
Lintang memperhatikan kakaknya yang bolak-balik melihat ponselnya. Enggak mau kepo lebih lama, Lintang menanyakan apa gerangan yang membuat kakaknya serajin itu nengokin benda berbentuk persegi panjang itu.
"Kenapa to mbak?" Yang tadinya rebahan jadi duduk memeluk bantal.
"Apa?" Ganti bertanya, dia melirik sekilas adiknya yang malah nyengir menunjukkan deretan giginya.
"Kangen pak Dewa ya? Cieee.. Mulai bucin nih kayaknya hahaha." Tidak ingin menanggapi perkataan adiknya. Ndis diem aja, nyatanya dia emang menunggu balasan pesan dari Dewa, pacar sekaligus tunangannya itu.
"Uhhhuk diem aja nih, beneran kangen pak Dewa ya mbak?" Lintang menggeser duduknya lebih dekat ke sisi kakaknya.
Suara deru mobil mengalihkan fokus Lintang yang masih ingin kepo dan ngisengin mbaknya. "Mbak.. Itu pak Dewa. Cieee yang mau ngedate. Wah dia bawa mobil mbak, asik banget ih yang mau jalan-jalan sama calon halalnya."
Ini kok terdengar seperti Lintang yang antusias ya?
Ndis melempar bantal ke arah adiknya yang makin cerewet setelah dia menjalin hubungan dengan Dewa yang notabene adalah guru di sekolah Lintang itu.
Memberi salam, Dewa mengawali kunjungannya dengan bersalaman dengan bapak Parto dan ibu Shela. Hal yang wajib dikerjakan saat bertamu ke rumah orang adalah menjaga tingkah laku dan sopan santun.
Berbincang sebentar dengan bapak dan ibu Ndis, Dewa memberanikan diri untuk meminta ijin mengajak Ndis jalan-jalan. Apa diijinkan? Iya, dengan syarat Lintang ikut mengawal kakaknya itu pergi. Syarat yang diberikan Lintang sendiri, karena orang tuanya hanya iya-iya saja saat Dewa meminta ijin tadi.
"Pak.. Aku pastiin enggak ada setan diantara mereka berdua! Karena ada aku yang nemenin mereka." Menepuk dadanya bangga sekali.
"Emang enggak ada setan Lin, karena kamu yang berubah jadi dedengkotnya udah ikut ngintilin." Ndis berkata sambil berjalan mendekati bapak dan ibunya untuk berpamitan juga.
"Idiih idiiih yang sensi karena pengen berduaan aja!" Lintang tertawa mengejek Ndis.
Dengan selesainya drama adik kakak yang saling ejek, akhirnya Dewa menggiring dua gadis cantik itu ke dalam mobil yang dia bawa. Di dalam mobil tak henti-hentinya Lintang menggoda Dewa ataupun Ndis. Kadang Ndis yang kesal melempari Lintang dengan tatapan mata penuh intimidasi. Tapi, Lintang tak takut sama sekali dengan tatapan kakaknya itu, dia udah kebal!
"Kelian ini lucu banget ya, bisa awet muda aku kalau sering ngajak kelian jalan-jalan begini." Suara tawa renyah Dewa seperti motivasi untuk Lintang terus-menerus menggoda kakaknya.
"Terserah kamu aja. Senyamannya kamu Sya. Tapi aku saranin mas aja, soalnya sekarang enggak di lingkup sekolahan. Jadi panggilan pak itu enggak harus kamu sematkan untuk manggil aku."
Lintang manggut-manggut mengerti. Dengan lirikan mata dan sedikit menyunggingkan senyum, Dewa melihat Ndis yang dari tadi kesal dengan ocehan Lintang. Lintang pura-pura memainkan ponselnya agar mereka tidak merasa canggung akan hadirnya , padahal yang terjadi sebenarnya.. Lintang sedang mengabadikan momen semobil untuk pertama kalinya antara kakak dan gurunya.
"Anggep aja aku kasat mata. Aku bisa pura-pura pingsan kalau diperlukan!" Tak khayal celoteh Lintang langsung mendapat gelak tawa dari Dewa.
"Lin, kamu kok ngoceh mulu.. Bisa diem enggak sih? Lama-lama kamu kok mirip Neta!" Gemas, Ndis melempar satu pack tisu ke arah Lintang.
Begitulah seterusnya, selama perjalanan Lintang dan Ndis adalah hiburan untuk Dewa. Terpampang nyata gurat kegembiraan itu di wajahnya.
Sampai di kawasan puncak, mereka semua turun. Lintang berlari keluar seperti anak ayam yang terlepas dari kandangnya. Ndis nyampe geleng kepala melihat kelakuan adiknya. Apalagi saat Lintang langsung merekam apapun yang dia tangkap dengan matanya itu ke kamera ponsel, Ndis nyampe mikir 'Ini anak kena sawan apa?'
"Kamu suka?" Tanya Dewa melihat Ndis yang masih fokus ke adiknya.
"Eh.. Iya, iya suka.." Jawab Ndis tergagap. Selama ini dia belum pernah jalan bareng cowok selain Jo dan Fajar, ini adalah momen pertamanya jalan bareng mas pacar.
"Suka aku apa suka pemandangan di sini?" Tanya Dewa lagi sekarang lebih mendekat dan memberanikan diri menggenggam jemari Ndis yang nganggur.
Ndis melihat tangannya yang digenggam Dewa, menatap kedua mata lelaki itu setelahnya. Di tengah temaram cahaya bulan dan dinginnya angin malam, Dewa seperti bisa mengupgrade pesonanya malam ini.
"Kamu sering ngajak para pacarmu ke sini mas?" Pertanyaan yang dijawab dengan pertanyaan.
"Enggak. Hanya kamu. Dulu aku enggak tinggal di daerah sini, belum tahu ada tempat sebagus ini di sini. Dan saat aku udah jadi penduduk desa ini, kamu adalah satu-satunya wanita yang mampu mengambil hati serta perhatianku dalam waktu bersamaan."
Ndis tersenyum, senyuman yang membuat Dewa ikut merasakan tarikan pada dirinya agar berjanji untuk selalu menjaga senyuman itu agar tidak berubah menjadi tangisan.