
"Jujur aja aku bingung sama hubungan kelian berdua. Kelian ini kayak jalan di tempat. Enggak ada pergerakan atau perubahan apapun." Ucap Jo yang sekarang menikmati acara rebahan di kost Fajar.
Meica udah pulang. Dia sadar jika saat ini bukan waktu yang tepat untuknya main ke tempat Fajar. Fajar pasti ingin ngobrol bersama kedua sahabatnya yang datang jauh-jauh dari ujung dunia, pikir Meica.
"Abis koas Jo, aku bakal nembak dia lagi. Syukur-syukur diterima. Aku gaskeun aja lamar dia, bukan kamu aja yang gemes Jo, aku juga!" Tutur Fajar.
Lalu Bagas di mana? Bagas molor. Dia kecapean gombal sana-sini, dengan bantalan tangan kanan dia sudah bisa terbuai ke alam mimpi.
"Kelamaan! Nanti si Dewa yang maju duluan. Kamu enggak tahu aja gimana serangan yang dilancarkan Dewa buat luluhin hati Ndis. Kemanapun Ndis pergi selalu dikawal sama dia. Saat kamu mutusin untuk maju, targetmu udah digandeng orang. Kamu kebagian doain aja,. semoga dia bahagia dengan pilihannya!" Jleb. Fajar terdiam mendengar penuturan Jo.
"Kalau ada waktu, pulang dulu. Kasih dia kejutan. Tapi, kok aku takut kamu yang terkejut nantinya." Imbuh Jo.
"Jangan nakut-nakutin gitu lah Jo, kamu ini temenku apa haters ku sih? Kalau aku bisa pulang ya pasti aku pulang Jo. Enggak usah mok suruh,"
Jo diem aja. Dia ingin Fajar berpikir sendiri, dalam hati Jo juga sebenarnya sedikit kesal dengan Fajar. Dulu saat Fajar akan pergi, dia menitipkan Ndis padanya. Bukan seperti nitipin bocil yang kudu dimandiin, disuapin, dibikin susu juga.. tapi lebih ke nitip untuk menjaga Ndis agar enggak dipepet Dewa atau cowok lain yang berusaha mendekati Ndis.
Dan sebisa mungkin Jo berusaha menjaga kepercayaan Fajar dengan rutin berkunjung ke rumah Ndis. Kesempatan itu juga terkadang dipakai Jo untuk lebih dekat dengan Lintang sebenarnya. Harus selalu diingat gaess! Sambil berenang pipis tipis-tipis! Itulah ajaran sesat tapi lumayan berfaedah dari master berstandar SNI kita, kak Diaz! Mau bilang yang ngajarin itu Pio atau kak Ezza kok enggak tega ngetiknya gaess hahaha! Jadi tumbalkan saja kak Diaz! Aman!
Balik lagi ke cerita.
"Jo menurutmu aku kudu gimana?" Fajar bertanya. Tapi, tak ada jawaban. Jo tertidur dengan tangan kirinya menutupi mata. Kembali terdengar helaan nafas berat dari Fajar. Cinta mumetnya tiada akhir!
Bergeser ke desa Wekaweka.
Rama menemani Dewa membeli sebuah cincin. Cincin dengan lambang infinity (nek enggak tahu lambang infinity, cari di gugel aja.)
Cincin itu dirasa pas dan cocok untuk seseorang yang beberapa bulan ini selalu jingkrak-jingkrak di hati dan pikirannya. Seenaknya memainkan perasaan dan selalu hadir di mimpi indahnya. Karena jika hadir di mimpi buruk, itu pasti jelmaan nini kunti!
"Kamu yakin Dew? Kalau ditolak gimana? Bangun benteng dengan pondasi rasa percaya diri tinggi dulu sebelum kamu benar-benar akan melakukan hal ini! Bukan apa-apa sih, aku takut kegagalanmu ini nanti jadi trauma berkepanjangan dan rasa malu tak bertepi. Loruu dek! ( Sakit dek!)" Rama memberi saran kepada temannya sebelum melakukan acara melamar tersableng yang belum pernah dilakukan oleh Dewa sebelumnya.
"Tenang Ram. Ditolak itu biasa, cuma gimana caranya aku bangkit dan kembali menata hati, meyakinkan dia agar mau menerima ketulusanku! Aku enggak main-main sama perasaanku ke dia. Dia mungkin selalu menghindar karena mikir aku cuma omdo. Cewek butuh pembuktian Ram, cuma bilang aku sayang kamu seribu kali sehari juga siapapun bisa. Tapi, yang mereka mau.. Ada pembuktian kalau sayang itu benar-benar ada. Gimana caranya? Ya kayak gini, ini salah satu pembuktian nyata yang bakal aku kasih ke dia." Tenang, tapi penuh semangat. Dewa menjawab dengan rasa percaya diri tinggi.
"Haaah ya mbuh lah Dew, nanti nek ditolak dia jangan nangis-nangis cari aku, pinjam pundakku. Tak sudi awak kau perlakukan awak macam cadangan!"
Dewa tertawa mendengar logat bicara Rama. Dewa memang belum yakin dia akan diterima atau tidak nantinya. Tapi, setidaknya Ndis akan tahu jika semua yang dia ucapkan bukan bualan.
Kamu mau aku membuktikan perasaanku? Bersiaplah terkejut dengan pembuktian yang akan aku kasih ke kamu.
Di kafe, Ndis sekarang ini melayani para pembeli yang lumayan banyak. Beberapa dari mereka bahkan ada yang memilih duduk di luar ruangan karena kapasitas meja di kafe penuh. Malam Minggu memang selalu sibuk untuk seorang Ndis. Lintang dengan cekatan ikut membantu menyiapkan atau sekedar menulis pesanan pelanggan.
"Mbak.. Itu kayak pak Dewa deh. Lihat mbak," Lintang menunjuk dengan dagu motor ijo khas cowok banget yang berhenti di depan kafe mereka.
Turun dari motor, Dewa langsung membuat setiap pasang mata tertuju padanya. Dengan berjalan fokus ke satu titik yaitu Ndis. Dewa, seakan sedang disorot lampu petromax eh lampu apa itu ya.. yang hanya tertuju pada dia.
Saat sudah berada di dekat Ndis.. Dewa menatap kedua manik mata itu. Ndis melihatnya seakan bertanya 'Ameh ngopo kowe?' (Mau ngapain kamu?)
Dengarkanlah, wanita pujaanku
Malam ini akan kusampaikan
Hasrat suci kepadamu, dewiku
Dengarkanlah kesungguhan ini
Aku ingin mempersuntingmu
Tuk yang pertama dan terakhir
Jangan kau tolak dan buatku hancur
Ku tak akan mengulang tuk meminta
Satu keyakinan hatiku ini
Akulah yang terbaik untukmu
-----✨✨✨✨✨✨✨-----
Saat Fajar masih menimbang tindakan apa yang akan dia lakukan, Dewa sudah bergerak sepuluh langkah di depannya.