
Fajar dan Jo serta Bagas sedang ada di rumah Fajar. Damar, adik Fajar melihat ketiga lelaki gabut yang diam saat kedatangannya jadi sungkan ikut bergabung sekedar ngabisin kuaci di depan mereka.
"Dam.. Mau ke mana?" Tanya Bagas kepada Damar yang beranjak meninggalkan ketiganya.
"Ke depan mas. Beli mijon!" Terang Bagas.
"Yok sama aku, aku gabut makin mumet gabung sama mereka." Bagas berdiri dan bermaksud keluar mengikuti jejak Damar yang ingin ke warung.
"Heeeh upil kudanil, mau kemana? Duduk!" Jo mengisyaratkan Bagas agar kembali duduk bersamanya dan Fajar.
"Opo lho, suntuk aku Jo. Aku pulang buat ripresing (refreshing), bukan ikut puyeng sama masalah kelian." Bagas yang baru menginjak batas pintu langsung mendapat lemparan bantal yang memang ada di sofa oleh Fajar.
"Sini!" Satu kata itu langsung membuat Bagas kembali ke tempatnya. "Dam, nitip aja ya." Lagi-lagi Bagas menghentikan langkah Damar.
"Nitip apa mas?"
"Nitip salam buat anaknya yang punya warung, uayuu rek. Sekalian mintain nomer hpnya ya hahaha." Mendengar itu Damar hanya mengacungkan jempol dan berlalu pergi.
"Jangan bikin palaku tambah ngebul lah Gas." Fajar memijit pelipisnya. Mumet sekali keknya dia ini.
"Kalau aku jadi kamu ya Jar, aku kejar yang pasti aja. Membuat pacarmu yakin sama kamu. Siapa nama pacarmu itu? Rica-rica ya? Nah mending kamu fokus aja sama rica-rica. Cewek suka pembuktian Jar. Gombalan emang bikin hati cewek berbunga-bunga tapi, mendengar ceritamu.. Rica-rica ini jenis cewek sat set, enggak suka model cowok omong doang. Dia punya karir bagus, wajah cantik, body aah, mau cari apa lagi kalau bukan pasangan? Dan kamu yang jadi pasangan dia malah leda-lede (main-main) sama perasaannya. Yo alamat di buang ke kawah ijen buat dijadiin tumbal di sana lah!" Tutur Bagas memberi kata pembuka.
"Terus aku ke sana aja buat nemuin Meica?" Pertanyaan tak penting yang harus dijawab.
Jo dan Bagas saling pandang, tak percaya dengan cara pikir Fajar yang super lelet.
"Enggak usah Jar, kamu di sini aja. Oiya, apa aku udah pernah bilang ini ke kamu? Kamu cocoknya sama siluman kelabang aja!" Jo langsung ngakak karena ucapan Bagas. Siluman kelabang yang dimaksud adalah queen of drama, sopo? Neta!
"Bang_ke! Aku tanya serius kelian bisa-bisanya malah bercanda gini." Fajar terlihat kesal.
"Jo, kalau kamu di posisi Fajar, apa yang kamu lakuin?" Bagas mengambil ponsel miliknya yang terus berdering, dengan sekali tekan ponsel itu langsung mati. Bagas menonaktifkan ponselnya.
"Sahabat sama pacar ya? Aku pilih sahabat sih aslinya Gas. Enggak ada mantan sahabat di dunia ini. Aku, kamu, si tomcat sama Ndis kan dari kecil bareng-bareng, enggak tega aja ninggalin salah satu dari kelian untuk kepentingan pribadiku. Tapi, ada tapinya.. Di kasus Fajar ini, Fajar bukan dihadapkan dengan pilihan memilih pacar atau sahabat tapi memilih melangkah ke depan atau diam ditempat dengan bayangan masa lalu. Aku yakin kalau terus memikirkan Ndis, tomcat satu ini bakal gamon alias gagal move on! Sedangkan dia sendiri tahu kalau Ndis sudah punya tunangan."
"Nah! Pintar! Rungokno lho jar, jembreng kui kupingmu! (Dengerin lho Jar, lebaran itu telingamu!)".
" Tadi telepon seko sopo Gas?" (Tadi telepon dari siapa Gas?') Tanya Jo penasaran.
"Mantan. Aku paling males kalau mantan masih nguber-nguber aku, kayak aku ini punya hutang aja ke dia nyampe dikejar mulu. Giris banget aku!" Bagas manyun.
Pembicaraan ketiganya berakhir saat Jo ditelpon bapaknya untuk kembali pulang. Jo bukan anak pembangkang, satu telepon saja dari sang bapak langsung membuat Jo bergerak pamit pulang. Sedangkan Bagas, dia masih asyik tiduran di sofa ruang tamu rumah Fajar. Dan Fajar mulai memikirkan pergerakan untuk mencegah Meica pergi dari hidupnya. Dia tak mau kejadian saat dia menyukai Ndis tapi terlalu lama dia simpan sendiri itu terulang kembali pada Meica. Saking lamanya dia memendam rasa, dia justru harus merelakan Ndis bersama pria lain.