
Budayakan vote and like sebelum membaca...
happy reading πππ
πΈπΈπΈ
Pukul 11.45 urusanku baru selesai dengan pak Harry. Aku pamit dari ruangannya. Langkahku tertuju pada ruangan yang di pintunya tertera nama Andra Dewanata,M.kom.
Aku terpaku menatap Andra dari balik pintu kaca. Memperhatikan ia bekerja di penuhi kepulan asap rokok di dalam ruangannya. Belum lagi segelas kopi hitam yang hampir tandas ia minum. Saat banyak orang justru tidak suka laki-laki merokok. Aku malah sebaliknya. Menurutku, disaat seperti itu Andra terlihat sangat kharismatik.
Kebiasaan merokok disela-sela kesibukannya, membuat tidak ada seorangpun karyawan perempuan yang mau memasuki ruangannya. Karena dalam ruangan Andra bekerja, tidak seperti pada ruangan kantor lainnya. Lebih mirip smooking area untuk para perokok di kantornya.
Sebenarnya itu dilarang. Tapi siapa yang bisa melarang Andra. Ia beralasan kalau ia tidak bisa berfikir jernih tanpa dua item itu menemani kesibukannya.
Kusandarkan tubuhku pada pintu ruangannya. Kemudian ku dorong perlahan. Andra masih belum menyadari keberadaan ku.
Pintu berderit saat ku buka sedikit. Asap rokok mulai terhidu Indra penciumanku. "Heyy kang servis komputer! Serius amat." Sapaku padanya. Aku sengaja mengejeknya.
Andra terperangah mendengar ku. "Embun?" Seraya mematikan rokok yang ada di tangannya ke dalam asbak. Wajahnya langsung berseri-seri. "Jangan masuk! Banyak racun." Katanya. Ia beranjak kemudian menarikku keluar dari ruangannya. Sontak aku bingung. Tapi menuruti saja langkahnya.
"Kamu tau itu racun?"
"Tau."
"Terus kenapa kamu masih hisap? Kamu mau paru-paru kamu rusak?"
"Gak mungkin rusak. Selama kamu masih ada di sisiku."
"Apa hubungannya sama aku?"
"Karena kamu kesejukan yang selalu aku bisa hirup dan menyehatkan seluruh ragaku."
"Gombal."
Ia menghentikan langkahnya. "Aku serius." Katanya seraya menatapku dalam-dalam. "Kamu tau ada hormon alami dalam tubuh kita yang membuat kita selalu sehat dan terhindar dari berbagai penyakit?" Tanya Andra sambil mengajakku duduk pada sofa yang berada di sebelah ruangannya.
Aku menautkan alisku seraya mengangkat kedua bahuku.
Andra tersenyum. "Hormon cinta namanya. Hormon yang berfungsi untuk meredakan nyeri, meningkatkan mood, mengurangi stres, meningkatkan imunitas, mempengaruhi sel otak dan satu lagi.. " iya menjeda kalimatnya. Aku masih memperhatikan kata demi kata yang keluar dari mulutnya. "yaitu mencegah penuaan." Imbuhnya sambil menumpangkan kaki kanannya ke kaki kiri.
"Tua itu pasti Andra." Jawabku. Ia menoleh.
"Iya." Lalu kembali menatapku lembut. "Dan aku mau menua bersamamu."
Aku hanya tersenyum mendengar kata-kata Andra. Kemudian melemparkan pandangan ke segala arah.
Tring!
Bunyi notifikasi pesan di handphone ku.
Vita
[Embun ga datang kumpul awas ya. Gue obrak abrik rumah lo.] Aku tersenyum membacanya.
[Serem amat. Siap Butet. Otw.]
Sedangkan pada grup chat sudah ada 51 pesan belum ku baca.
Absurd girls
[Embun ngilang!] Bunyi chat terakhir dari Dela. Aku tak melihat chat sebelumnya.
[Ada nih.] Jawabku.
[Jadi kan? Awas lu batalin seenak jidat.]
[Jadi dong. Otw nih.] Balasan terakhir ku kirim. Kemudian menyimpan kembali handphone pada ransel setia ku.
"Eh omong-omong, aku balik ah. Kerjaan aku udah selesai disini." Kataku pada Andra kemudian beranjak.
"Langsung balik? Cepet banget ih?" Protes Andra.
"Engga. Aku ada janji makan siang sama temen-temenku di up normal."
"Yaudah aku anter ya. Sekalian aku mau makan siang."
"Tapi aku bawa motor."
"Gampang. Nanti aku sulap motor kamu biar langsung ada di rumah."
Akhirnya aku pergi ke cafe up normal dengan Andra. Dengan kecepatan sedang kita sampai pada tempat tujuan beberapa menit kemudian.
