
Hari ini adalah hari terakhir Ndis mengajar di paud, karena guru yang cuti melahirkan dulu sudah bisa kembali mengajar. Ada rasa sedih saat menyampaikan kata perpisahan untuk anak didiknya di sana. Meski hanya beberapa bulan mengajar, tapi Ndis merasa ada ikatan tersendiri baginya untuk sekolah paud itu.
"Kalau sedih nangis aja, pundakku selalu ada untukmu." Ucap Fajar berusaha menghibur Ndis.
"Biasa aja." Ndis sok cuek berusaha menyembunyikan isi hatinya.
"Apa mau aku peluk?" Tahu jika Ndis saat ini pasti sedang sedih.
"Kenapa harus ada pertemuan kalau perpisahan sangat menyakitkan." Ndis tak kuasa lagi menahan air mata itu.
"Karena dari sana kita diajarkan menghargai apa yang kita punya saat ini. Jaga selagi ada, jangan tangisi saat dia pergi." Berusaha sebijak mungkin.
"Ayo pulang aja, aku kok makin baper lama-lama di sini." Ndis berdiri. Berjalan menjauhi sekolah yang beberapa bulan ini memberi keceriaan untuknya.
"Ke danau aja ya," Ajak Fajar yang sudah siap di atas motor. Ndis diam tak menjawab. Rasanya sedih sekali dia hari ini.
Sekali lagi, Ndis berada di belakang jok penumpang motor Fajar. Tak ada obrolan, tak ada candaan di sepanjang perjalanan. Keduanya larut dalam pikiran masing-masing.
"Sampai. Ayo masuk." Fajar juga tidak menyadari dua puluh menit terasa sangat singkat dalam kebisuan yang mereka ciptakan selama perjalanan.
"Aku mau pulang aja Jar," Ndis menekuk mukanya.
"Mau aku gendong masuk sana?" Ndis makin manyun mendengar ucapan Fajar.
"Oke ayo pulang." Fajar mengalah.
"Enggak usah, ayo masuk." Laaah ini yang labil sebenarnya siapa?
Udara di sana sangat sejuk. Ada beberapa gazebo yang menunggu untuk di singgahi. Ingat kejadian waktu Wanda datang saat Beben mau nembak Virza di novel KTK? Ini adalah danau yang sama, danau bersejarah untuk Beni karena dari sini dia disadarkan kepada siapa hatinya harus berlabuh.
"Kenapa ngajak ke sini kalau ujungnya diem aja." Ndis menatap indahnya air tenang di depannya.
"Mau ngomong apa? Semua yang perlu aku omongin udah aku ungkapin kok."
Ndis tahu apa maksud Fajar. Fajar sedang membahas perasaannya.
"Datang ke nikahanmu." Ucapnya singkat.
"Masa gitu doang?!" Enggak puas dengan jawaban Ndis.
"Ucapin selamat. Poto bareng. Duduk di pojokan sama Jo, sambil makan kacang rebus." Ndis mendorong pundak Fajar,
"Diieh enggak asik banget sih kamu Jar! Malesin!" Ndis bilang males tapi segaris senyum muncul di wajahnya.
"Kalau kamu bukan jodohku, Aku akan dengan lapang dada menerima itu. Aku doain untuk kebahagiaanmu, dengan siapapun kamu nikah nanti.. Aku akan ucapkan 'berbahagialah agar hancur ku enggak sia-sia'." Fajar mencoba tersenyum meski terlihat sekali hal itu sangat dipaksakan.
Secara tak langsung, Ndis telah merobek hati Fajar saat ini. Fajar dipaksa membayangkan pedihnya perpisahan yang belum terjadi.
"Jar..." Panggil Ndis membuat Fajar menoleh ke arah gadis itu.
"Kamu juga ya. Harus selalu bahagia."
Fajar mengerutkan keningnya, ada apa ini? Kenapa rasanya sakit banget saat Ndis berucap demikian. Hanya anggukan yang Fajar berikan untuk membalas kalimat Ndis.
"Ternyata kesedihan itu nular ya.." Ucap Fajar pelan.
"Kan udah aku bilang, kita pulang aja... Kamu ngeyel ngajak ke sini."
"Maksudku cuma mau hibur kamu tapi, sekarang ini malah aku yang butuh sandaran." Ndis tersenyum mendengar ucapan Fajar.
"Kamu maunya apa? Itu tiang gazebo kan bisa buat nyenderin kepala." Ndis menunjuk tiang gazebo di samping Fajar.
"Maunya kamu." Deg. Dua kata itu membuat Ndis tertegun. Tapi, dia langsung bisa menguasai situasi.
"Bercanda mu enggak lucu. Nih minum dulu, biar enggak oleng!" Jus jeruk dalam cup yang mereka pesan tadi digelindingkan Ndis ke arah Fajar.
Iya memang enggak lucu karena aku juga enggak lagi bercanda,
Hanya berani menjawab dalam hati. Karena Fajar enggak ingin terjadi lagi keretakan di antara mereka seperti beberapa waktu yang lalu. Lebih baik diam, menyimpan rasa yang ada dan selalu bisa di dekat Ndis dari pada nguber-nguber Ndis tapi ujungnya mereka jadi berjauhan karena perasaan tak nyaman yang Ndis rasakan.