
Rama menarik Neta cukup jauh dari tempat tadi, selain menjaga Neta dari cercaan orang banyak di kafe, dia juga ingin memperingatkan Neta agar tidak lagi bertindak semaunya.
"Kamu tahu enggak tindakan kamu itu bisa dipidanakan! Kamu udah melukai orang lain, melakukan tindakan yang tidak menyenangkan. Dan banyak orang yang menyaksikan ulahmu tadi di sana Net!" Rama berusaha memberi penjelasan pada Neta.
"Kenapa emangnya? Mereka duluan kok yang cari masalah sama aku. Aku cuma membela diri. Kamu juga kenapa belain mereka? Udah kena tiupan asap dukun mereka kamu hah?" Neta, walaupun salah dia tetap tak mau disalahkan dan mengakui kesalahannya.
Rama yang gemas dengan sikap Neta malah melakukan tindakan konyol dengan mepetin Neta nyampe mentok batas tembok yang ada di belakangnya. Dengan gerakan cepat Rama mencium sekilas bibir Neta. Neta tentu kaget. Matanya membulat sempurna. Bisa-bisanya cowok yang enggak ada di daftar tipe cowok idamannya itu malah merebut ciuman meski bukan ciuman pertamanya.
"Bang_ke!! Sialan kamu ya!! Enggak tahu diri!!" Bentak Neta marah.
"Udah diem! Atau mau aku kasih yang lebih dari itu?" Mata Rama menunjukkan keseriusan. Sesaat Neta diam.
"Denger ya,, Dewa itu sahabatku, dan Gendis adalah cewek yang disukai Dewa. Jangan lagi ganggu Gendis. Karena kamu enggak tahu apa yang akan kamu hadapi saat Dewa udah di batas kesabarannya! Aku hanya ingin kamu tahu, enggak semua orang bisa tunduk dan nurut sama apapun yang kamu inginkan. Dulu, mungkin aku sangat menyukaimu, memujamu, sampai kehilangan seluruh harga diriku karena sering kamu samakan dengan keset. Tapi, enggak lagi dengan sekarang! Aku Rama yang beda. Bukan Rama yang dulu bisa kamu suruh-suruh sesukamu. Ingat Net, sikapmu ini bisa membawakan pada jurang kesendirian dan penyesalan di sepanjang usiamu!"
Kalimat panjang Rama hanya dibalas Neta dengan tatapan tajam tak bersahabat olehnya.
"Dan asal kamu tahu, rasa benciku ke linggis itu enggak bisa hilang begitu aja. Dia ada di radius satu kilometer di sekitarku aja udah salah, apalagi sampai ganggu aku! Aku benci dia!!" Neta ingin pergi. Tangannya ditarik kembali oleh Rama.
"Kenapa? Ada masalah apa kamu dengan Gendis sampai kamu sebenci ini sama dia?" Tanya Rama ingin tahu.
"Bukan urusanmu!!" Bentak Neta.
Neta tahu jika dia kembali ke kafe tadi pasti banyak manusia yang akan menghujatnya. Dengan sedikit kepintaran yang masih nempel di akal sehatnya, Neta memilih ngojek untuk meninggalkan lokasi itu.
Rama kembali ke kafe milik Ndis. Mendapati Ndis yang sedang sibuk membalut luka di lengan Dewa. Beberapa pengunjung sudah meninggalkan lokasi itu, menyisakan beberapa saja yang masih kepo dengan kelanjutan drama yang tadi berlangsung secara live di depan mata mereka.
"Dew, kamu oke?" Tanya Rama menepuk pundak Dewa dan duduk di samping temannya itu.
"Lihat aja sendiri, dia Neta yang kamu gandrungi selama dua tahun itu? Wah Ram.. Tipemu benar-benar gadis liar seliar Tarzan!" Dewa bersungut-sungut.
"Itu kan dulu Dew, sekarang udah sadar aku. Enggak minat lagi sama dia." Rama membela diri.
Lintang yang melihat kedatangan Rama sedari tadi hanya memperhatikan dan berpikir, bagaimana bisa orang macam Neta disukai lelaki di sampingnya itu sampai dua tahun lamanya. Apa yang membuat Neta sebegitu menarik di mata lelaki yang sekarang menatap balik ke arahnya.
