahun masih lajang, saat orang lain jalan gendong anaknya, kamu masih jalan gendong beban hidup."
"Ngaca lah kamu saat ngomong gitu, aku sih enggak buru-buru. Lagian jodohku udah di depan mata kok. Tinggal tak senggol dikit juga langsung menuju KUA." Dewa tersenyum mengingat bayangan wajah ayu Gendis.
"Ke KUA ngapain? Mulung botol akua? Enggak usah menghalu kejauhan, jalan sama cewek aja enggak pernah sok-sokan bilang mau ke KUA!" Rama mengira Dewa sedang bercanda saat ini.
"Tunggu aja tanggal mainnya. Kamu orang pertama yang aku kasih undangan pernikahanku nanti!" Ucap Dewa sangat yakin bisa mendapatkan Gendis.
Rama mulai menebak siapa cewek yang bisa meluluhkan hati Dewa. Selama ini Dewa jarang membicarakan kedekatannya dengan wanita, tahu-tahu bilang dengan sangat pede akan segera menuju pelaminan.