
Senja itu pintar, datang ketika hati sedang benar-benar butuh ditenangkan.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Kita cari pick up sama-sama," cetusnya sambil melemparkan tatapan kepadaku.
"Kenapa harus kita? Ini kan daerah kamu, ya kamu cari saja sendiri," protesku.
Perutku kontraksi lagi. Sakit, aku menggigit bibir bawahku menahan sakit.
"Kamu kenapa?" Tanyanya. Kekhawatiran yang tadi sedikit memudar di matanya, kini muncul lagi.
Aku memegang perutku, lalu menggeleng. Jujur saja, sebenarnya aku merasa tidak enak padanya karena sudah mengotori mobilnya. Dan dia tak sedikitpun merasa jijik ketika membersihkannya.
Ya Allah, tapi kenapa juga perut ini sulit di ajak kompromi? Apa mungkin ini efek aku terlalu lama memakai baju basah siang tadi?
Aku membungkukkan badan, menempelkan kepala pada dashboard mobilnya.
Khafa melihat sekilas jam di tangannya lantas melajukan mobilnya lagi.
"Kita balik ke rumah mas Wisnu aja Kha," pintaku lemah. Aku kembali bersandar pada jok mobil.
Khafa kemudian menghentikan mobilnya di depan sebuah surau. Di samping surau itu ada sebuah rumah sangat sederhana milik penduduk sekitar.
Aku tidak mengerti kenapa Khafa membawaku kesini. Karena sakit yang kurasakan, aku tidak lagi peduli apa yang akan ia lakukan. Meski sesekali aku masih menatap bingung setiap pergerakannya.
Khafa turun dari mobilnya lalu berjalan menghampiriku. Ia diam sejenak di samping pintu mobil, namun tak lama ia membukakan pintu mobilnya untukku.
"Turun, kita istirahat sebentar disini," titahnya.
Ku lirik ia sebentar.
Lemes Kha, aku tuh.
"Ayo!" Ajaknya lagi.
Aku menghela napas panjang. Kemudian menggeser badan hendak menurunkan kaki pada pijakkan mobil. Perlahan pandangan ku sedikit memudar. Namun aku masih masih bisa merasakan ketika Khafa meraih tangan dan tubuhku. Ia membawaku bersandar pada dinding surau. Tapi sejenak kemudian ia menghilang.
Mau kemana kamu Kha?
Aku tidak benar-benar melontarkan pertanyaan itu padanya. Tubuhku sudah nyaris kehilangan semua tenaga.
Tak lebih dari sepuluh menit, Khafa kembali dengan secangkir wedang jahe hangat di tangannya. Entahlah, dia dapat dari mana wedang jahe itu.
Ia duduk di sampingku, lalu membantuku minum dengan hati-hati. Aku meneguknya sedikit demi sedikit sampai tandas tak tersisa. Lega sekali rasanya. Perlahan, nyeri di perutku juga turut mereda.
Ah, pakai mantra apa sih kamu Kha buat minuman ini? Perutku jauh lebih baik sekarang.
Aku mengangguk lemah.
Dari posisi dudukku, aku menatap lurus pada Matahari yang mulai turun di ke peraduan. Aku menatap takjub cahaya jingga itu. Hamparan sawah dan kebun di hadapanku, seperti menu spesial untukku di penghujung hari ini. Tanpa banyak kata ketika menatapnya, senja itu mampu memberikan ketenangan dengan sendirinya.
Dari dalam surau, suara adzan menggema tanpa pengeras suara. Aku tidak tau, itu karena rusak atau memang tidak ada.
"Magrib-an dulu yuk?" Ajaknya.
Aku menoleh pada Khafa yang juga sedang menatap senja. Menyadari aku memperhatikannya, ia menoleh juga kepadaku. Tatapan kita sejenak bertemu. Tapi, ia lantas berdiri.
Ia menjulurkan tangannya kepadaku.
"Kamu kenapa sih pake sarung tangan terus?" Tanyaku sambil menatap tangan dan wajahnya bergantian.
"Menghindari kontak langsung denganmu," jawabnya.
