Angel!!

Angel!!
Bab 68. Ras Terkuat Di Muka Bumi



"Ica, udah jadi dokter ya? Udah kelar kuliahnya?" Tanya ibu-ibu pemilik warung yang terlihat ramah.


"Bentar lagi selesai ceu." Meica melihat ke arah Fajar yang sedang menunggunya di atas motor tanpa mau turun atau bergeser sedikitpun dari tempatnya duduk. Takut amat posisinya di ambil Meica ya Jar?


"Eta saha Ca?" (Itu siapa Ca?) Tanya bu warung yang kepo dengan sosok Fajar karena memang terlihat bukan seperti orang dari desanya. Dia makhluk asing yang nyasar bu.. mohon dimaklumi!


"Batur urang ceu. Sabaraha sadayana ieu?" (Temenku ceu. Berapa semuanya?)


"Atuh kasep pisan Ca, sugan teh eta kabogoh maneh" (Ganteng bingitz Ca, kirain dia tuh pacar kamu.)


Meica tak banyak cakap di warung itu karena melihat ekspresi Fajar yang terlihat bete. Salah sendiri ngintilin orang ye kan?


Fajar tahu dia dighibah tapi, dia enggak ngerti mereka ghibahin apa tentang dirinya yang disebut tamvan rupawan sama si ibu warung. Alhasil dia hanya diem aja, dan tersenyum saat si ibu warung tersenyum ke arahnya.


Fajar dan Meica tancap gas akan kembali ke rumah. Sampai di sana, mereka disambut oleh Kiki adik Meica. Di mana ibu Meica? beliau sudah berpulang ke Rahmatullah. Mereka hanya tinggal bertiga, ayah, Meica dan Kiki si bungsu. Sebuah kebanggaan bagi ayah Meica memiliki putri sepintar dan mandiri seperti Meica. Saat gadis seusia Meica di kampungnya sudah banyak yang menikah dan menggendong anak kemana-mana, Meica masih setia menggendong beban hidup hehehe.. bukan deng. Meica ingin meraih cita-citanya dan mewujudkan harapan almarhumah ibu yang ingin anak-anaknya sukses meski dalam keterbatasan.


"Siapa yang diajak pulang si Ica ceu Nung?"


Seorang ibu-ibu yang sejak tadi memperhatikan tingkah polah Meica dan Fajar yang berbelanja di warung ceu Nunung tak bisa menahan rasa ingin tahunya.


"Ica tadi bilang dia temennya. Ganteng ya bu?" Ceu Nunung tersenyum mengingat wajah Fajar.


"Hilih masa temen diajak pulang kampung. Pasti pacarnya itu bu!" Sergah ibu-ibu lain yang ikut menimpali obrolan tentang siapa Fajar sebenarnya.


Kelian para emak enggak boleh kek gini ya gaess, meski para emak punya julukan 'ras tertinggi di muka bumi' tapi, enggak boleh juga ghibah sana sini tanpa bukti dan kebenaran yang pasti.


"Itu juga teh yang aku pikirkan tadi. Mau pamer dia, mentang-mentang udah jadi dokter terus bisa seenaknya bawa pulang cowok asing ke rumahnya? Kita laporin aja sama pak RT teh! Biar digrebek itu rumahnya. Kita enggak mau kan desa kita ini jadi jelek dan kena azab karena biarin perzinahan di kawasan kita?! Iiih amit-amit si Ica itu ya.. Makin enggak bener kelakuannya." Kompor di mana-mana!


"Eh eh ibu-ibu ini enggak boleh berpikir jelek tentang Ica. Dia kan baru datang dari kota, jangan suka berpikir buruk bu. Ica ini udah bikin desa kita bangga karena dia akan jadi dokter, profesi yang belum ada di sini. Apa ibu-ibu enggak bangga punya tetangga dokter, cantik, muda, ramah, dan masih single! Pasti jadi rebutan para bujang nantinya. Aku aja bangga lho bu sama keberhasilan Ica." Ceu Nunung berusaha membuka jalan pikiran para emak yang diselimuti sifat iri dan dengki.


"Kalau cuma buat obatin orang sakit kan enggak perlu dokter ceu, di sini banyak dukun beranak, tukang pijet, obat-obatan juga di warung banyak yang jual. Bangga apa? Aku kok biasa aja!" Mungkin yang berucap ini sodara jauhnya Neta gaess, agak nyeleneh kalau ngomong.


Ceu Nunung malas menanggapi berbagai tudingan tak baik yang emak-emak layangkan untuk Meica. Wanita paruh baya itu memilih diam. Capek juga ngomong kok enggak digubris.


Meica tak lantas berdiam diri di rumah, dia langsung menuju ke rumah pak RT dan RW setempat untuk meminta ijin kepada perangkat desa tersebut agar diberi ijin supaya Fajar diperbolehkan menginap barang satu malam di rumahnya.


"Dek, kakak mu kemana?" Tanya Fajar kepada Kiki yang tengah asik bermain boneka berukuran besar pemberian Meica.


Boneka yang Meica bawa jauh-jauh dari kota, di mana sepanjang perjalanan Fajar mengeluh tentang ukuran boneka yang segede gambreng itu. Barulah dia tahu jika boneka yang juga menyumbang kerepotan untuknya itu Meica bawa untuk adik tersayangnya.


"Teteh ke rumah pak RT a, aa kangen ya? baru juga ditinggal sebentar hehehe." Celoteh gadis kecil itu hanya ditanggapi senyuman saja.


"Rumah pak RT jauh enggak?" Tanya Fajar lagi.


"Aa mau nyusul teteh? Sok Kiki anterin." Kiki meninggalkan boneka itu begitu saja tapi, sesaat kemudian dia kembali lagi dan berlari ke arah boneka beruang warna coklat itu dan memasukkannya ke dalam kamar.