
Neta yang melihat Ndis pergi dengan santuy seperti itu merasa tak terima. Dia belum puas hanya melabrak manusia bernama Gendis tapi dia lebih suka memanggilnya dengan sebutan linggis itu. Terus kalau enggak terima Neta mau apa?
Dengan ugal-ugalan, Neta mengejar motor yang dikendarai Ndis. Saat melihat jalanan yang sepi dan jarak antara motornya dan Ndis cukup dekat, Neta nekat mendorong motor Ndis dengan kakinya.
Braaakkkk! Kayak gitu lah kira-kira bunyinya. Bunyi motor yang jatuh dan mencium kerasnya aspal hitam jalanan desa Wekaweka.
Ndis jatuh, tentu saja. Beberapa kali terguling membuat ponselnya yang dia taruh di kantong jaket terlempar keluar dari tempatnya. Melihat hal itu, timbul niat jahat Neta yang lain. Dia sengaja melindas ponsel Ndis hingga retak. Dia ulangi beberapa kali, gerakan maju mundur cantik ala devil itu agar hape Ndis mati. Saat hape itu nyaris tak berbentuk, Neta ambil benda yang dia aniaya dengan kejamnya dan dilempar ke tengah jalan. Biar ajur menisan kegiles (hancur sekalian kegiles) kendaraan lain.
Tanpa memperdulikan kondisi Ndis yang tergeletak di jalan, Neta melenggang dengan perasaan bahagia.
"Mau lawan Neta? Mimpi aja kalau merasa bisa nyaingin aku yang specta ini. Belajar dulu ribuan tahun biar pandai! Itu juga enggak jamin bisa nyaingin aku, Neta si syantik yang cetar membahana!!" Puas banget Neta meski udah berbuat kriminal seperti itu.
Ndis yang tak sadarkan diri karena syok akibat goncangan keras dan terkena benturan di kaki serta kepala tadi mendapat pertolongan oleh warga yang melintas di sana.
Bukannya tadi Ndis memakai helm, kenapa bisa kepalanya terbentur? Itulah kenapa fungsi helm itu ada di kepala bukan di tangan. Karena setelah bertemu Neta tadi, Ndis tidak lagi memakai helmnya kembali malah menenteng helm di tangan. Hmm catet mas, mbak.. Helm itu harusnya ada di kepala! Bukan di tangan, dicangking koyo anak kucing!
"Ini kayak anaknya pak To, astaghfirullah bawa ke puskesmas apa anterin ke rumahnya aja ini ya?" Salah satu warga malah bingung mengambil keputusan saat situasi segenting ini. Parah!
"Ada apa ini, ada apa?? Waduh ini Gendis?? Kenapa bisa kayak gini?" Warga yang lain kepo dulu baru mutusin menolong. Oke, sabar Ndis, nyawamu masih nempel di raga kan ya?
Makin lama makin banyak warga yang berdatangan, menolong? Belum. Melihat dulu kondisi korban, menerka apa yang sebenarnya terjadi pada Ndis saat itu, sibuk ngobrol dulu. Ada juga yang midioin (Video'n) momen ini. Sampai akhirnya yang pingsan sadar dan membuka matanya. Alhamdulillah. Pulang aja sendiri Ndis, atau ke puskesmas dulu juga enggak apa-apa.. Sekedar saran sih.
"Eh Ndis, udah bangun? Kamu tadi gimana bisa jatuh?" Ini lagi jenis manusia absurd lainnya. Pertanyaan 'udah bangun' seakan Ndis baru terjaga dari mimpi indahnya.
"Ayo bantu bawa ke puskesmas dulu, ini kesian kalau dibiarin kayak gini." Alhamdulillah ada warga yang waras di sini!
Dengan diantar beberapa warga, Ndis sampai juga di puskesmas. Pertolongan untuk Ndis segera dilakukan. Warga lain bergegas ke rumah Parto untuk memberi tahu kepada Parto jika anaknya mengalami kecelakaan dan ada di puskesmas untuk mendapat pertolongan.
Yang datang pertama kali datang ke puskesmas adalah Dewa. Dia mendapat informasi dari warga yang ngerumpi saat dia membeli bahan bakar untuk motornya secara eceran di warung.
Dewa berlari cepat setelah mendapat informasi Ndis ada di ruang rawat inap. Ngos-ngosan. Udah pasti, tapi yang lebih membuat Dewa nyesek adalah saat melihat kondisi Ndis. Kepala yang dibalut perban, serta tangan kiri yang terpasang infus sudah bisa menggambarkan betapa sakit dan tersiksanya Ndis saat ini.
"Kenapa bisa seperti ini?" Tanya Dewa kepada Ndis.
"Jatuh." Jawab Ndis singkat. "Besok boleh pulang. Aku enggak apa-apa." Sambungnya.
"Apanya yang enggak apa-apa?? Kamu lebih
tahu rasa sakitnya kayak apa, kenapa bilang enggak apa-apa??!" Sedikit membentak, Dewa sampai tak berani memegang atau mengusap tangan Ndis, takut menambah rasa sakit yang Ndis alami saat ini.
Sepuluh menit berlalu tanpa suara. Dewa memang tak ingin mengajak Ndis ngobrol. Muka Ndis sangat pucat. Dia hanya ingin menjaga Ndis saat ini.
"Tidur aja, sudah malam. Aku ada di sini buat kamu. Kalau butuh sesuatu, panggil aku aja." Dewa ada di pojokan seperti jin penunggu yang setia menunggu perintah tuannya.
Tak ada jawaban dari Ndis, dia memilih memejamkan mata. Rasanya hari ini benar-benar sangat melelahkan.