Angel!!

Angel!!
Bab 42. Terungkap



Dewa pulang setelah pamit kepada Shela dan juga Parto selaku orang tua Ndis. Barulah setelah itu Ndis berjalan pelan menuju kamarnya, ingin beristirahat. Tapi, pertanyaan Parto menghentikan Ndis untuk memasuki kamarnya.


"Ndis.. Ini punya siapa?" Tanya Parto menunjuk kotak persegi panjang yang ada di meja ruang tamu.


"Tadi mas Dewa yang bawa pak," Ndis menjawab sambil menerima bungkusan yang diberikan Parto kepadanya.


"Lintang kemana dek?" Kali ini Parto bertanya kepada Shela, istrinya.


"Main sama Jo dan Bagas pak. Paling bentar lagi pulang." Lagi-lagi Ndis yang menjawab pertanyaan bapaknya yang sebenarnya ditujukan untuk mamaknya.


Terjadi obrolan hangat di ruang tamu, terlihat harmonis sekali keluarga seperti ini. Apa ini hanya ada di novel dan pilem-pilem?


"Eh.. Apa ini? Hape? Kok mas Dewa ngasih hape segala, ini maksudnya apa?" Ndis membulatkan matanya. Kaget, tentu saja.


Bukan agak kaget lagi sekarang ini, Ndis mengira kotak persegi panjang yang ditaruh Dewa di meja tadi adalah cokelat, atau mungkin jajanan lainnya. Dia tidak menyangka di dalam sana terdapat sebuah ponsel yang lumayan mahal untuk ukuran anak desa seperti Ndis.


"Besok minta tolong Lintang untuk mengembalikan sama Dewa, siapa tahu tadi Dewa salah naruh bingkisan. Dia mau beli hape buat dirinya sendiri." Shela memperhatikan ponsel yang masih dipegang Ndis. Memang ponsel mahal.


"Iya buk." Jawab Ndis.


Kegaduhan tentang ponsel itu berakhir, Ndis kembali ke kamarnya. Perlahan dia pejamkan mata, belum bisa tidur karena memang bukan jam tidurnya.


Pikirannya bercabang, antara Fajar dan Dewa. Dua laki-laki yang sekarang ini paling dekat dengannya.


Dia bingung kenapa beberapa hari ini Fajar tidak pernah lagi menghubunginya. Padahal sebelum kecelakaan yang menimpanya beberapa waktu lalu, Fajar masih sering mengirimkan pesan untuknya. Hapenya memang rusak saat kecelakaan itu tapi, nomernya masih bisa diselamatkan. Nomernya kini bertengger manis di ponsel Lintang.


"Mbak.. Mana hape baru dari pak Dewa? Katanya mbak dapet hape ya? Lihat dong...!" Sambil mengetuk pintu kamar kakaknya, Lintang bersemangat untuk melihat benda bernama hape berbentuk persegi panjang pemberian Dewa untuk mbaknya.


Tanpa menunggu persetujuan dari pemilik kamar, Lintang langsung merangsek masuk ke dalam kamar Ndis. Ndis melirik malas ke arah adiknya yang makin bawel setelah tahu dia mendapat ponsel dari Dewa.


"Besok balikin ke dia." Ndis memperlihatkan ponsel yang masih terbungkus rapi di dalam kardus. Dengan cekatan Lintang mengambil benda mahal itu dari tangan kakaknya. Matanya berbinar. Untuk ukuran bocah seperti Lintang, benda di tangannya itu adalah sebuah harta karun yang berharga. Apalagi ponsel yang sekarang Lintang pegang termasuk keluaran terbaru.


"Ya Allah mbaaaaak.. Ini hape yang diiklanin mulu di tipi itu?? Wah mbak.. ini bagus banget. Eh.. kenapa mau dibalikin?" Dengan sangat kepo, ponsel itu dikeluarkan dari dalam kotak kemasannya.


"Kenapa kamu bongkar isinya Lin? Balikin lagi!" Perintah Ndis yang enggak digagas Lintang sama sekali.


Lintang mengambil ponselnya sendiri, semangatnya berkobar saat menekan nomer telepon tujuannya, Dewa. Siapa lagi?!


Dia hanya ingin memastikan jika benda mahal itu benar untuk kakaknya. Setelah mendapat klarifikasi dari manusia di seberang sana, Lintang makin bersemangat ngutak-ngatik ponsel baru yang sebenarnya untuk kakaknya itu.


"Lin.. Apa ini?" Ndis memperlihatkan chat dari ponsel Lintang tapi berasal dari nomernya.


Bingung? Gini lho, selama ponsel Ndis rusak tak bisa dipakai. Dia nebeng aktifin nomernya di hape Lintang. Dan sekarang Ndis ngecek riwayat pesan yang masuk maupun keluar dari ponsel adiknya itu.


Wajah bahagia Lintang berubah. Dia beberapa kali mengedipkan mata. Dia lupa menghapus riwayat pesan keluar yang dia kirimkan untuk Fajar beberapa hari yang lalu.


Wait, jadi yang kirim pesan untuk Fajar tempo hari bukan Ndis? Melainkan Lintang? Ya, seperti itulah kenyataannya.


"Apa ini?" Pertanyaan itu kembali terdengar.


"Mbak.. Aku cuma pengen mbak itu jadian sama pak Dewa. Aku cuma bantu mbak buat bikin keputusan." Lirih. Antara takut dan takut banget kena sembur kakaknya.


"Cuma? Cuma apa maksud kamu.. Lin, kamu tahu enggak Fajar di sana lagi cari ilmu. Jauh dari keluarga dan teman-temannya. Aku aja enggak ngabarin dia waktu kecelakaan kemarin, karena apa? Biar dia enggak kepikiran di sana. Biar fokus sama pendidikannya aja. Tapi Lin, chat kamu ini bisa bikin dia mikir yang enggak-enggak.. Ngerti enggak?" Ndis agak membentak adiknya.


"Mbak kenapa marah? Kalau emang mbak suka sama mas Fajar ya jadian aja sama dia! Enggak usah marah gini mbak. Emang aku chat mas Fajar tanpa ijin mbak, iya salah! Aku tahu. Tapi, lebih salah lagi itu mbak yang enggak bisa tegas sama perasaan mbak sendiri!" Lintang ikutan membentak kakaknya. Entah dapat keberanian dari mana dia bisa seperti itu.


Ndis diam sesaat.


"Lin, ini bukan urusanmu lho. Kenapa kamu nyampe seperti ini ngurusi masalah pribadiku? Mau aku punya pacar atau enggak itu hakku. Ada batasan untuk semua hal Lin." Ndis menaruh ponsel Lintang di meja dekat tempat tidurnya.


Mungkin ini yang membuat Fajar berhenti menghubunginya. Atau memang Fajar sering menanyakan kabarnya tapi, tidak disampaikan Lintang kepadanya.


"Mbak.." Lintang memanggil kakaknya, tak ada respon dari Ndis. Dia diem. Kesal bercampur kecewa menyelimuti hatinya.


"Maaf mbak.."


Lintang meninggalkan kamar Ndis. Dia tidak bermaksud membuat kakaknya bermuram durja seperti sekarang. Rasa peduli, perhatian, dan sayang untuk kakaknya membuat Lintang melakukan tindakan yang harusnya bukan menjadi areanya, bukan haknya bertindak seperti itu. Tapi, mau gimana lagi. Semua udah terjadi. Tinggal menikmati hasilnya sambil nyeduh kopi, yo ra?