Angel!!

Angel!!
Bab 49. Sakit 2



Dengan sedikit ngotot, akhirnya Fajar berhasil membawa Meica ke klinik. Setelah diperiksa oleh dokter di sana, ternyata asam lambung naik dan sakit kepala adalah penyebab Meica bisa sampai pingsan di kamar kost.


"Harusnya kamu ikuti saran dokter buat opname dulu." Suara datar tapi berselimut perhatian.


"Dokter itu berlebihan, aslinya aku enggak apa-apa." Berusaha membela diri.


"Kamu sampai pingsan gitu kok bilang enggak apa-apa piye to! Lain kali jangan pernah nunda makan! Kamu tahu kan di sini kamu sendiri, jaga dirimu sendiri, kalau kamu aja abai sama kesehatanmu, jangan mimpi bisa raih apa yang kamu inginkan!" Bukan marah tapi, Fajar khawatir.


"Iya udah iya aku salah.. aku minta maaf, udah ayo pulang." Mengalah agar tidak terjadi perdebatan berkepanjangan.


"Apanya yang pulang? Kamu harus makan dulu, itu ada warung bubur kacang ijo. Makan dulu. Baru aku anterin pulang!" Fajar kasihan dengan Meica, mukanya pucat, tapi dia masih mencoba untuk tetap tersenyum dan bercanda dengannya.


Jalannya saja masih sempoyongan. Karena dia mempunyai rasa kemanusiaan dan peduli yang tinggi, dia raih tangan Meica dan menuntunnya berjalan. Beberapa pasang mata melihat mereka dengan pandangan biasa aja. Ya biasa, mau gimana lagi? Mereka masih di area klinik, rata-rata orang yang di sana pasti sedang sakit atau baru sembuh dari sakit. Mereka yang melihat Fajar dan Meica merasa hal itu wajar. Tak ada yang aneh sehingga perlu dijulid'tin.


"Udah.. Aku bisa sendiri." Ingin melepas genggaman tangan Fajar.


"Enggak usah debat sama aku. Pakai tenaga mu untuk makan nanti, sekarang aja kamu masih gemetaran gini. Aku yakin buat angkat sendok pun enggak kuat."


Meski pelan, mereka sampai juga di warung bubur yang ditunjuk tadi. Tak butuh waktu lama pesanan mereka datang. Hanya Meica yang dipaksa makan oleh Fajar, karena dia sendiri lebih memilih memesan wedang jahe aja.


"Satu suap lagi. Jangan bantah!" Dengan telaten Fajar menyuapi Meica. Meski awalnya terus menolak tapi, akhirnya dia menurut. Agak malu karena dia merasa perhatian Fajar untuknya udah bisa membuat hatinya menari Poco-Poco.


"Minum dulu obatnya, harus sekarang. Atau perlu aku bantu juga?" Ucap Fajar dengan muka serius.


"Bantu?" Tanya Meica memiringkan kepalanya.


Dalam bayangan Meica, dia mengartikan 'bantu minum obat' ala drama Korea atau komik-komik manga, di mana cowok membantu meminumkan obat dengan cara kissing. Ternyata pikiranmu udah tercemar asap dukunnya kak Diaz dan pirus kemesuman dari kak Ezza wahai gadis belia! Sungguh kesian...


"Iya. Sini, aku bantu buka bungkus obatnya." Weladalah.. Cuma bantu buka bungkus obat ternyata. Uluh-Uluh.. kesian jiwa jomblo Meica terlalu jauh bertraveling pemirsah!


"Makasih Jar.. Makasih banget." Ucap Meica saat tiba di teras depan kostnya.


"Enggak perlu bilang makasih ratusan kali, bilang aja kalau emang butuh bantuan. Kalau aku bisa pasti aku bantu. Obatnya jangan lupa dihabisin. Tiga hari lagi aku antar check up." Meica terdiam sesaat mendengar penuturan Fajar.


"Kenapa? Masih pusing? Langsung masuk aja, tidur. Aku tak langsung pulang." Sambil menyerahkan plastik yang berisi roti tawar, selai, dan macam-macam jajanan yang Fajar beli untuk Meica tadi.


"Jar.. Kamu baik. Sangat baik. Kenapa sahabatmu itu enggak bisa melihat kebaikanmu? Dia pasti menyesal jika suatu saat benar-benar kehilangan kamu dari hidupnya." Tutur Meica terus terang.


"Terkadang orang akan lebih menghargai saat sudah kehilangan." Imbuhnya lagi. Membuat Fajar langsung memikirkan Ndis.


Sedang apa dia sekarang? Dia yakin gadisnya itu pasti sedang bergelut dengan selimut dengan rambut acak-acakan tak teratur. Tunggu.. Gadisnya? Bahkan Ndis saja tidak memberi kejelasan apapun tentang hubungan mereka. Hanya sahabat.. Itu hubungan yang sampai sekarang menjadi nama untuk hubungan mereka.


"Masuk gih.. Buruan istirahat." Fajar menyuruh Meica masuk ke dalam kostnya.


"Makasih ya.." Sekali lagi ucapan terimakasih terdengar di telinga Fajar.


Fajar hanya mengangguk. Setelah memastikan Meica masuk ke dalam kamar kostnya, Fajar langsung melesat membelah jalan untuk pulang ke gua yang dia huni.


Jalanan masih ramai, wajar saja ini kota.. berbeda dengan desanya. Jam segini, di desanya yang keluar paling mbak kunti, mas genderuwo, dedek tuyul, atau si unyu baby ngepet!


Dia tak langsung pulang, dihentikan motor pinjaman itu di tepi jalan. Ramai.. karena dari jalan itu terhubung sebuah taman yang aktif sampai dini hari. Tak sepi meski matahari sudah bersembunyi, digantikan sinar bulan yang malu-malu tertutup awan.


Fajar mengamati mereka yang di sana. Ada yang sibuk dengan pasangan, ada yang sibuk bikin konten, ada yang asyik selfi puluhan kali.. padahal mau berkali-kali pun hasil jepretan kamera tetap sama! Menampilkan wajahnya aja. Enggak mungkin setelah puluhan kali berselfi layar ponselnya memunculkan pantulan wajah boneka balbi (Barbie) mau seimut apapun gaya yang ditunjukkan ke kamera!


Sebenarnya Fajar ngapain sih di sana? Mau ikutan bikin konten? Atau ngintipin gaya pacaran anak kota? Entahlah hanya dia dan Sang Pencipta yang tahu.