
Terus sertakan dukungan kalian yaaa ke novel aku.. Jangan lupa vote, rate, like and komen terbaiknya...
happy reading πππ
πΈπΈπΈ
Selepas Andrea pulang aku terus berdiam diri di kamar. Berharap rasa kantuk datang kemudian tertidur hingga pagi menjelang. Tapi ternyata semakin aku berusaha memejamkan mata untuk tidur, aku malah semakin merasa segar. Akhirnya aku pergi keluar untuk mengusir rasa bosan.
Cukup lama aku bersandar pada halaman depan villa. Sampai akhirnya aku mencium aroma asap rokok dari arah samping villa.
Aku kira dia tidur setelah minum obat. Ternyata ia malah menyendiri disana. Mungkin dengan menyendiri ia bisa sedikit melonggarkan pikiran.
Perlahan ku langkahkan kaki untuk menghampirinya. Sebenarnya ada sedikit perasaan takut untuk mendekatkan diri padanya. Karena yang aku tahu jika kami nekat berduaan maka yang ketiga adalah setan. Dan itu benar, aku begitu mudah mengikuti bisikannya.
Aku berdehem.
Andra menengok dan refleks membuang puntung rokoknya.
"Ga usah di buang!" Larangku. Terlambat, puntung rokok itu sudah Andra lempar.
"Kenapa?" Tanyanya sambil menggilas sisa api dengan ujung kakinya.
"Jujur, aku suka gaya kamu merokok. Kelihatan keren." Pujiku seraya menyipitkan mata.
Andra tersenyum menatapku. "Aneh, disaat banyak perempuan tidak suka laki-laki merokok. Kamu malah muji aku."
Aku membalas tatapannya. "Kamu beda." Aku lekas duduk di tepian gazebo. Andra mengikutiku.
"Tapi aku gak mau kamu terlihat keren di mata perempuan lain." Lanjutku tanpa melihat ke arahnya.
Andra melemparkan tatapannya ke arah yang tak menentu sambil menghela nafas kasar.
"Bisa?"
"Akan ku coba." Jawab Andra. Aku yakin ia menangkap maksud perkataanku.
Sekeren apapun Andra ketika merokok, itu tetap bukan hal baik. Aku tidak mungkin memilihnya sebagai suamiku kelak jika dia belum bisa menyayangi dirinya sendiri. Bagaimana mau menyayangiku?
"Jadi, kalau aku merokok di depan teman laki-laki, boleh ya?" Tawarnya.
"Terserah."
Andra mengangguk paham.
Malam semakin merangkak naik. Dingin semakin menusuk kulit. Aku menghirup nafas dalam-dalam. Udara dingin membuat hidungku terasa seperti tersumbat. Berkali-kali aku mengeratkan sweater sambil menatap langit yang cerah di atas hamparan kebun teh yang gelap.
"Yang.."
Sssshhh mulai lagi dia manggil yang.. aku menggerutu dalam hati.
"Jangan kemana-mana ya.. aku mau menua bersamamu disini. Liat kamu bangun tidur, membuatkanmu sarapan pagi, berkebun, dan membesarkan anak-anak kita kelak." Ujarnya sambil sesekali menatapku.
"Kamu minum obat segimana tadi? Sampe ngomong ngaco kaya gitu?" Cibir ku.
Ia terlalu sering berkata sayang atau calon istri kepadaku sedangkan ia tidak pernah benar-benar melamar ku. Jadi ketika ia berkata seperti itu aku anggap itu sebagai racauan Andra semata.
Andra tersenyum miring dengan tatapan lurus ke gelapnya malam.
Hening menyelimuti. Beberapa saat berdiam tanpa perbincangan apapun. Sampai-sampai aku melihat Andra telah tertidur bersandar pada tiang gazebo. Mungkin efek obat yang ia minum juga.
Aku menatapnya lekat. Ku rekam setiap jengkal wajahnya dalam imajinasiku. Aku akui, wajahnya begitu kharismatik. Kulitnya putih khas orang Sunda. Bulu matanya panjang dan lurus. Matanya sedikit sipit karena ada darah Tionghoa dari kakeknya. Hidungnya mancung sempurna.
Bibirnya,
tatapanku terhenti menatap bibir itu. Aku manghela pelan. Wajah lugu ketika ia tertidur, membius nuraniku untuk bisa secepat ini memaafkannya. Padahal ia sudah selancang itu.
Entahlah aku seperti merasakan sakit yang tidak bisa dijelaskan melihat Andra di sakiti oleh orang lain. Mungkin ini awal mula cinta mulai bersemi.
Tapi, ternyata tak semudah itu perjalanannya. Selalu ada ujian untuk mendapatkan kebahagiaan. Sampai sejauh mana kita bisa bertahan dan melupakan semua kenangan yang begitu dalam tersimpan.
"Kak, aku titip Andra ya." Satu kalimat tiba-tiba terngiang di telinga. Pesan dari Andrea.
Aku teringat obrolan ku bersama Andrea ketika di kamar.
"Kak, aku titip Andra ya." Wajah Andrea berubah menjadi serius.
"Titip di day care aja De. Udah terjamin sertifikasi nya." Ejek ku.