"Kenapa dek?" Tanya Rama mengerlingkan mata ke arah Lintang.
Dewa dan Ndis melihat Lintang yang sepertinya kepo dengan Rama.
"Enggak, Alhamdulillah aku sehat dari rahim mamakku nyampe sebesar ini. Ada yang salah?" Tanya Rama lagi.
"Tentu, tentu ada yang salah.. Kok bisa masnya ini suka sama titisan raja Namrud. Sombong, bar-bar, pecicilan, enggak tahu aturan dan banyak sifat aneh lainnya yang nyangkut di diri orang itu." Lintang mengingat Neta aja sudah membuat dirinya kesal bukan main.
Ketiganya tertawa mendengar celoteh Lintang. Tidak ada alasan yang keluar dari bibir Rama kenapa dia bisa menggilai Neta sampai di titik ikutan enggak waras, dia hanya tersenyum saja menanggapi apapun yang Lintang dan Dewa lontarkan untuknya. Mau gimana lagi, nyatanya dulu Neta memang memegang peranan penting di hatinya.
"Dew kamu mau pulang sekarang? Aku anterin yok!" Tawar Rama.
"Kamu duluan aja. Aku masih ada misi penting." Dewa melihat ke arah Ndis. Ndis tahu maksud misi penting yang diutarakan Dewa itu apa. Tentu saja menyelesaikan acara tertunda tadi sebelum ada makhluk bernama Neta tadi muncul.
"Ya udah deh, aku bareng kamu aja." Rama merogoh saku celananya untuk mengambil ponsel yang tersimpan di dalam sana.
Pandangan mata Dewa masih terfokus pada Ndis. Seakan mencari jawaban dari pernyataannya yang tadi belum sempat mendapat tanggapan apapun dari Ndis.
"Jadi gimana Ndis?" Tanya Dewa.
"Aku jawab sekarang?" Tanya Ndis balik. Dewa mengangguk, Lintang dan Rama ikutan kepo.
Ingin rasanya Lintang teriak 'Terima aja mbak!! Sat set ngono lho!' Tapi, tidak! Lintang masih bisa menjaga mulutnya agar tidak ikut campur di ranah ini. Cukup sekali dia mendapat teguran dari mbaknya dulu karena lancang kirim pesan untuk Fajar atas nama Ndis.
"Kamu yakin sama perasaanmu ke aku. Tapi, jujur aja mas.. Aku sendiri belum yakin ada kamu di hatiku. Mas, kamu orang baik.. sangat baik-"
"Sebentar. Aku enggak mau kamu nolak aku karena aku baik Ndis, apa aku perlu jadi penjahat dulu agar kamu mau sama aku?" Dewa langsung memotong kalimat Ndis.
Rama ingin tertawa saat mendengar ucapan bloon temannya itu. Lintang aja udah hampir menyemburkan air yang dia minum.
"Kalau kamu ingin aku bilang langsung ke bapak sama ibumu aku bisa. Bahkan saat ini juga aku sanggup tapi, jangan bilang kamu enggak bisa jalin hubungan sama aku karena aku terlalu baik. Ndis.. dimana-mana cewek pasti milih orang baik dan yang terbaik untuk dirinya, untuk masa depannya.. Aku kurang apa di matamu? Bilang Ndis?" Dewa menarik tangannya saat masih ada di meja. Mengambil cincin yang dia simpan di saku celananya.
"Ini. Ini buat kamu. Aku enggak mau kamu nolak ini, mungkin ini sedikit memaksa.. Tapi, besok aku akan tunjukin ke kamu.. Apa itu serius menurut versiku!" Masih berusaha meyakinkan Ndis.
Ndis diam. Apa yang dia pikirkan saat ini? dia masih mencari letak Dewa di hatinya. Dia tidak ingin membuat keputusan hanya karena terburu-buru. Sikapnya nanti akan menjadi penentu jalan hidupnya untuk ke depannya. Dan dia tidak ingin salah langkah saat menentukan kiblat hati sekarang ini.