Always Remember

Always Remember
Malam Panjang 2



"Aku tau kamu gak tidur,"


Deg!


Jantungku seolah mau copot mendengar Khafa bicara. Suaranya terdengar begitu dekat dan nyata.


Bertahan!


Aku harus tetap bertahan memejamkan mata. Misi utama harus tetap terlaksana. Pura-pura tidur.


Meski semua ini terasa, ribet! Ya Allah.


Daripada, malu!


Tiba-tiba aku rasakan semakin gelap pada pejaman mataku. Sepertinya ia mematikan lampu utama kamar ini. Ku dengar Khafa mulai merangsek naik ke tempat tidur dan memposisikan diri nya di belakangku. Aku memberanikan diri untuk membuka mata. Benar saja. Lampu kamar sudah padam dan hanya menyisakan lampu tidur yang berpijar sendu kekuningan di sisi kanan dan kiri kami.


"Pura-pura termasuk kebohongan lho, kamu pernah bilang kalo bohong itu dosa. Apalagi sama suami sendiri," bisiknya di belakangku. Tidak terlalu dekat. Tapi, ini cukup membuatku deg-degan. Apalagi harum tubuhnya setelah mandi membuatku hilang konsentrasi.


"Aku hitung sampe tiga, kamu balik badan ya, kalo gak balik badan juga aku mau tidur, dan dosa tanggung sendiri," ancamnya.


Tidur aja sana! Siapa yang mau peduli!


"Satu.... Dua.... Ti,"


Aku berbalik badan menghadap kepadanya dengan cepat.


"Puas!?" Sentakku.


Ia tersenyum penuh kemenangan.


"Kondisikan tuh wajahmu, jangan galak-galak. Bikin aku gak tahan aja," protesnya kepadaku.


Sedangkan aku sedang kesulitan menata perasaan halus yang berdesir ketika melihat rambutnya yang masih basah. Ingin sekali mengusapnya.


"Kamu harus tanggung jawab, kejadian tadi bikin aku gak khusyuk sholat tahu," protesnya lagi.


Aku kembali di dera rasa malu.


"Siapa suruh masuk kamar mandi gak bilang-bilang, sudah tahu ada penghuninya. Kamu sengaja ya?" tuduh ku cemberut.


"Kamu yang sengaja! Lama-lama di kamar ngapain? Sudah masuk waktu Maghrib lho tadi. Aku takut kamu kenapa-kenapa. Makanya aku masuk. Pintunya gak di kunci pula," cerocosnya tanpa jeda. "Kalau belum siap jangan mancing-mancing!" lanjutnya dengan nada yang berubah pelan.


"Aku bukan belum siap Kha, tapi aku.. malu," ucapku. Lantas aku menurunkan pandanganku darinya.


Khafa membuang napasnya pelan sambil tersenyum. "Pakai malu-malu segala, aku sudah tau kok kamu semuanya." Kini senyumannya berubah jadi nakal nan mengerikan.


Benarkan, dia tadi pasti melihat tubuh polosku.


"Bukan itu," sergahku dengan nada lemah.


Senyuman nakalnya pudar, berganti wajah serius yang memperhatikanku.


"Terus, apa?" Khafa bertanya sambil memandang ku dengan tatapan yang begitu dalam. Aku merasakan bahwa pada kedalaman tatapannya, ia sedang berusaha mencari arti dirinya lagi pada diriku.


Aku berusaha jujur pada diriku sendiri, juga pada Khafa lewat tatapanku. Berusaha meyakinkan bahwa perasaanku tidak pernah benar-benar hilang untuknya. Hanya saja, ini terlalu cepat. Sehingga aku merasa seperti masih terjerambab dalam lumpur dimana saat itu aku sendiri tanpa seseorang yang kini telah ada disampingku. Dan aku, masih butuh waktu untuk menghilangkan segala bekasnya.


"Kamu terlalu sempurna Kha, buat aku," ujarku lirih.


Khafa tersenyum tulus lalu menggerakkan tangan kirinya mengelus daguku dengan ibu jarinya. "Kamu pernah bercermin?" Ia bertanya.


