Angel!!

Angel!!
Bab 86. Masih Kapel Bucin



Belum pulih cedera hatinya karena penolakan Ndis, Fajar mencoba membuka menata hati untuk menjalin hubungan baru dengan Meica. Apapun yang Fajar lakukan selalu mendapat keraguan dari Meica, bahkan saat dia berucap mematenkan Meica sebagai calon istri pun salah di mata Meica.


Entah mau kesian atau nyukurin, kayaknya othor emang punya dendam terpendam dengan tokoh Fajar ini. Kisah cintanya tidak semulus jalan karirnya.


Berbeda dengan Dewa yang lancar jaya meski jarang nongolnya. Dia lebih suka membuktikan daripada terlalu banyak membual.


Sekarang Dewa ada di depan makam ke dua orang tuanya. Ditemani Ndis yang ada di sampingnya, ini merupakan kali ke tiga Ndis nyekar ke makam kedua orang tua mas pacarnya.


Setelah lantunan ayat suci dibacakan dan doa dipanjatkan untuk kedua orang tercintanya, Dewa menabur bunga dan menyiramkan air di atas kedua makam yang saling berdekatan tersebut.


Ndis memegang pundak Dewa, menyalurkan semangat dan dukungan untuk mas pacar.


"Aku enggak apa-apa.. Makasih ya Manis, selalu ada untukku."


'Pak.. Buk.. Aku pulang dulu ya, aku pasti ke sini lagi. Maaf kalau sekarang aku jarang berkunjung ya pak, buk. Banyak hal yang buat aku hanya bisa mendoakan bapak ibu dari jauh. Tapi, bapak ibuk tenang aja, setiap sujud ku selalu menyelipkan nama bapak dan ibuk agar dijauhkan dari siksa kubur. Semoga bapak dan ibuk tenang di sana, kita pasti akan bertemu lagi.. Dan sebelum saat itu tiba.. doaku akan selalu terkirim untuk bapak dan ibu.'


Hanya berucap dalam hati, Dewa tak ingin Ndis ikutan melow karena kerinduan yang dia rasa kepada kedua orang tuanya.Dewa mengajak Ndis pulang. Berjalan beriringan Ndis tiba-tiba berhenti dan melihat ke arah makam kedua orang tua Dewa lagi.


'Bapak dan ibunya mas.. Terimakasih telah melahirkan dan merawat mas Dewa hingga menjadi seseorang yang penuh tanggung jawab dan penuh cinta seperti sekarang. Bapak dan ibu adalah orang baik yang luar biasa, ijinkan aku untuk mengisi kekosongan hatinya, aku janji akan terus bersama mas Dewa.. Semoga bapak dan ibu husnul khatimah. Aku pamit pulang njih pak buk.. Assalamu'alaikum, hai para mukmin dan muslim yang bersemayam dalam kubur. Semoga Allah melimpahkan rahmat kepada mereka yang telah mendahului dan yang akan menyusul kalian dan [yang telah mendahului dan akan menyusul] kami.'


Sama. Ndis juga hanya berucap dalam hati. Dewa yang menyadari jika Ndis terdiam dan masih menatap lurus ke arah persemayaman orang tuanya langsung menggenggam tangan Ndis.


"Jangan bengong di sini dek." Ndis mengangguk dan kembali berjalan beriringan meninggalkan tempat pemakaman.


"Hobi baru ya?" Tanya Dewa kepada Ndis saat keduanya sudah sampai di rumah Dewa.


Dewa sudah meminta ijin sebelumnya kepada ibu Shela dan bapak Parto untuk mengajak Ndis ke makam orang tuanya dan setelah itu mampir sebentar ke rumahnya. Tanpa ijin dari bapak Parto maupun ibu Shela, tidak mungkin Dewa berani mengajak Ndis sekedar keluar bersamanya.


"Melamun. Udah jadi hobi barumu sekarang? Jangan terlalu sering melamun dan mikirin aku, aku enggak akan biarin kamu secapek itu sampai repot-repot memikirkan aku." Senyum terukir di wajah Ndis.


"Emang kamu bisa ngatur pikiran orang apa mas? Lagian pede banget, siapa juga yang mikirin kamu.."


"Serius bukan aku yang kamu pikirin sekarang? Aah kok sakit rasanya dengerin itu.. Moga aja hatiku enggak terbelah karena ucapan mu tadi" Dewa memegang dadanya seakan beneran merasakan kesakitan.


"Mas.. Itu jantung bukan hati." Masih dengan senyum karena senang bisa bersama dengan mas pacar. Othor jeles? Enggak! Biasa aja.


"Entah itu jantung atau hati, semua organ di tubuh ku seakan hanya merespon kehadiranmu.. Jangan ilangin senyum itu dari wajahmu.. Jangan menangis karena aku, dan jika nanti aku melakukan kesalahan yang membuat kamu kecewa atau marah sama aku.. Jangan langsung pergi ninggalin aku, karena demi apapun aku enggak bisa tanpa kamu." Siapa yang jerawatnya timbul saat baca ini??


"Maaaasss bisa enggak jangan bikin aku melting mulu"


"Aku ngomong apa adanya dek. Aku sayang kamu." Seperti terjadi ledakan kecil di hati Ndis yang berflower karena semua ucapan Dewa. Kalau ledakan besar nanti tim gegana datang buat jinakin boom! Dewa berhasil membuat Ndis merasa istimewa.


"Kamu mau pulang sekarang?" Tanya Dewa.


"Kamu ngusir aku mas?" Ndis tak percaya Dewa menyuruh Ndis pergi setelah tadi dia ciptakan mercon di hatinya.


"Iya. Karena kalau terus berdua sama kamu di sini akan ada mahkluk ke tiga di antara kita, dan aku enggak mau khilaf sebelum waktunya. Kamu ngerti maksud ku kan dek?" Terang Dewa sejujurnya.


Ndis tersenyum lagi. Padahal bukan kata-kata manis pujangga tapi, setiap hal yang Dewa ucapkan bisa jleb nembus jantungnya.


Bener kan othor bilang, kalau cinta udah melekat.. tembelek ayam pun rasa coklat!