Angel!!

Angel!!
Bab 103. Ulang tahun



Rama mengerjapkan mata tak percaya. Dia sampai beberapa kali memutar pidio yang dikirim adiknya beberapa menit lalu. Video yang memperlihatkan adegan di mana Neta memarahi bahkan melempar tisu ke arah lelaki berperut buncit karena pak buncit itu tak peduli pada istrinya yang kerepotan mengasuh anak-anak mereka. Si bapak tak membalas bahkan memilih pergi setelah mendapat perlakuan seperti itu dari Neta. Senyum mengembang di wajah Rama. Ternyata mulut ceriwisnya Neta ada gunanya juga, bahkan digunakan untuk sesuatu yang lebih berfaedah sekarang ini. 'Good girl Net!'


Beberapa hari di rawat di ruang ICU, papa Neta tak kunjung membaik. Dokter bahkan menyarankan untuk keluarga Neta agar lebih banyak berdoa demi kesembuhan papanya Neta.


"Ma.. Makan dulu.. Mama belum makan dari pagi kan?" Neta menyodorkan sebuah tupperware berisi bubur ayam kepada mamanya. Sang mama tak menjawab, beliau lebih fokus melihat suami tercinta yang terbaring dalam kondisi tak berdaya.


Lelehan bening berderai keluar dari mata membasahi pipi, Neta benci harus melow seperti ini. Tapi, yang sakit adalah papanya, yang sekarang diam membisu adalah mamanya. Mana mungkin dia bisa cuek dan egois seperti biasanya.


"Ma.. Makan ya ma.." Neta tak tahu dengan cara apa lagi membujuk mamanya agar mau sekedar memakan sesuap bubur yang dia bawa sedari tadi. Melirik saja enggak.


"Net.. Tinggalin mama sendiri, mama ingin menemani papamu" Ucapan hampir terdengar seperti bisikan membuat air mata Neta semakin deras mengalir.


Neta bukan gadis yang tak punya hati gaess.. Dia tentu sedih melihat kondisi orang tuanya seperti ini. Hanya orang-orang yang tak punya hati yang tega menelantarkan orang tua di usia senja mereka. Coba lihat Neta sekarang, meski dia sangat dibenci seluruh reader di sini tapi, kasih sayangnya untuk kedua orang tuanya tak bisa diragukan. Neta lebih memilih hidup sederhana tapi berlimpah kasih sayang dari orang tuanya seperti Ndis daripada kaya raya tapi orang tua tak pernah ada waktu untuknya.


Neta masuk ruangan ICU menemui papahnya. Tangan Neta menggenggam jemari papanya yang terlihat pucat dan rapuh.


"Pa.. Sembuh ya pa. Neta janji enggak akan nyusahin papa lagi, papa enggak perlu kerja berangkat subuh pulang larut malam lagi hanya demi memenuhi kebutuhan Neta pa. Pa, Neta minta maaf selama ini belum bisa jadi anak berbakti buat papa sama mama. pa-"


Kalimat itu terpotong oleh tangis sesenggukan seorang Neta.


"Pa.. Mama sekarang jadi pendiem karena papa sakit. Mama jadi makin nyuekin Neta. Papa lihat tadi? Neta nawarin mama makan aja enggak digubris sama mama."


Neta menggeleng, tak ingin membuat papanya terbebani dengan cerita yang justru bikin papanya makin down.


"Neta yakin papa pasti sembuh. Papa kuat! Mungkin Neta enggak pernah bilang ini sama papa... Sama mama.. tapi, Neta sayang kelian, Neta sayang papa.. Cepet sembuh ya pa"


Seorang Neta bisa bercucur air mata seperti itu. Karena sebenarnya dia bukan tokoh jahat seperti musuh-musuhnya power rangers yang harus di musnahkan. Dia masih punya hati nurani. Meski mungkin hati nuraninya belum dipublikasikan seperti para tokoh yang lain.


Malam berganti pagi, sebuah harapan baru selalu muncul bersamaan dengan sang Surya yang memperlihatkan kegagahan sinarnya.


Hari ini juga bertepatan dengan hari lahir gadis bernama Neta. Dia ulang tahun? Lha iya.. Dia lahir dari seorang perempuan yang Neta sebut mama, bukan dari sebongkah batu kali wahai netijen! Neta tak begitu bersemangat seperti tahun-tahun lalu. Dia hanya melihat sekilas notif hpnya yang memberitahu jika hari ini adalah hari brojolnya.


'Aku cuma berharap papa bisa kembali sehat seperti dulu. Mama enggak secuek ini sama aku, Rama.. iish buat apa juga aku mikirin dia dalam doaku, maaf Ya Allah.. Aku ralat nama titisan genderuwo itu!'


Neta teringat kejadian terakhir bertemu Rama. Manusia itu selingkuh dengan Rizna. Itu yang ada di pikiran Neta. Gimana bisa dikata selingkuh kalau Neta aja tak pernah menganggap Rama pacarnya. Tapi, yang namanya Neta ini kan mahkluk teregois di nopel ini jadi ya apa yang dia anggap benar maka itulah kebenaran! Dan siapa yang selalu benar? Dia pastinya, siapa lagi?!


