
"Gi, ke undangan teh Nisa bareng yuk!" Ajakku pada Irgi.
Keluarga Irgi adalah saudaraku satu-satunya yang masih tinggal di tempat tinggal ku dulu. Ia masih tinggal dekat lingkungan pesantren. Begitupun Irgi sama dengan teh Nisa dan Listy. Ia sempat sekolah tingkat SMP disana. Namun setelah SMA Irgi ambil sekolah negeri.
"Yaudah ayuk." Kata Irgi yang sudah siap dengan kemeja batik nya.
Saat itu aku belum menggunakan hijab apapun untuk menutup aurat. Karena pemahaman ku yang minim juga tidak pernah adanya tuntutan dari orang tua. Aku nyaman-nyaman saja dengan penampilan ku.
Aku mengenakan dress batik dengan dominan warna coklat dan sendal jepit kulit motif bunga. Tangan kananku menggenggam hand bag berwarna hitam. Rambutku kubiarkan terurai. Aku tak suka make up berlebihan. Dengan polesan bedak tipis dan lip tint sudah cukup membuatku beban untuk memakainya.
Seolah mesin waktu. Otakku menampilkan banyak sekali kejadian kejadian masa lalu ketika aku melewati deretan pepohonan di kanan kiri jalan menuju gedung. Udara sejuk menyapa wajahku dengan lembut. Namun perih terasa di sudut hatiku. Karena tahu bahwa aku tak mungkin kembali ke masa itu.
Lapangan. Rumput masih hijau menghampar. Disekelilingnya tanaman bunga butter Daisy masih subur berserakan. Tak ada yang sengaja menanam juga tak ada yang mau menyiram. Bunga itu terus bermekaran. Tak peduli sejauh mana waktu berjalan. Indahnya tak habis dimakan zaman.
Suasana gedung ramai tamu undangan. Ada sekat antara pangantin laki-laki dan perempuan. Untuk tamu perempuan hanya akan bertemu pengantin perempuan. Begitupun sebaliknya. Oleh karena itu aku dan Irgi juga terpisah ruangan.
Aku berjalan menemui teh Nisa yang berbalut baju pengantin sederhana. Dengan gamis warna peach dan hijab besar berwarna senada. Riasan make up yang ia pakai pun sangat sederhana jauh berbeda dengan pengantin pada umumnya. Mahkota kecil di atas kepala teh Nisa membuat pengantin sederhana itu terlihat begitu rupawan.
"Embun...!" Teh Nisa memelukku. Aku membalas pelukan nya.
"Selamat ya teh." Ucapku
"Iya Embun. Kamu apa kabar?" Teh Nisa melepaskan pelukannya. Menggenggam tanganku.
"Aku baik teh."
"Makin cantik aja ih."
"Bisa aja ah teh Nisa."
"Kamu apa kabar sama Khafa?"
Aku sulit mengartikan pertanyaan teh Nisa. Sekian tahun berlalu. Aku? Sama Khafa? Kenapa masih selalu dikaitkan?
Tamu undangan semakin banyak yang mengantri untuk mengucapkan selamat langsung pada teh Nisa. Belum sempat ku jawab pertanyaan teh Nisa. Aku bergegas turun dari pelaminannya.
Ibunya teh Nisa mempersilahkan ku untuk menyantap hidangan yang tersedia. Setelah sarapan tadi pagi, aku belum merasa lapar. Jadi aku putuskan untuk mengambil potongan puding lengkap dengan Fla nya.
Ketika aku berbalik badan hendak duduk. Seorang perempuan dengan gamis lebar bertabrakkan denganku.
"Ya ampun maaf ya.. maaf." Fla yang aku bawa tumpah mengotori bajunya. Aku cepat membuka tasku mencari tisu yang aku bawa.
"Ndak apa-apa. Ndak apa-apa. Cuma sedikit kok." Katanya ramah.
Wajahnya cantik. Ku perkirakan ia sebaya denganku. Hidungnya mancung, Alisnya tebal teduh matanya seolah aku tak asing dengannya.
Aku membersihkan bajunya. Namun dengan cepat ia menghalau tanganku.
"Ndak apa-apa." Katanya lagi.
Baik sekali. Mungkin kalau aku yang ada di posisinya aku sudah marah.
"Maaf ya mbak. " Ucapku lagi.
"Ok. Ndak apa-apa. " Ia memberiku jempol yang mungkin artinya ia benar-benar gak apa-apa. Jujur aku merasa tak enak hati. Tak nafsu lagi untuk kembali mengambil hidangan.
Perempuan itu, kemudian pergi dengan menuntun anak laki-laki bermata bening. Usianya sekitar 3 tahun.
"Embuuuuunn..." Listy berhamburan menghampiriku.
Aku membentangkan tangan menyambutnya.
"Embun kamu cantik ihh.. udah kerja ya?"
Aku mengangguk.
"Sombong Tara Ulin kadieu ayeuna mah ih." [Sombong ga pernah main kesini sekarang mah] kata Listy dengan logat khasnya.
