Always Remember

Always Remember
Terima kasih, Cinta Sejatiku.



Suara riuh rendah tepuk tangan yang diiringi takbir dari kurang lebih 1500 siswa dan guru menggema di seluruh lapangan menyambut kepala sekolah baru. Setelah di undur satu bulan akhirnya Khusnul khatimah resmi memiliki pemimpin baru yang muda, tampan dan juga soleh. Siapa lagi kalau bukan, Muhammad Khafa Hamidzan. Suamiku.


Aku duduk dibarisan kursi khusus keluarga besar pemilik Khusnul khatimah Islamic boarding school. Ku tatap penuh bangga Khafa yang mulai memberikan sambutannya sebagai kepala sekolah baru. Dengan jas hitam yang berpadu dengan kemeja putih di dalamnya ia bicara penuh wibawa. Tangannya yang sesekali memegang mic memperlihatkan jam tangan hitam yang ku hadiahi di hari ulang tahunnya waktu itu. Cocok sekali.


Dengan bangga, ia memperkenalkanku pada seluruh orang di hadapannya sebagai istri sekaligus ibu kepala sekolah yang akan mendampinginya kemanapun dan dalam keadaan apapun. Senyumanku terus merekah seiring ucapan selamat yang di ucapkan orang-orang di sampingku.


Selesai acara inti, Khafa berjalan menghampiriku dengan sebelah tangan di saku celananya. Lalu, kami semua berdiri dan di salami satu persatu seluruh santri, guru dan keluarga besar Khusnul khatimah Islamic boarding school.


Mereka membanjiri kami dengan ucapan selamat yang tak henti-henti. Meski rasanya aku masih terasa kaku karena tidak terbiasa. Beda dengan Khafa, ia terlihat supel. Sisi lainnya begitu kentara. Ia begitu matang, bukan lagi Khafa yang ku kenal belasan tahun yang lalu. Dengan ramah dan penuh wibawa ia menerima semua ucapan disertai senyuman dan tatapan teduhnya.


"Amanah ini Le, ingat ya. Amanah. Aba bangga sama antum." Aba menepuk pelan dada anak lelakinya serta menatapnya penuh bangga.


Khafa mengangguk takzim. "Insya Allah, Aba. Ana akan menjaga amanah dengan baik."


Ummi memelukku hangat dan memperkenalkanku pada sebagian keluarga besarnya yang belum aku kenal. Hubungan kami semakin baik setelah kejadian waktu itu. Ya, aku terus membuktikan pada Aba dan ummi bahwa aku bisa mendampingi Khafa menjadi sosok yang mereka mau. Dan meyakinkan Khafa untuk bisa menuruti kedua orang tuanya tanpa harus menjadi orang lain. Memang semua butuh proses. Tapi, aku yakin bahwa kami pasti bisa melewati segala hal ujian yang kami hadapi.


"Selamat ya, ibu kepala sekolah baru," ucap Fitri dengan nada di tekan kepadaku. Ia orang terakhir yang mengucapkan selamat padaku. Senyumannya terlihat bangga kepadaku dan juga Khafa bergantian. Sedangkan Khafa, ia sibuk mengobrol dengan beberapa ustadz pengajar lainnya.


"Gak ada yang berubah di diri gue. Kita masih bisa tetep gue-elo kan?" bisikku padanya.


Fitri tertawa halus sambil menutup gigi gingsulnya. "Pencitraan lah dikit, kalo depan banyak orang kita aku-kamu." Ia melanjutkan tawa renyahnya.


Aku mengangguk pelan.


"Lo sakit Mbun? Pucet banget muka Lo." Fitri menatapku perhatian.


"Iya, pusing dikit. Tadi pagi gak sarapan. Ga selera."


"Oh gue tau, pasti Lo gak sabaran ya sama acara ini. Sampai-sampai ga selera sarapan gitu," tuduhnya.


