Always Remember

Always Remember
Sisa-sisa A & E



Terkadang perpisahan bukan cuma tentang kehilangan, tapi juga tentang bagaimana bertemunya dengan sebuah kebahagiaan.


.


.


.


.


.


.


"Neng Embun!?" Sapa bi Eeng. Benar itu bi Eeng. Dia menatap nanar diriku.


"Ya Allah bi, kok bisa ada disini? Masuk bi, silahkan duduk."


Saat kami sudah sama-sama duduk bi Eeng membuka tasnya dan mengeluarkan sesuatu dari dalam sana.


"Ini neng, barang ini yang membawa bibi datang kesini." Bi Eeng memberikan satu cincin yang pernah aku kembalikan pada Andra. Entah kenapa ada sudut hatiku yang kembali sakit.


Aku menghela napas gusar. Bingung harus bagaimana. Cincin itu kenapa kembali?


"Bibi nemuin ini di kamar si Aa neng, semenjak pergi waktu itu dia gak balik lagi. Rumah kosong. Bibi waktu itu di kasih gaji selama dua tahun sekaligus buat jaga dan rawatin rumahnya katanya. Nanti dia bakal balik lagi,"


Penuturan bi Eeng memang biasa saja, tapi tanpa Bi Eeng tahu bahwa penuturannya sudah seperti kepulan asap yang masuk melalui Indra pernapasanku dan membuatku sesak.


"Awalnya bibi bingung mau kembalikan ini kemana. Bibi kan gak tau neng Embun tinggal dimana. Tapi, pas terakhir bibi bebenah di rumah si Aa, bibi nemuin semua data identitas neng Embun di meja ruang kerja si Aa. Itu berkas persiapan nikah neng Embun kan? Alhamdulillah bibi jadi tau alamat neng," terangnya.


Aku memang pernah membawa berkas identitas diriku yang Andra minta untuk mengurus pernikahan kami. Mungkin, Andra masih menyimpannya. Karena rencana itu tidak pernah terjadi.


"Ya udah bi, bibi mau minum? Sebentar saya ambilkan dulu ya."


"Gak perlu, bibi jadi ngerepotin ya?"


"Nggak kok bi,"


Tidak lama, Eliana muncul membawa segelas teh manis untuk bi Eeng. Jadi, aku mengurungkan niatkku untuk mengambilkan minum untuk bi Eeng.


"Silahkan di minum bi," ucap Eliana.


"Makasih ya, ini kakaknya neng Embun?"


"Nggak bi, dia adik adik saya,"


"Oh maap, kirain," jawab bi Eeng malu. Kemudian, Eliana kembali ke belakang. "Yaudah neng ini cincinnya. Bibi balikin ke neng Embun ya." Bi Eeng menyodorkan cincin tersebut.


Hatiku gamang antara ambil lagi atau tidak cincin itu.


"Ini, neng, ambil." Bi Eeng mengambil telapak tanganku dan menyimpan cincin itu disana.


Aku membuang napas panjang. Menatap nanar cincin yang di dalamnya bertuliskan huruf inisial A dan E bertaut.


"Saya gak bisa terima lagi cincin ini bi," lirihku sambil menggenggam cincin itu.


"Tapi neng, bi Eeng juga ga bisa simpen cincin itu. Itu punya neng Embun. Mau di pake atau ngga. Terima aja, simpen aja sama neng Embun. Itu bukan hak bibi untuk memiliki nya. Bibi takut nyimpen barang yang bukan hak bibi," tegas bi Eeng.


"Saya sudah nikah bi,"


"Udah nikah? Alhamdulillah, sama si Aa? Sampe gak ngabarin bibi atuh ih! Di Bandung ya? Pantesan si Aa teh ngilang. Taunya, ya Allah pengantin baru. Lupa deh sama bibi. Tega banget bibi gak di kasih tau," cerocos bi Eeng tanpa jeda dan penuh rasa haru. Padahal, dia salah.


"Bukan bi, bukan sama Andra,"


"Bukan?" Bi Eeng nampak kaget sekaligus kecewa. "Ya Allah, jodoh neng Embun bukan A Andra?"


"A Andra udah tau?"


"Mungkin belum, tapi biar aja. Saya gak mau dia kecewa."


"Tapi neng, bibi takut A Andra terus terusan ngarepin neng Embun,"


"Saya gak tau bi, mesti gimana. Terserah bibi, kalau bibi ada kesempatan memberi tahu kabar ini sama Andra, ya silahkan kasih tau. Saya gak bisa kasih tau dia langsung,"


"Sebenarnya a Andra tuh kemana sih? Bisa-bisanya bibi di gaji selama dua tahun suruh jagain rumah. Yah bibi mah seneng-seneng aja di kasih uang besar. Tapi kan kalau gak jelas gimana ya?"


Nah kan. Bi Eeng juga tidak mau tuh di ngga jelasin!


"Andra kuliah lagi bi di Amerika selama dua tahun,"


"Oh gitu, pasti neng Embun juga gak mau ya nunggu. Dua tahun kan ga sebentar ya neng?"


Aku tersenyum menanggapi pertanyaan bi Eeng yang sebenarnya dia sendiri sudah tau jawabannya.


Mungkin ada baiknya kalau aku mengenalkan Khafa langsung pada Bi Eeng biar semuanya benar-benar berakhir. Antara aku dan Andra. Ya, siapa tahu ini jadi jalan keluar. Meskipun terlihat sedikit tidak nyambung.


"Tunggu, sebentar bi."


"Eh, neng Embun. Bibi mau pamit aja. Bibi soalnya di tunggu tukang ojek itu di luar," pamit bi Eeng seraya beranjak dari tempat duduknya.


"Oh gitu? Yaudah. Terima kasih ya bi, sehat selalu,"


"Iya neng, bibi juga makasih. Jadi plong kalo udah ketemu neng Embun. Selamat menempuh hidup baru ya. Semoga cepet di kasih momongan,"


"Aamiin. Terima kasih banyak ya bi,"


Bi Eeng pulang dengan ojeknya. Aku kembali ke kamar dengan menggenggam cincin itu. Namun, langkahku terhenti saat melihat Khafa berdiri di samping tembok penghubung antara ruang tamu dan ruang televisi di rumahku. Sejak kapan dia berdiri disitu?


"Ngapain disitu? Nguping?"


"Enggak! Tapi aku dengar semuanya."


"Ya, itu, nguping namanya."


Khafa menarik tanganku dan membawaku ke dalam kamar.


"Kha, pelan-pelan. Kamu apa-apa'an sih?"


Sayang, dia tidak memperdulikan kata-kataku.


Bruk!


Pintu kamarku di tutup olehnya. Lalu, membawa tubuhku bersandar di belakang pintu.


"Neng, bantuin mas bikin momongan yuk!"


"Hah! Apa?" Tanyaku berpura-pura bodoh sambil menahan tawa. Lucu, saat mendengar Khafa menyebutku dengan sebutan 'Neng'.


"Jangan pura-pura gak tahu ah.. Ayuk!" rajuknya.


Ah, dia serius apa tidak sih? Kok 'ayuk Ayuk' doang? Kenapa tidak langsung serang saja sih?


"Sebentar, Kha. Mules." Aku beralasan sambil memegang perut seolah terasa ada yang kontraksi.


"Mules? Tapi kamu gak ada tampang mules dari tadi,"


"Serius, ini baru aja." Diam-diam aku membuka engsel pintu untuk membukanya. "Aku ke kamar mandi dulu ya," izinku sambil mengambil langkah seribu untuk kabur.