Sampai segitunya kamu Kha! Emang aku virus apa?
"Kalau gitu tidak usah mencari kesempatan. Saya bisa bangun sendiri," tegasku.
"Ya sudah," balasnya. Lalu ia membalikkan badan berjalan menuju mata air alami, tempat berwudhu di samping surau.
Aku beranjak meninggalkan senja yang semakin temaram di telan pekatnya malam. Melangkah hati hati mangikuti Khafa menunaikan kewajiban kami sholat magrib.
Kukenakan satu mukena putih yang sudah ada di dalam surau. Dan mulai mengikuti Sholat berjamaah bersama Khafa. Aku berdiri sendiri pada shaf paling belakang dengan sehelai tirai hijau sebagai pembatas antara shaf laki-laki dan perempuan. Tirai itu, tidak terlalu tinggi. Malah justru, terlihat landai bagian tengahnya. Sehingga, aku masih bisa melihat siapa saja orang yang ada di shaf depan.
Disana, pada shaf laki-laki hanya ada dua orang bapak paruh baya dan satu orang kakek yang masih tegap di usia senjanya. Sedangkan pada mimbar imam, berdiri seseorang yang hari ini selalu membuatku kesal.
Haru, aku leleh terharu ketika suara Khafa memulai bacaan dalam sholatnya. Kesal, sebal, sesal, luruh seiring teduhnya suara Khafa terdengar memenuhi sudut-sudut surau. Setitik air mata lolos dalam sholatku kali ini.
Entah perasaan apa yang tengah menjalari seluruh aliran darahku, yang pasti, aku seperti merasakan kembali perasaan yang telah lama tenggelam pada dalamnya relung hati.
Aku menitikkan air mataku lagi saat memanjatkan doa setelah sholat utama selesai. Sebuah surat Al-fatihah ku kirim pada ayah.
Astagfirullah, berapa lama aku tak melakukannya? Selama ini aku hanya sekedar mengingat. Jarang sekali berkirim doa. Aku menangis meruntuki perbuatanku selama ini. Padahal semudah ini. Tapi kenyataannya bukan doa yang ku kirim melainkan dosa.
Maafkan aku ayah, maaf. Aku merindukannya.
Shaf di depan sudah mulai hilang satu persatu anggotanya. Tinggallah Khafa sendiri disana. Dalam temaram lampu surau yang kecil dan kuning, aku melihat bayangannya di balik tirai. Ia menundukkan kepalanya.
Sebuah rasa kagum kembali memenuhi rongga hatiku. Ku seka air mataku yang semakin lama semakin deras. Aku tidak mau air mata kesedihanku ini tertangkap oleh Khafa.
Ku buka dan ku lipat kembali mukena lusuh yang menutupi seluruh aurat ku selama sholat. Dan tanpa menunggu Khafa, aku berjalan gontai ke luar surau tempat aku duduk sebelumnya.
Hari sudah gelap. Suara-suara jangkrik mulai bersahutan. Matahari sudah sempurna berbenah diri. Jika siang tadi terasa begitu panas, beda dengan sekarang. Udara dingin mulai menyeruak menerpa kulit yang belum sempurna aku tutupi.
"Kita pulang!" Khafa berjalan melewatiku kemudian masuk ke dalam mobilnya tanpa membukakan pintu untukku.
Aku membuang napas pelan, lalu melangkah mengikutinya.
Tidak ada percakapan selama perjalanan pulang. Aku sibuk berpegangan ketika mobil melintasi jalanan terjal berbatu. Khafa benar-benar seperti sedang mengajakku off road.
Tubuhku lelah sekali, namun akhirnya kami sampai juga pada jalan aspal yang bagus. Setidaknya, aku bisa sekedar menyandarkan punggung tanpa harus mengeluarkan tenaga lagi untuk menahan goncangan.
Perlahan kesadaranku memudar. Raga ini mulai berserah pada rasa lelah yang seharian ini setia menemani tanpa jeda. Aku tertidur pulas tanpa memperdulikan Khafa yang tengah sibuk berkendara.