
Masih di hari yang sama.
Dengan segala kegondokan yang ditinggalkan Neta untuknya, Ndis mencoba bersikap biasa saja di depan karyawannya. Beberapa pertanyaan dari mbak karyawan dijawab Ndis dengan tersenyum saja. Menandakan dia benar-benar malas membahas kejadian tadi waktu Neta mencak-mencak di tokonya.
Seorang lelaki terlihat sudah dewasa memasuki toko Ndis, melihat etalase yang memamerkan berbagai jenis, bentuk dan rasa dari kue yang di jual. Pandangannya teralih pada daftar menu yang ada di papan tulis yang sengaja di letakkan menghadap pintu masuk. Hal itu jelas bertujuan untuk menarik minat pengunjung yang datang.
"Mbak nama menu di sini kok lucu-lucu ya," Lelaki itu tertarik pada menu makanan yang sengaja dibuat seunik mungkin oleh sang pemilik.
"Iya mas, ini daftar menu kami lebih lengkapnya." Mbak karyawan menyerahkan buku menu kepada lelaki tersebut. Senyum merekah pada wajah si mas setelah mengamati semua daftar menu yang tersedia.
"Nasi goreng gimbal? Rica-rica bebek menjerit? Rawon anak setan? Hahaha.. Kok aku jadi penasaran sama semua menu di sini. Hmm mbak aku pesen semua menu spesial di sini. Minumnya juga ya." Ucap lelaki itu membuat si mbak berbinar. Si mbak karyawan bergegas menulis semua pesanan masnya dan menyerahkan bagian masak-memasak ke dapur.
Sambil menunggu, si mas menelpon temannya untuk datang ke tempat yang sekarang dia patenkan menjadi tempat favoritnya.
"Mbak.. Sambil nunggu pesananku siap, boleh buatin kopi hitam tanpa gula?" Si mas melambaikan tangan pada Ndis kali ini.
Ndis mendekati si mas guna menanyakan detail pesanannya. Tatapan mata Ndis membuat si mas terdiam.
"Maaf pak, bapak mau pesan kopi hitam tanpa gula?" Tanya Ndis dengan ramah. Meski tanpa senyum saat menanyakan pertanyaan itu, tapi dia tetap terlihat manis.
"Iya." Jawab si mas singkat. Ndis berlalu pergi setelah mengangguk paham dengan pesanan dari pelanggan pertamanya hari ini.
Setelah lima belas menit, semua makanan si mas sudah ada di depan meja. Bersamaan dengan itu, teman si mas datang. Langsung menuju meja yang dia lihat ada temannya dan juga di sana sudah tersedia berbagai olahan makanan yang siap memanjakan perut mereka.
"Weeeh Ram.. Mau pesta? Gila kamu maruk amat. Segini banyak makanan mau kamu embat sendiri, yakin kuat itu perutmu?" Dewa. Teman yang dihubungi si mas itu adalah Dewa. Dan mas mas yang sok misterius tadi adalah Rama.
"Makanya aku minta kamu ke sini, bantuin abisin sini. Eh Dew.. Yang kerja di sini cantik banget, gila.. Kek artis tahu enggak tuh cewek!" Mereka melanjutkan ngobrol. Dewa hanya tertawa aja menanggapi omongan Rama.
"Kamu sapi dikasih gincu sama dikepang ekornya juga mok bilang cantik Ram.."
Menyisir seluruh isi ruangan, mata Dewa menemukan sesuatu pemandangan yang mampu membuatnya terpaku. Ndis, dia melihat Ndis sedang menyeka keringat di lehernya. Terlihat aaah untuk Dewa.
Tanpa dikomando, Dewa langsung bergerak menghampiri Ndis. Rama yang masih asyik menikmati makanan dan membuat mulutnya penuh, tidak bisa menegur temannya itu. Meski dia kepo dan ingin menanyakan kemana Dewa akan pergi tapi, dengan mulut penuh seperti itu Rama hanya bisa mengikuti dengan ekor matanya saja.
"Hai.." Dewa menyapa Ndis.
Ndis mendongak, anggukan ringan menjadi jawaban dari sapaan Dewa untuknya.
"Kamu kerja di sini? Tahu gitu tiap hari aku ke sini aja buat ngapelin kamu." Mode garangan on!
"Iya aku kerja di sini. Mau pesan apa?"
"Kamu ini kenapa jarang banget senyum. Padahal saat kamu tersenyum matahari aja langsung menyeret awan untuk menutupi dirinya karena malu melihat pesona mu," Angel!!
"Aaaiih.. kamu ini susah banget diajak bercanda. Iya udah aku pesen nasi goreng tanpa hati aja! Karena hatiku udah tertambat sama kamu."