"Seringlah," jawabku singkat.


"Aku adalah cerminan dirimu,"


Aku berusaha mencerna kata-katanya.


"Kalau kamu merasa aku terlalu sempurna, ya, sesempurna itu lah kamu sebenarnya, karena jodoh adalah cerminan dirimu sendiri. Jadi, jangan pernah merasa kamu tidak pantas buatku,"


Mendengar kata-katanya, pandanganku tiba-tiba sedikit kabur karena air mata yang mulai menggenang.


"Tapi Kha, aku---," aku tercekat. Sulit sekali melanjutkan kata demi kata yang ingin ku ungkapkan. Padahal ini adalah momen tepat untukku mengutarakan semua keluhku selama ini.


"Aku gagal menjaga diriku sendiri Kha, aku bukan Fatimah Az-Zahra yang kamu maksud," tuturku tak bisa lagi menahan tangis. Aku begitu merasa bersalah pada suami yang kini ada di hadapanku.


Khafa menepis air mataku. "Aku paham itu. Makanya aku bilang, kalau aku juga bukan Ali bin Abu Thalib buatmu. Kita sama-sama gagal. Aku, Khafa. dan kamu, Embun. Kita bukan mereka. Kita punya cara sendiri untuk saling mencintai."


Aku memejamkan mataku sejenak. Membiarkan air mata yang menggenang jatuh lagi tak tersisa di pelupuk mata. Menarik napas panjang dan mendalam. Lalu aku memberanikan diri untuk bertanya padanya.


"Gimana kalau aku udah gak perawan Kha?"


Khafa menautkan kedua alisnya. "Memang kamu pernah melakukan itu sama mantan kamu?" Pertanyaan itu sontak membuatku tertampar. "Aku berhak tahu," lanjutnya.


"Gak tahu," jawabku masih sungkan untuk jujur.


"Kok gak tahu? Kamu merasa sudah pernah buka gemboknya belum?" tanyanya menyelidik.


Gemboknya?


Aku menggeleng ragu. "Rasanya tidak,"


"Jadi, apa saja yang pernah kamu lakukan dengan dia, selain bibir?"


"Kenapa selain bibir?"


"Karena aku tahu bibirmu memang sudah tidak perawan," alasannya tepat sasaran.


Ish!


"Dari mana kamu tahu?"


"Kan aku yang ngambil keperawanannya dulu, pas napas buatan itu. Kamu lupa?"


"Itu beda! Napas buatan mana bisa disamain sama ciuman," belaku.


"Sama lah, kan abis itu aku icip-icip dulu dikit, ha-ha-ha, kamu mana tau. Kan kamu pinsan," ia terbahak puas.


"Gak nyangka aku Kha, pikiran mesum kamu ternyata sejak jaman di pondok, ihh!" tuturku sambil membalikkan badan memposisikan diri menjadi terlentang.


"Tapi habis itu aku kualat, gak bisa lupain kamu bertahun-tahun. Aku sampe buat janji sama ayah kalau aku mau balik lagi buat kamu,"


"Jadi kamu nyesel?"


"Nyesel lah!"


"Udah tahu nyesel ngapain nikahin aku!" Aku mulai menaikan volume suara dan menatapnya dengan tajam.


"Nyesel baru nikahin kamu sekarang, coba, dari dulu," alasannya.


Halah!


"Jadi, apa saja yang kamu pernah lakukan dengan mantanmu?" Ia mengulang pertanyaan. Belum puas rupanya. "Kamu belum jawab lho," ingatnya.


"Kalau aku cerita, nanti aku inget lagi sama mantanku gak 'pa'pa?" Tanyaku memberikan akibat terburuk.


"Nanti aku yang akan membuatmu lupa. Ayo cerita!"


Aku bangun dari posisiku semula. Kemudian milih untuk duduk di atas tempat tidur. Melihat aku, Khafa mengikuti ku duduk dan berhadapan denganku.


Aku menundukkan kepala lalu mulai bercerita.


.


.


.


.


.


bersambung ❤️