Aku membuka kembali handphone untuk menanyakan keberadaan teman-temanku. Namun pada grup chat sudah ada chat yang belum ku baca.
[Maen otw aja lu. Ga jadi di up normal. Kita ada di Gili Gili.] Pesan dari Riri.
[π€¦.] Ku kirim pesan pada grup chat.
[Makanya baca chat sebelumnya.]
[Males manjat.] Balasku.
"Kamu mau masuk juga?" Kataku sambil membuka helm.
"Iya aku mau sekalian makan siang kan."
"Jangan satu table sama aku dan temen-temenku ya."
"Ih kenapa?"
"Pokoknya ga mau. Kita pura pura ga kenal aja."
"Jadi aku makan sendiri? Ih tega banget cowo keren gini suruh makan sendirian. Ntar ada yang godain gimana?"
"Hemmn.. ga pake nawar ya. Pokonya kita pura pura ga kenal." Tanpa menunggu jawaban dari Andra aku berlalu meninggalkannya.
"Embuuuuunn!" Teriak Vita sambil melambaikan tangan. Begitu juga Riri dan Nanda. Cafe tidak terlalu ramai. Jadi begitu masuk aku langsung bisa menemukan mereka dan menghampirinya. Selesai cepika cepiki aku duduk berhadapan dengan Vita di samping Riri. Kemudian aku menengok ke belakang memastikan keberadaan Andra. Ternyata ia sudah duduk tepat di belakangku. Aku segera mencari handphone untuk mengirim pesan padanya.
[Bisa jauhan dikit gak duduknya?]
[NGGAK BISA.] Balas Andra. Aku mendengus pelan.
"Karena kita jarang banget ketemu yaa.. gue minta tolong kumpulin hp masing-masing di sini." Kata Vita sambil menunjuk sudut meja tempat meletakkan handphone.
"Hah?" Aku membulatkan mataku.
"Yaudah ayok." Kata Riri.
"Yaudah iya." Kataku seraya menyimpan hp.
"Eh si Dela mana ya koq belum nyampe juga." Ujar Riri sambil menampakkan wajah cemas tak jelas. Kemudian ia berbisik pada Vita. "Vit, sini deh." Ia mencondongkan badannya.
"Apaan sih.." aku memperhatikan mereka.
"Nengok ke belakang deh. Cowok." Bisik Riri lagi.
"Emang. Coker booo.. hahahaah." Jawab Vita seraya menatap kagum pada Andra. Aku ikut menoleh ke belakang. Aku masih bersikap tenang.
"Coker?" Tanyaku pada Vita.
"Hooh. Cowok keren." Bisiknya ke telingaku.
"Ihhhh..." Ia menggerutu.. "Dela mana sihh?"
"Pada ribet amat sih lu. Pesen makan dulu yuk. Laper gue."
"Ih si Embun mah ga ngaruh liat cowok keren. Sampe kapan tau mau galon Ama si Khafa." Ucap Vita tanpa berbisik lagi. Galon menurut nya adalah gagal move on.
"Heh?" Aku memelototi Vita.
Haduuhh semoga Andra ga paham kata kata Vita.
"Apaan? Eh tau ngga Embun si Khafa kan sekarang sering ke Bogor. Lo tau gak?" Cerocos Vita tanpa ragu. Aku cubit kecil ujung tangannya. "Aaaawwwww... Sakit Embun."
"Mbak..!!" Aku mengalihkan pembicaraan dengan memanggil waiters.
"Andraa..." Suara Dela. Serentak semua menoleh ke arah kedatangannya. Ia memanggil Andra.
"Del.." teriak Riri.
"Hei.. " Dela melambaikan tangan pada Riri kemudian kembali menyapa Andra. "Ngapain disini lu?"
Andra yang sedang memainkan handphone segera menoleh pada Dela. "Ehh Del. Makan siang gue."
"Sendiri?"
"Iya. Dari kantor tadi. Lo Ama siapa?"
"Sendiri. Tuh Ama temen-temen gue." Ia menunjuk ke arah aku, Vita dan Riri. Andra menoleh ke arahku.
"Ehh.. kenalin nih. Sepupu gue."
Hah.. Andra sepupu Dela? Batinku.
Andra mengulurkan tangannya padaku dengan senyum aneh seraya berkata "Andra."
Mau tidak mau aku juga mengulurkan tanganku dengan ragu. "Em.. "
"Bun." Lanjutnya.
"Koq tau?" Tanya Dela.
"Nebak aja Del." Jawab Andra. Membuat ku semakin kikuk.
"Hhahahaa bisa'an." Kata Dela.
"Ri, ini Andra yang waktu ituuu..." Belum selesai Dela bicara Riri sudah mengulurkan tangannya pada Andra dan menyebutkan namanya. Tatapannya membuat aku curiga ada sesuatu. Tapi Andra seperti baru mengenal Riri.
to be continued