"Kak Embun ini.... aku serius tau." Rengek Andrea. Ia menggoyang-goyangkan tubuhku. "Dari dulu Andra sering banget dapet teror. Serangan tiba-tiba kayak tadi juga pernah." Wajah Andrea berubah menjadi murung. "Aku kasian Ama dia kak." Lanjutnya.
"Hah? Koq bisa? Terus dia cuma diem aja?" Aku menatap tajam mata Andrea.
Andrea mengangguk.
Aku membuang nafas kasar. "Laki-laki macam apa dia?" cibirku seraya memutar bola mata.
"Malah ia selalu minta ini semua jadi rahasia."
Rahasia. Satu kata yang membuatku ingin sekali tahu alasannya. Kenapa hal sebesar ini harus menjadi sebuah rahasia. Ada ada saja masalah orang kaya.
"Walaupun mengancam keselamatan nyawanya?"
"Andra itu," Andrea menjeda sejenak kalimatnya. "Cucu lelaki satu-satunya dari keluarga papaku kak. Cucu kesayangan almarhum kakekku. Sejak kecil kakek dan nenekku selalu memperlakukannya spesial di banding cucu-cucunya yang lain. Papaku dua bersaudara. Adiknya juga laki-laki. Tapi ia tak sebaik papa, pamanku itu senang foya-foya uang kakek dan nenekku. Hidupnya boros dan selalu menghabiskan uang kakek dengan berjudi."
Andrea menghela nafas. Dengan perhatian penuh, aku memperhatikan setiap perkataannya.
"Dulu Andra senang sekali ikut-ikutan kakek keliling perkebunan teh. Menyapa satu persatu pemetik teh. Bermain petak umpet. Bahkan ia sering sekali bermain dengan anak-anak dari para karyawan kakek. Dia itu supel, mudah bergaul dan penyayang. Sampai akhirnya kakek meninggal dan mewariskan sebagian besar hartanya kepada ayah dan Andra, cucu kesayangannya.
Tapi itu semua tidak membuat Papa dan Andra senang. Kami sadar, kalau harta bukan satu-satunya alasan manusia bisa menjadi bahagia. Benar saja. Setelah itu, paman marah besar. Papa tidak bisa berbuat apapun. Karena surat wasiat telah di buat dan tidak bisa di ganggu gugat.
Andra yang saat itu masih remaja belum siap menerima segala perlakuan tidak mengenakkan dari paman. Teror dan serangan tiba-tiba untuk menyakiti Andra sering di lakukan. Andra tidak pernah mau cerita. Ia merahasiakannya karena ia tidak mau sampai ada keributan antar saudara. Apalagi yang diributkan adalah harta."
Aku tertegun mendengar penuturan Andrea. Rasa kagum pada keluarga Andra membuat hatiku menghangat.
"Sejak saat itu, Andra mulai merokok. Papaku tidak pernah melarang. Selagi ia berjanji hanya rokok yang menjadi pelampiasan. Karena sepandai apapun Andra menyimpan rahasia papa selalu tau apa yang Andra rasakan. Aku bersyukur Andra menepati janjinya sampai saat ini.
Pertengahan SMA Andra mulai tak tahan. Lalu ia minta pindah ke Bogor. Di sana ada keluarga dari Mama. Awalnya Mama temani dia tinggal di Bogor. Tapi ternyata dia sangat mandiri. Dan Papa percaya Andra mampu hidup sendiri di Bogor. Karena aku dan pekerjaan Papa tak bisa di tinggalkan terus.
Tinggal di Bogor membuat pandangan Andra berubah. Ia tidak lagi minat dengan perkebunan teh yang begitu luas dan harus ia kelola suatu saat. Ia bilang, ia bisa hidup untuk dirinya sendiri tanpa mengambil hasil dari usaha disini. Lulus kuliah dia melamar pekerjaan di tempat ia bekerja sekarang. Dan lagi-lagi dia bertahan dengan janjinya. Tapi Papa tetap bersikeras memberikan fasilitas untuk Andra. Papa tidak mau anak lelaki satu-satunya itu merasa tidak nyaman tinggal di kampung orang."
Aku tersenyum tipis. "Lalu nenek apa kabar? Masih ada kan?"
"Nenek, nenek masih ada sampai sekarang. Dan ambisinya adalah menjodohkan Andra dengan perempuan-perempuan cantik dan berkelas. Berderajat sama dengan kami. Dulu nenek sering mengenalkan Andra dengan anak atau cucu dari sahabat-sahabatnya. Kayla salah satunya. Kak Embun tau kan?"
Aku mengangguk.
"Sekarang tidak lagi, mungkin nenek lelah karena tidak satupun Andra mau pada calon yang ia ajukan. Jelas saja tidak mau. Sejak kuliah, Andra udah cerita sama aku. Kalau dia jatuh cinta sama seseorang yang namanya aneh."
Andrea tergelak.
"Dia bilang, namanya aneh dan gak bisa aku lupain."
Aku tersenyum sendiri mengingatnya.
Andra, aku masih menunggu satu bukti bahwa benar perasaan mu hanya untukku.
Aku melihat dahi Andra yang menyender pada tiang gazebo. Saking lelapnya ia tak merasa kalau tiang itu meninggalkan bekas pada dahinya yang sedang terluka. Aku tak tega melihatnya. Kemudian perlahan memindahkan kepalanya menjadi bersandar ke pundak ku.