"Enggak ada menu kayak gitu. Tuh dipanggil temenmu." Melihat ke arah Rama yang melambaikan tangan ke arah Dewa.
"Biarin aja. Aku lebih suka sama kamu di sini," Masih dengan jurus rayuan seribu, Dewa tak gentar dengan segala sifat dingin yang Ndis alamat kan untuknya. Seperti peribahasa berakit-rakit ke hulu berenang-renang ke tepian, sakitnya kerasa melulu, pas seneng enggak kebagian!
Rama kepo akut dengan sosok yang sedari tadi diajak ngobrol oleh Dewa. Pasalnya gadis itu juga yang bisa membuatnya terpaku hanya dengan sorot matanya saja. Tanpa memperdulikan makanan yang belum habis di mejanya, Rama segera berjalan menghampiri Dewa.
"Kok malah ke sini Dew, aku ngajak kamu ke sini buat makan bukan mepetin si mbak manis ini." Eleh padune (padahal) dia sendiri juga kepo sama Ndis!
Dewa mengajak Ndis menuju meja yang Rama pesan. Awalnya dia keberatan, mengaku hanya karyawan di sana dan tidak enak jika mengabaikan pekerjaan. Tapi, akhirnya rasa segan itu muncul setelah Dewa terus-menerus memintanya untuk bergabung dengan dirinya dan Rama meski hanya sebentar saja.
Sambil menikmati hidangan, Rama sesekali mencuri pandang pada Ndis. Sekilas Dewa memperhatikan gerakan mata Rama. Tahu jika temannya itu pasti penasaran dengan gadis yang dia ajak ngobrol bersamanya.
Banyaknya pembeli yang datang, membuat Ndis memutuskan mengakhiri sesi beramah tamah dengan kedua lelaki yang masih memperhatikan gerak-geriknya.
"Jaga itu mata Ram! Dia punyaku!" Dewa langsung mendeklarasikan jika Ndis punyanya.
"Punyamu? Pacarmu? Sejak kapan?" Rama agak kaget.
"Belum.. Belum pacaran aku mau langsung lamar dia aja. Menjaga dia dari orang-orang kayak kamu. Aku tahu dari tadi kamu merhatiin dia mulu Ram." Tegas Dewa.
"Dia cewek yang kamu sering ceritakan itu? Aaah Dew.. baru juga mau kepo sama dia.." Kekecewaan itu terpampang nyata saat Dewa berkata demikian.
"Tapi Dew, dia kok lempeng-lempeng aja gitu. Jangan-jangan cuma kamu yang suka sama dia, dianya enggak?!" Rama sedikit menyunggingkan senyum jahil.
"Belum Ram belum.. Belum bukan berarti dia enggak suka. Mungkin dia masih menilai sejauh mana keseriusanku. Jujur aja dia bikin aku sudah berpaling, padahal sikapnya cuek banget gitu." Curhat mas?
"Kenapa kisah kita hampir sama.. aku dua tahun ngejar-ngejar cewek, enggak dianggap, enggak dihargai, enggak peduli dia sama apapun yang aku lakukan untuknya. Gara-gara cowok rese, sengak dan sok cool yang dia incer dari dia masih di kandungan emaknya! Kesel banget aku!! Tapi, aku lebih santai sekarang Dew.. Aku lepasin dia.. Udah cukup lah dua tahunku terbuang percuma hanya untuk dia yang enggak pernah melihat ke arahku." Nah gantian curhatnya ini si akang Rama.
"Hahaha.. Kamu kurang strategi Ram. Tapi, dari awal kamu tahu kalau targetmu itu suka sama cowok lain?" Sesi tanya jawab dibuka.
"Kurang strategi gimana, semua yang kamu saranin dan yang aku anggap bisa bikin dia jatuh cinta sama aku udah aku coba! Bukan dia yang jatuh cinta malah aku yang jatuh nyungsep diinjak-injak sama dia! Iya tahu.. Orang aku juga kenal sama cowok itu. Sebenarnya aku enggak ada masalah apapun sama tuh cowok, tapi karena targetku getol banget nguber-nguber tuh cowok aku kok jadi enggak suka sama dia!" Rama menjelaskan dengan sesekali melihat ke arah Ndis.
"Siapa?" Tanya Dewa melempar sedotan ke arah Rama. Rama tertawa, dia tahu Dewa enggak suka dirinya terus-terusan memperhatikan Ndis.
"Siapa? Apanya? Targetku atau cowok rese itu?" Tanya Rama mengakhiri curi-curi pandangnya.
"Fajar. Itu cowok yang dipepetin targetku dulu. Neta, nama cewek yang selalu nolak aku! Sue banget kan..." Lanjut Rama.
Dewa tertegun sesaat, Fajar? Nama yang sangat enggak asing untuknya.