"Iya, gitu deh. Gak tau gue juga." Tiba-tiba handphone di saku gamisku bergetar. "Bentar Fit," ucapku pada Fitri. Lalu, aku segera melihat handphone milik Khafa itu. Sebelum naik mimbar, ia sempat menitipkan handphonenya kepadaku. Aku melihat beberapa kontak yang mengirim pesan ucapan, salah satunya ada nomer tak di kenal mengirimkan pesan padanya. Ku fikir ini penting. Jadi ku beranikan diri untuk membuka pesan itu. Karena sudah tidak adalagi rahasia diantara kita. Meski sebenarnya aku tidak biasa juga terlalu ikut campur dan posesif pada Khafa. Aku percaya padanya. Tapi kali ini, aku merasa ingin membuka handphonenya.


[Assalamualaikum mas Khafa. Ku dengar, hari ini mas akan resmi menggantikan Aba sebagai Kepala sekolah di Khusnul khatimah. Semoga mas Khafa dapat menjalankan amanah ini dengan baik. Barakallahu fiika. Aku tahu, mas itu hebat. Mas bisa berbakti pada orang tua meski aku tahu banyak yang mas korbankan dalam hidup mas selama ini. Sekali lagi, barakallah mas. Salam untuk istri mas dari aku. Alya Khairunnisa.]


Alya Khairunnisa. Aku tiba-tiba terpaku menatap layarnya. Kemudian menarik sebelah bibirku membentuk senyuman hambar. Sepertinya, ada yang pernah mempunyai harapan besar pada suamiku.


"Kenapa?" Pertanyaan Fitri mengagetkanku.


"Eh, nggak Fit," jawabku kikuk. "ini," lanjutku sambil menunjukkan pesan itu pada Fitri.


Fitri memicingkan matanya. "Alya?"


Aku mengangguk pelan.


"Gak apa-apa. Ucapan wajarlah. Gak perlu di pikirkan."


"Siapa yang mikirin," cicitku.


"Khafa tuh udah punya kamu seutuhnya. Jangan khawatir, kecuali kalo dia mau poligami," ejeknya.


"Fitri!" Mataku membulat sempurna menatap Fitri tajam. Namun, Fitri malah tergelak menertawakanku.


Rasanya, ini bukan waktu yang tepat untuk mencemburui Khafa cuma karena pesan ucapan dari Alya. Karena ada beberapa pesan ucapan lain juga dari sahabat-sahabatnya. Jadi, walaupun aku bertindak seperti itu pada Fitri bukan berarti aku cemburu beneran. Aku harus lebih siap menghadapi hidup ke depan dengan dewasa dan menerima semua takdir yang telah Allah amanahkan kepadaku.


Tak terasa, Matahari mulai meninggi. Sorotnya tepat padaku dengan Khafa. Kami segera berjalan melewati koridor menuju ruangan baru Khafa. Keringat terasa membasahi wajahku. Aku merasa kepalaku pusing dan terasa mual pada ulu hati. Entah kenapa, sejak tadi pagi aku memang tidak nafsu untuk sarapan. Rasanya tidak ada makanan yang membuatku berselera. Semakin lama, pandanganku semakin kabur. Tapi tadi aku berusaha menahan. Aku tidak menampakkan di depan Khafa. Aku tidak mau merusak acaranya karena keadaanku. Semakin lama, lututku lemas tak mampu lagi menahan bobot tubuhku sendiri. Kepalaku semakin pusing. Lalu, kesadaranku menghilang.


.


.


.


.


.


.


.


.


"Sayang?" panggil Khafa lembut.


Aku di beri minum segelas air putih dingin oleh Khafa. Lalu ku teguk sedikit airnya.


"Hueekkk! Gak enak! Gak ada rasanya." Aku menggeleng cepat. Baru ku sadari bahwa akhir-akhir ini aku tidak suka dengan air putih. Padahal biasanya, aku selelu menghabiskan dua liter lebih air putih dalam sehari.


Khafa menatap air putih itu bingung. Lalu menyimpannya kembali di meja.


"Sejak kapan air putih ada rasanya?"


Aku menggendikkan bahu lemas. Tak lama kemudian seorang dokter perempuan berkerudung datang ke ruangan kami bersama Fitri.


