Angel!!

Angel!!
Bab 90. Terjebak Hujan



"Mas kita gimana pulangnya.. Sekarang hujan deres banget. Perjalanan ke rumah juga makan waktu, mana hari makin gelap lagi." Terang Ndis membuka obrolan. Dia mulai bersikap biasa aja setelah kejadian ci_pokan kilat yang terjadi antara dia dan Dewa tadi.


"Aku bisa minta tolong Rama ke sini, nganterin kamu pulang. Aku tak bawa motor aja, aku enggak mau kamu sakit karena kena hujan." Dewa berniat mengambil ponselnya di saku jaket.


"Mas.. Enggak usah. Aku ke sini sama kamu, aku mau pulang juga sama kamu." Ndis memegang tangan Dewa menghentikan niat mas pacar yang ingin menghubungi Rama.


"Dek.. Kalau nunggu hujan reda kita nyampe rumah tengah malam, bapak sama ibu pasti juga sangat khawatir sama kamu. Maaf udah ngajak kamu ke sini.. Atau gini aja, kamu telpon Jo.. Minta dia ke sini buat jemput kamu." Dewa berpikir Ndis enggak begitu kenal Rama, mungkin dia merasa sungkan jika harus pulang bersama sahabatnya itu. Mengusulkan untuk menghubungi Jo karena berpikir Ndis sangat dekat dengan pemuda itu. Pasti Ndis mau jika pulang dengan Jo.


"Mas.. aku udah bilang, aku ke sini sama kamu.. Pulangnya juga aku maunya sama kamu." Ndis mengulang kalimatnya tadi. Aiih manja banget kowe dek!


Dewa mengulas senyum. Diusapnya pelan rambut Ndis, hujan makin deras untung saja di sana ada beberapa warung untuk sekedar berteduh.


"Tapi, kalau kita terus di sini juga enggak baik dek." Dewa melepas jaketnya untuk dipakaikan pada Ndis. Ndis tidak menolak, diperlakukan seperti itu saat kondisi hujan dan angin sepoy-sepoy asoy langsung menciptakan suasana romantis.


Bahagia itu sederhana wahai kawan, bisa bersama dengan orang yang dicinta meski nebeng di emper warung orang kek gembel juga serasa di kamar hotel bintang tujuh! Enggak percaya? Coba aja!


"Kita terobos hujan ini aja gimana mas?" Usulan nekat! Mok kiro ini mau syuting pilem India Ndis? Kena hujan dikata romantis? Lha di dunia nyata diguyur hujan sepuluh menit juga bakal kliyengan kamu!


"Ngaco! Ini hujan deres banget dek. Enggak usah aneh-aneh, kalau aku sendiri sih enggak apa-apa. Lha ini sama kamu, aku enggak mau kamu sakit atau kenapa-napa saat sama aku. Aku enggak rela biarin kamu basah terkena air hujan, aku lebih suka menghujani mu dengan kasih sayangku."


Masih pacaran wajar, kena air hujan enggak boleh, jalan musti beriringan, tangan selalu gandengan,, Nanti lho nanti saat udah nikah.. Istrinya lari-lari pake daster angkatin jemuran suaminya asyik main hape sambil ngelirik males dan berkata 'noh sem_vaknya jatuh! Mau cosplay jadi Cinderella yang ninggalin sepatu kacanya? Kurang joz kamu itu, masa sing mok tinggalin sem_vakmu!'


"Mas bukan waktunya ngegombal lah.. Hmm terus kita mau nunggu hujan reda? Di sini? Ini sudah malam mas." Ndis menatap langit yang belum ada niatan berhenti menumpahkan air untuk menyejukkan bumi.


"Kamu maunya gimana, kalau ngajak nerobos hujan jelas aku enggak mau dek. Terlalu bahaya buat kamu." Dewa melakukan panggilan video pada nomer Lintang. Memberi kabar jika mereka belum bisa pulang karena terjebak derasnya hujan.


"Ini salahku, coba aja aku tadi enggak ajak mas jalan... Maaf mas.." Ndis menunduk, seperti menyesal karena udah membuat mereka terdampar di sana.


Setelah mematikan telpon, Dewa meraih tangan Ndis. "Bukan kamu yang salah.. Aku yang ngajak kamu ke sini. Hmm dek ini udah malem, aku enggak mau kamu nyampe enggak pulang karena aku. Hujan juga masih deres banget.. Kamu mau nunggu hujan reda?" Ndis mengangguk mantap. Tanpa Ndis tahu, Dewa sudah menghubungi Jo untuk menjemput Ndis agar bisa segera pulang ke rumah.


Udara makin dingin, pemilik warung sudah menutup warungnya sejak tadi karena berpikir tidak akan ada lagi pelancong yang mampir untuk berbelanja.


"Kenapa diem aja?" Dewa menyenggol bahu Ndis ringan.


"Ini hujan lho mas kok awet banget. Dari sore enggak berhenti juga.." Ndis seketika kaget oleh bunyi petir setelah dia menyelesaikan ucapannya tadi.


"Aku kalau hujan inget dia mas..." Dewa langsung menatap serius pada Ndis.


"Dia? Siapa?" Hatinya udah deg-degan nunggu kalimat selanjutnya dari Ndis.


"Jemuran ku mas.. Dia pasti udah kering, sayang banget kalau enggak ada yang angkatin baju-bajuku." Dewa mengacak rambut Ndis, Ndis tertawa melihat Dewa yang udah menahan nafasnya saking seriusnya mendengar perkataan dek pacar.


Bunyi klakson mobil mengagetkan keduanya. Jo keluar dari dalam mobil, Ndis menatap Dewa yang tersenyum melihat kedatangan Jo.


"Mas.. Maksudnya apa ini?"


"Kamu pulang aja bareng Jo. Jo, maaf ya ngerepotin kamu.. Hmm kamu cepet juga nyampe sini. Udah pernah ke sini?" Tanya Dewa basa-basi.


"Iya pernah beberapa kali sama Bagas dan Fajar. Ndis ayo pulang, anak cewek malem-malem masih keluyuran enggak baik tahu! Kalau jadi adikku ku tak cengkiwing centelke lawang kowe! (Diangkat terus digantung di pintu kamu!)"


"Heeeh sopan! Aku sama kamu aja duluan aku lahirnya! Aku enggak mau pulang sama kamu Jo. Ngeselin!" Merajuk hmm.


"Dek.. Nurut ya, pulang gih sama Jo. Aku enggak apa-apa." Dewa meraih kembali tangan Ndis.


"Noh dengerin omongan calon suamimu! Ayo pulang!"


"Tapi mas.." ini orang masih keukeuh pengen ngegembel bareng Dewa di emper warung ternyata! Kan main setianya!


Dewa mencium kening Ndis, diusapnya pelan kepala gadisnya. "Nanti sampai rumah langsung hubungi aku ya.. Hati-hati bawa hatiku.. Aku sayang kamu."


"Alamaaak hargai aku woeee hargaiiiii!!" Jo bertingkah seperti cacing kepanasan melihat adegan ea ea tadi.


Akhirnya setelah sedikit drama, Ndis mau juga pulang bareng Jo.


"Jo.. Hati-hati, enggak usah ngebut. Jalannya licin, jaga Ndis ya.." Anggukan Jo menjawab perkataan Dewa.


Ndis menengok ke belakang, senyum Dewa masih jelas terlihat di matanya. Sampai di ujung jalan, saat sosok Dewa sudah tak nampak lagi barulah Ndis menatap lurus ke jalanan.