
Laksana pasir di pantai.
Kebahagian tidak benar-benar bisa kita genggam.
πΈπΈπΈ
Raihan langsung di tangani di ruang operasi, namun hanya selang beberapa menit dokter kembali keluar ruangan di barengi datangnya keluarga Raihan.
Saat dokter mencari keluarga pasien, Andra lah yang pertama menghampiri. Terlihat sekali kecemasan yang ia rasakan, apalagi setelah tau bahwa yang ia tabrak adalah calon suami Kayla.
"Bagaimana dok?" Tanya Andra pada dokter yang menggunakan APD lengkap ruang operasi.
"Mohon maaf, saya sudah berusaha semaksimal mungkin. Namun terlalu banyak luka di bagian dada dan kepala. Korban meninggal sebelum saya melakukan operasi," jelas dokter dengan raut muram.
"Innalilahi wa innailaihi rojiun," ucap Andra. Begitupun aku.
Tangisan Kayla pecah.
Andra menutup wajahnya dengan kasar. "Aku udah bunuh calon suami kamu Kay, maafin aku," gumam Andra bergetar pada Kayla yang berdiri di sebelahnya.
Bukan Andra kamu ngga bunuh. Ini kecelakaan. Bagaimana bisa kamu ngomong gitu.
Ingin sekali aku mengatakan hal itu padanya. Tapi sayang, disini aku hanya mampu diam.
Kayla menangis tanpa henti. "Kenapa sih harus kamu? Harus kamu yang ngancurin hidup aku!?" teriak Kayla sambil bergerak memukuli bahu Andra.
"Aku janji Kay, aku janji akan bertanggung jawab atas semua ini." Andra menahan lengan Kayla yang mulai melemah.
Tak lama, Andra menghampiri keluarga Raihan. Tentu saja mereka juga sangat terpukul. Ibu paruh baya yang ku duga ibu Raihan menangis histeris. Menatap Andra penuh amarah. Berkali-kali ia bicara menyalahkan Andra. Namun segera di tahan oleh suaminya.
"Pak, buk, saya janji. Saya akan bertanggung jawab. Kalaupun harus berurusan dengan polisi saya siap."
"Kami tidak menyalahkan kamu sepenuhnya nak. Kecelakaan ini adalah takdir. Jodoh, maut, rezeki semua sudah Allah atur." Ucap ayah Raihan tenang meski masih di barengi isak tangis.
Andra menggeleng. "Tidak apa-apa pak, biar semua ini di selesaikan polisi. Saya bersedia menanggung semuanya."
"Untuk apa? Polisi tidak bisa menghidupkan kembali anak saya. Dan kamu tidak akan mungkin bisa lepas begitu saja dari rasa bersalah," ucapnya lagi.
Mereka lalu berbincang soal biaya yang semua akan Andra tanggung. Memang benar, uang juga tidak akan mampu mengembalikan nyawa yang hilang. Tapi setidaknya itu akan membuat sedikit keringanan untuk keluarga korban.
Setelah mereka sepakat menyelesaikan masalah ini secara kekeluargaan. Andra terlihat lebih tenang. Ia berucap syukur dan terimakasih berkali-kali.
Tapi tidak dengan Kayla. Ia jatuh tak sadarkan diri dalam pelukan ayahnya.
Aku bisa mengerti bagaimana kesedihan Kayla yang kehilangan calon suaminya saat seminggu lagi ia akan menikah. Saat semua undangan sudah di sebar, dan segala persiapan sudah matang.
Bersamaan dengan itu Irgi memberiku pesan singkat.
[Embun, nyokap jatoh di kamar mandi.]
Aku sempat menelpon ibu dan menanyakan keadaannya. Ibu masih memberi izin untukku terus mendampingi Andra disini sampai urusannya selesai. Dengan syarat harus terus berhati-hati. Tapi, tetap saja fikiranku terbelah.
Jenazah Raihan di kebumikan keesokkan harinya. Aku dan Andra ikut bermalam di rumah almarhum Raihan.
Ia benar-benar tidak tidur semalaman.
Sekarang, Andra sibuk menolong Kayla di pemakaman yang jatuh lagi tak sadarkan diri. Kecemasan dan rasa bersalahnya seolah kembali saat melihat Kayla tak berdaya. Bibirnya tak henti mengucap maaf padanya.
"Andra," panggilku kepada Andra di halaman rumah Raihan. Semua sudah selesai. Aku rasa aku harus segera pulang ke Bogor.
Andra hanya menoleh sebentar dan kembali menatap Kayla yang mulai membuka mata.
Tatapan Kayla hampa dan kembali berurai air mata. Ia tak sedikitpun menggubris permintaan maaf Andra sejak saat ia tahu bahwa Raihan meninggal dunia.
"Andra," bisikku lagi sambil memegang tangannya. "aku harus pulang," lanjutku.
Ku tatap wajah Andra yang sudah kehilangan semangat dan senyumannya. Aku tahu ini bukan hal mudah untuknya.
"Aku belum bisa antar kamu pulang," jawabnya pelan. Untuk pertama kalinya aku merasa asing di hadapannya.
"Iya gak apa-apa. Jaga kondisi kesehatan mu. Kamu juga butuh istirahat," tukasku.
Andra hanya mengangguk. Lalu aku beranjak dari tempatku. Namun Andra menarik pergelangan tanganku. "Aku pesankan taxi online untuk antar kamu sampe ke rumah," bisiknya.
Hatiku kembali menghangat mendengar bisikannya.
"Terimakasih," jawabku.
"Andra...." Kalimatku terjeda.
"Kenapa?" Jawabnya.
Sebenarnya aku ingin memberi kabar soal ibu pada Andra. Tapi aku berfikir ulang. Apakah saat ini masalahku masih penting disaat kondisi Andra seperti ini?
Semalaman aku lebih banyak diam. Bahkan aku tak sedikitpun berbicara dengan Andra. Kurasa diam dan memanjatkan doa akan menjadi hal yang lebih baik untuk saat ini.
"Kenapa?" Tanyanya lagi.
Rasanya tidak baik jika aku memberinya kabar ini. Hanya akan menambah kesedihan di hati Andra. Aku secepatnya menggeleng. Sambil menahan air mata yg akan keluar.
"Itu, apa Mama sama Papa sudah tau hal ini?" Ucapku mengalihkan pertanyaan.
"Sudah. Sebentar lagi mereka datang untuk berbela sungkawa."
Ku cium punggung tangan Mama dan Papa Andra ketika mereka baru saja datang. Mereka semua ternyata sudah saling kenal. Tapi tidak dengan keluarga Raihan.
"Kaylila," sapa Mama Andra pada Kayla. Sehingga aku tau nama asli perempuan itu. Ia lantas memeluk Kayla menguatkan. Ada rasa sedikit iri di hatiku melihat kedekatan mereka.
Embun, saat ini bukan saatnya kamu cemburu.
Aku merasa menjadi makhluk paling terasing berada diantara mereka. Beruntung, taxi yang akan mengantarkan ku pulang segera datang. Jadi aku tidak perlu berlama-lama dalam keterasingan.
Setelah aku pamit pada satu persatu dari mereka. Aku pergi meninggalkan suasana duka. Duka yang juga ku bawa serta.
Dari dalam mobil aku menatap jendela kaca. Melihat jalanan yang semakin jauh membawa aku meninggalkan kota Bandung.