"Assalamualaikum, selamat siang. Alhamdulillah sudah sadar toh?" sapa dokter itu. Mungkin aku sudah ditangani sebelumnya saat aku belum sadar sepenuhnya.


Aku tersenyum melirik dokter dan Fitri secara bergantian. Senyuman Fitri tidak berhenti ia berikan kepadaku.


"Selamat ya, Mas, Mbak. Kemungkinan besar Mbak Embun hamil. Jaga kondisi kesehatan dan pola makannya ya mas. Jangan sampai terjadi hal seperti tadi lagi," tutur dokter dengan senyumannya.


Bola mata Khafa membulat memberikan sorot bahagia. Tidak menyangka akan secepat ini. Begitupun aku. Meski tubuhku masih merasa lemas, tapi aku seperti mempunyai semangat baru. Aku janji, aku akan menjaga buah cinta kami sepenuh cinta jiwa dan raga.


Setelah merasa baikkan, aku diperbolehkan pulang dengan membawa beberapa vitamin dan obat dari dokter. Ucapan syukur tak henti-hentinya kami ucapkan. Secepat ini, aku masih seperti tidak percaya menerima anugerah Tuhan yang bertubi-tubi. Bahkan Fitri yang lebih dulu menikah dari kami, sampai saat ini belum juga di anugrahi. Kami lebih dulu di percaya.


Fa bi ayyi ala i rabbikuma tukazziban.


Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?


"Sayang, minum dulu susunya." Bisikkan Khafa tepat di telinga kiriku membuat aku merinding. Lalu, aku menoleh padanya yang mulai memelukku dari belakang dan mengusap lembut perutku. "Sedang apa? Jangan capek-capek, ya."


"Cuma ngetik. Kenapa? Nggak bakal buat aku capek kok,"


"Ngetik apa? Kamu masih suka menulis? Puisi buat aku, kah?" Sorot matanya pindah menyelidik layar notebook di hadapanku.


Masih saja ke-pede-an.


Aku menggeleng seraya tersenyum. "Menulis tentang semua kebahagiaan kita. Aku dan kamu," jawabku sekenanya. Tapi, sesuai memang begitu adanya.


Mendengar jawabanku, bibirnya mengerucut seakan berpikir. "Sejak kapan kamu merasa bahagia ketika bersamaku?" tanya Khafa selanjutnya.


Setelah aku jeda sejenak untuk mengingatnya. Aku menggendikkan bahu. "Aku lupa. Mungkin saat pertama kali aku melihatmu. Walaupun saat itu, aku belum bisa selalu bersamamu..." Aku menghela napas lalu melanjutkan kalimatku, "kalau kamu?"


"Jangankan bersamamu, ketika aku menemukan lagi namamu di sosial media saat itu saja, aku sudah bahagia, tahu!" Khafa mencium pipiku sekilas. "Aku yakin mulai saat itu, kalau namamu sudah tertulis untukku ribuan tahun yang lalu di arsy. Dan keyakinanku itu, nyata. Kan?"


Aku mengangguk pelan sambil memejamkan mata sejenak. Ku tatap dalam matanya yang selalu meneduhkan perasaanku itu. "Terima kasih Kha, sudah memperjuangkanku. Sudah mau jadi cinta sejatiku." Ku peluk tubuh hangat itu.


"Jangan berhenti bersyukur. Perjalanan kita masih panjang. Kita berjuang bersama-sama ya," balasnya dalam pelukanku.


Aku mengangguk paham. Lantas, Khafa melepaskan pelukannya. "Aku boleh minta satu permintaan kepadamu?"


"Permintaan apa?"


"Aku mau, kamu berhenti menuliskan semua tentang kita."


"Maksud kamu?'


"Iya, aku tidak mau kisah kita hanya menjadi deretan diksi yang seolah-olah itu semua fiksi. Padahal kamu tau kan? Aku dan kamu itu sebenarnya...." Khafa menyimpan telunjuknya di hidungku.


"Ada."


🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸


END