
"Lin, ini hujan kok makin menjadi-jadi gini.. Tahu gitu mending kita di rumahmu aja tadi." Jo sedikit khawatir karena meninggalkan Ndis dan Dewa berdua di rumah.
Dia pernah berjanji pada Fajar akan menjaga Ndis untuk temannya itu, tapi belum ada satu bulan ditinggal pergi Fajar. Jo khawatir dia tidak bisa menepati janjinya itu.
Dewa terlalu getol deketin Ndis, dan Ndis terlihat nyaman-nyaman saja saat Dewa ada di dekatnya. Menjadi suatu kekhawatiran tersendiri untuk Jo jika Ndis dan Dewa beneran jadian.
"Apa sih mas.. Tadi ngajak ke sini kok sekarang protes." Tentu saja Lintang tak mau di salahkan. Sifat Shela yang terkadang tak mau disalahkan menurun dengan apik untuk kedua putrinya.
"Gas, kamu kok makan mulu dari tadi. Geluduk banter ngene kok santai wae. (petir kenceng gini kok santai aja.)" Jo terlihat sangat gelisah. Bagas hanya mesem sambil terus menikmati mi ayamnya.
Lintang tersenyum saat membayangkan kakaknya sudah mengubah status single menjadi double karena Dewa berhasil mencuri hati kakaknya.
"Kenapa Lin?" Tanya Jo menganggap Lintang sedikit aneh.
"Apa?" Tak mau membagi kebahagiaan di hatinya. Malah balik bertanya.
"Gas, kamu di sana punya pacar?" Tanya Jo yang sekarang kepo pada status Bagas.
"Punya. Di sini juga punya. Hahaha" Pede sekali ini orang punya banyak pacar.
Jo dan Lintang melihat Bagas yang tertawa tanpa dosa seperti itu langsung menunjukkan muka masam.
"Vang_ke! Player juga kamu. Siapa cewekmu di sini?" Ngatain tapi tetap penasaran.
"Aku enggak player.. Cuma menyelamatkan orang-orang dari kejombloan! Mengurangi populasi jones di muka bumi. Aku ini bisa disebut pahlawan lho sebenarnya. Menolong jiwa-jiwa rapuh yang kekurangan kasih sayang, menjadikan hari mereka selalu berkembang-kembang. Betapa baiknya aku.., Meski gitu aku enggak mau dapet pujian atau penghargaan. Cukup aku dan kelian aja yang tahu... kalau aku ini penyelamat jiwa-jiwa kurang kasih sayang!"
Enggak pantes manusia jenis ini jadi anaknya Seno dan Indah, yang keduanya punya sifat dasar setia pada pasangannya. Baru berusia delapan belas tahun aja udah seperti ini, apalagi kalau menginjak dewasa?!
"Mas kalau nanti aku khilaf ambil piso buat nusuk manusia durjanah ini, tolong jangan cegah aku!" Lintang kesal mendengar jawaban sepupunya tadi. Bagas malah ngakak, makin bahagia hatinya.
"Tenang Lin, nanti aku bantu kamu masukin dia ke karung!" Ancaman ngeri-ngeri sedep itu malah terdengar seperti pujian untuk Bagas.
"Kamu enggak takut kena karma Gas? Kalau nanti kamu ketemu orang yang kamu sukai, benar-benar bisa bikin kamu enggak bisa berpaling dari dia tapi, kamu enggak bisa dapetin atau bersama dengan dia.. Gimana?" Jo sangat ingin mendengar jawaban Bagas.
"Ngapain susah nyampe mikir sedalam itu Jo. Kejar yang mau diajak berjuang, tinggalkan kalau usaha buat dapetin target udah terasa sulit. Semua cewek itu pada dasarnya suka diprioritaskan, itu kuncinya."
"Semakin kamu mengistimewakan dia, kasih perhatian dan bisa membagi waktu untuk dia, niscaya Jo.. segala macam tipe cewek bakal nemplok kayak cicak ke kamu." Bagas bangga dengan rumus yang dia pegang teguh selama ini.
"Aku enggak selingkuh Lin, jane piye coro pikirmu kui hmm..? (sebenarnya gimana cara pikirmu itu hmm..?). Di sini, waktu aku pulang.. yang aku prioritaskan pasti yang di kampung. Beda cerita kalau aku udah di J, aku lebih condong sama yang di sana. Ngono! Kalau di tanya.. 'Kenapa akhir-akhir ini berubah, enggak lagi sering telepon ngasih kabar?' Sibuk adalah jawaban untuk segudang pertanyaan mereka."
Lintang gemas. Dia melempar sedotan dari gelasnya ke arah Bagas.
"Gini ya Lin, Jo, nakal lah selagi masih muda. Sewajarnya aja. Yang penting enggak merugikan orang lain tentunya. Misal nanti udah nikah, aku juga enggak mungkin terus-terusan kayak gini. Karena aku udah tahu, rasanya punya dua atau tiga pacar sekaligus itu kayak gimana. Enggak ada rasa penasaran lagi waktu udah nikah. Fokusku hanya ke bidadari surgaku nanti tentunya. Enggak bakal punya niatan ngeduain hati pasangan yang udah ditakdirkan jadi tulang rusukku." Bagas berucap dengan nada serius.
"Enggak ada jaminan juga Gas kamu bisa berubah setelah menikah, malah bisa jadi kamu makin melebarkan sayap untuk hobi unfaedah mu itu! Nikah siri, dan punya istri banyak tak terhitung kayak bangku penumpang di mobil odong-odong!" Perkataan Lintang dengan muka ditekuk tentu saja mengundang gelak tawa Jo dan Bagas.
"Doa mu jelek sekali wahai nyai.. hahaha. Tapi kalau mereka mau dipoligami juga aku enggak masalah sih. Betapa indahnya hidup seperti itu, pagi sama si A, siang sama si B, malemnya sama si C. Luar biasa!"
"Minggat sana! Malu aku punya sodara kayak kamu!!" Lintang kesal banget. Nyesel dia ngajak keluar Bagas dan Jo tadi.
"Udah terang, aku mau pulang!!" Lintang melotot ke arah Jo. Kok ke arah Jo? Iya karena tadi mereka berboncengan, dan Lintang dibonceng Jo. Makanya dia melotot ke arah Jo.
"Enggak nunggu entar aja Lin..?" Tanya Jo.
"Enggak nanti makin deres hujannya!!" Bentak Lintang.
"Deres? Mana? Udah enggak turun setetes air pun dari langit." Kata Bagas kemudian.
"Yang deres tuh hujan di hati aku!! Kesel aku denger kamu ngomong!"
Jo tersenyum saja, dan menuruti kemauan Lintang untuk pulang. Sedangkan Bagas dia malah ngakak. Setelah membayar semua jajan dan makanan yang mereka pesan, Bagas pun segera meluncur pergi dari lokasi itu.
✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨
80