Listy mencebik.
"Kamu kapan atuh? Hayu geura atuh Embun bisi keabisan stok." [Ayok cepet Embun nanti kehabisan stok]
"Belum ketemu jodohnya Lis, insya Allah nanti waktunya ketemu mah ada." Jawabku.
"Kamu nyari yang gimana atuh Embun? Nyari yang kaya Khafa lagi?" Listy seolah mencubit bagian terdalam di hatiku.
Aku tersenyum getir. Khafa lagi.
Obrolan ku terputus ketika Listy dihampiri anak perempuan nya. Dan aku di telpon Irgi yang sudah menunggu di parkiran. Kemudian aku pamit pulang pada teh Nisa dan beberapa tamu yang aku kenal.
Parkiran lumayan penuh. Aku mengedarkan pandanganku ke seluruh penjuru parkiran.
Dimana si Irgi gumam ku.
Ternyata dia sudah ada di pintu keluar parkiran.
Ketika aku hendak menghampiri Irgi, betapa terkejutnya hati melihat seseorang yang memiliki garis wajah yang mirip sekali dengan Khafa. Ia hendak membuka pintu sedan hyundai Avega berwarna silver. Ia mengenakan batik panjang dengan setelan celana bahan berwarna cream.
Ingin sekali aku menyapanya. Tapi aku sungkan.
Ada sedikit harapan yang menyeruak saat itu. Namun harapan itu patah ketika seorang perempuan membuka pintu penumpang di sebelah kemudi. Dan perempuan itu adalah perempuan yang tadi sempat bertabrakan denganku. Ia masuk kedalam mobil sambil menggendong anak laki-laki nya.
Ah pantas saja aku merasa tidak asing ketika bersitatap dengan perempuan itu. Mereka mirip sekali. Karena yang aku tahu jodoh kita itu akan berwajah mirip dengan pasangan kita.
Dan ternyata dia ituuu...
Aku yakin.
Dia itu istrinya. Begitu akal sehatku saat itu menerka.
Aku diam mematung. Kakiku seolah tak bisa di gerakkan. Semua terasa kaku. Tanganku menggenggam erat hand bag. Aku masih bergeming. Menyaksikan sedan ber-flat AB itu keluar dari parkiran.
Bening mataku meremang. Seolah ada gumpalan kaca yang ingin segera pecah. Ternyata usaha ku menunggunya sia-sia. Ini sudah cukup menjadi jawaban. Pantas saja ia tak pernah kembali mencari. Alamat dan nomor telepon yang pernah aku berikan pada Khafa saat itu tak berguna. Nyatanya ia tak pernah muncul keberadaannya.
Khafa, aku memang bukan sosok yang pantas kau perjuangkan. Iya kan?
Sedan itu berlalu meninggalkan parkiran. Semakin tak terlihat.
Satu menit, dua menit, tiga menit. Helaan nafas yang dari tadi aku tahan akhirnya ku buang bersamaan dengan luruh nya bulir bening yang sekian lama bersarang. Aku menunduk kan kepala. Merasakan besarnya kekecewaan.
"Embun. " Irgi meraih tanganku. "Hayuk balik!" Lanjutnya.
Aku menyeka pipiku sembarangan. Mengekor Irgi dari belakang.
"Gi anterin gue balik ya langsung." Kataku berat.
Irgi seperti mengetahui keadaanku. Iya langsung membawaku pulang.
Sampai di rumah aku langsung masuk kamar. Melewati ibu yang membukakan pintu pagar teras.
"Kunaon Gi?" [Kenapa gi?] Tanya ibuku pada Irgi. Heran melihatku. Kemudian Irgi menjawab. Tapi aku tak mendengar apa jawaban Irgi.
Aku lekas Menutup pintu. Menyandarkan tubuh dibaliknya. Seketika tangis ku pecah. Menumpahkan segala sesak di dada.
Sempat ada perasaan senang sekali bisa melihat Khafa. Karena itu yang memang menjadi harapanku ketika menerima walimatul ursy-nya teh Nisa. Fikirku mungkin ini jalan Allah mempertemukan kami kembali. Tapi ternyata aku salah. Berfikir seperti itu adalah hal terbodoh yang pernah aku lakukan.
Aku beranjak mendekati meja belajar usang ku. Membuka bagian pintu paling bawah. Tempat ku menyimpan buku-buku berharga seumur hidupku. Aku mencari buku putih itu. Buku kenangan ku bersama Khafa yang kini sudah tak ada artinya.
Aku meremas buku itu dengan kedua tanganku. Ku kepal dalam genggaman ku sekuat-kuatnya. Membiarkan air mata mengalir sejadi-jadinya. Aku benci, aku benci diriku sendiri. Kenapa masih bisa bisanya menaruh harapan pada Khafa yang jelas tidak mungkin akan kembali.
Aku melemparkan buku itu. Menyeka segenap air mata yang membasahi pipi. Mengatur nafasku perlahan. Menutup wajahku dengan kedua telapak tangan ku.