"Ma.. Neta keluar sebentar ya. Mama enggak apa-apa kan Neta tinggal sendiri?" Mamanya hanya mengangguk. Tanpa ada suara yang keluar dari bibir sang mama. Helaan nafas berat terdengar saat Neta benar-benar sudah berada di luar area rumah sakit. Neta berpikir keras, sebenernya apa sih salahnya sampai mama cuek banget sama Neta?!


Masih fokus berpikir, Neta dikagetkan oleh Rama yang muncul bak jin yang tiba-tiba ada di dekatnya.


"Kamu mau kado apa dari aku?" Tanya Rama menyenggol bahu Neta pelan.


"Setan! Bisa enggak jangan muncul tiba-tiba gitu! Kaget tahu enggak!!" Spontan Neta mendorong Rama. Rama malah tertawa bisa membuat Neta senam jantung.


"Enggak. Aku masih sanggup beli barang apapun itu yang mau kamu kasih ke aku!" Masih dengan kesombongannya.


"Syukur deh, orang itu cuma paperback kosong kok. Enggak ada isinya, karena isinya ada di sini.. (megang dadanya sendiri) Aku kasih seluruh cinta dan kasih sayang aku buat kamu. Apa hal itu juga bisa kamu beli?" Rama tersenyum membuat kekerenan dalam dirinya diupgrade seratus persen.


"Mau gombal? Aku bukan cewek yang doyan gombalan murahan macam itu." Bohong. Di dasar kedalaman samudera hatinya, Neta seakan sedang berenang pada lautan bunga!


"Makan yuk! Aku laper." Rama tak memperdulikan penolakan Neta. Dia terus berjalan sambil memegang tangan Neta hingga mereka tiba di salah satu resto cepat saji yang berada tepat di sebelah rumah sakit.


"Kamu yang lapar, kamu aja yang makan! Ngapain nyusahin orang sih!" Cibir Neta yang masih tetap berdiri tegak bagai tiang bendera.


"Kamu mau makan apa?" Masih acuh dengan rentetan ocehan Neta. Rama memang se ndablek itu!


"Emm.. Ada bekicot asam manis, rica-rica belalang, jus rumput liar, jus-"


"Meski aku kehabisan beras dan tak mampu beli lauk buat makan, di bayar sekalipun aku enggak mau makan serangga!"


Rama tertawa mendengar jawaban Neta.


Saat pesanan mereka tiba, Neta dibuat panik dengan dering telepon dari mamanya. Neta bergegas lari menuju ruangan ICU tanpa memperdulikan Rama yang bingung dengan kepanikan yang jelas Neta perlihatkan setelah Neta mengangkat telepon barusan. Tak mau membuang waktu dengan terus bertanya ini dan itu, Rama yang sudah membayar makanan tanpa dimakan tadi langsung mengejar Neta.


"Net.. Papa udah enggak ada.." Suara itu terdengar pilu menusuk hatinya.


"Apa ma? Enggak.. Papa tadi masih respon saat Neta ngomong ma, papa tadi pegang tangan Neta balik.. enggak mungkin papa meninggal ma.. Ma.. ini enggak bener kan ma?" Neta syok bukan main. Dia melihat Fajar keluar dari ruangan itu dan menggeleng pelan ke arah Neta.


"Jar.. bilang kalau temen-temen doktermu bohong! Aku yakin papa pasti sembuh." Untuk pertama kalinya Neta memanggil Fajar tanpa embel-embel lebay yank atau cintah.


"Ikhlaskan Net.. Papamu udah tenang di sana," Fajar menepuk pundak Neta pelan.


Mamanya Neta tidak sehisteris Neta, beliau bahkan diam menatap nanar pada raga yang selama tiga puluh lima tahun itu selalu menjadi bagian hidupnya. Kini raga itu hanya terdiam, pucat tak bergerak, tak ada sorot mata teduh seperti biasanya. Tak ada pelukan hangat di awal pagi dari sang suami. Semua terasa berbeda. Tak ada yang sama setelah dokter mengatakan suaminya itu telah berpulang menghadap Sang Khalik.


Bergetar tangan mamanya Neta mengusap wajah sang suami. Tidak ada balasan, mamanya Neta mengelus rambut itu dengan lembut.


"Pa.. Kenapa tidurmu senyenyak ini, papa mimpi apa di sana? Apa seindah itu mimpimu sampai kamu enggak mau bangun lagi? Boleh mama ikut papa? Kalau meninggalkan aku dan Neta membuat papa enggak merasakan sakit lagi, sekarang malah mama yang merasakan kesakitan karena kepergian papa.. Pa, boleh mama ikut papa? Kenapa diam pa? Kata papa kalau diam artinya iya..." Setelah kalimat itu selesai, mama Neta kehilangan kesadarannya.


Neta makin histeris dengan rentetan kejadian yang dia lihat di depan matanya. Rama berusaha menenangkan Neta dengan memeluk Neta ke dalam dekapannya. Meski awalnya berontak, tapi akhirnya Neta pasrah menangis di dada bidang Rama.


"Aku ada buat kamu.. Aku di sini untuk kamu.." Ucap Rama mengusap pucuk kepala Neta beberapa kali.


Fajar yang melihat kesedihan nyata pada diri Neta enggak bisa berbuat banyak untuk menghibur gadis yang selalu over lebay itu, dia yakin Rama adalah pria baik yang dikirim othor untuk mengubah jalan bar-bar Neta menjadi lebih lurus dan alim kedepannya. Semoga..


'Ini adalah ulang tahun terburukku..'