
"Kamu tau nggak kalo denger musik itu cuma nambah kegalauan kamu?"
Pertanyaan Khafa membuatku mendengus. Lalu, meliriknya dengan tajam. "Tahu darimana kamu kalo saya lagi galau?"
"Dari awal, saya liat kamu di pantai juga saya sudah tau, kalau kamu lagi gagal move on. Iya kan?"
Benar cuma gara-gara liat aku di pantai terus dia bisa tahu perasaanku? Rasanya tidak mungkin.
"Nggak!" Sergahku. Bagaimanapun Khafa tidak boleh tau apa yang sedang terjadi pada diriku.
"Mata kamu, mana bisa bohong," tukasnya sambil membelokkan mobil memasuki area sebuah mall besar di kota ini.
"Kita mau kemana?" Belum selesai menuntaskan keherananku, Khafa sudah menambah teka-teki baru. Ia membuka seat beltnya. Sedangkan aku masih terdiam dalam kebingungan.
"Ayok," ajak Khafa. Aku mematung memasang mode hening sambil memberikan wajah masam. Enak saja main belok belok ke mall tanpa meminta terlebih dahulu persetujuanku.
"Kamu gak nunggu saya bukain seat beltnya kan?" Lontarnya.
Aku tahu persis sifat Khafa dari dulu. Kalau ia sudah memutuskan sesuatu, maka ia akan melakukannya. Apapun itu resikonya. Juga, kalau ia sudah menginginkan sesuatu, maka ia harus mendapatkannya. Ambisius. Kadang, menurutku ia cenderung egois. Walaupun ia tidak memaksa tapi ia akan selalu berusaha dan berdoa.
Tunggu, Apa aku termasuk ada di dalam do'anya?
Khafa memilih keluar terlebih dahulu dari mobil kemudian membukakan pintu untukku.
"Kita jaga jarak ya, biar gak jadi fitnah," pintanya.
"Hah?" Aku sedikit membulatkan mata mendengar kata-katanya.
"Udah, ayok! Malah melongo."
Perlakuannya membuatku tidak bisa bilang tidak. Aku membuka seat belt dan mulai mengikuti langkahnya.
Khafa memasuki lift untuk meninggalkan area parkiran.
"Assalamualaikum mas Kha!" Sapa seorang gadis ABG yang baru saja memasuki lift di lantai berikutnya. Gadis itu berhijab, ia bersama temannya yang lain sebanyak dua orang.
"Waalaikumussalam, Masya Allah kalian mau pada kemana?" Khafa dengan ramah membalas sapaan para gadis-gadis itu.
"Mau ke toko buku mas," jawab salah satunya.
"Mas Kha mau kemana? Sendirian aja?" Mereka bertanya bergantian.
Khafa tersenyum manis sekali pada mereka, lalu menjawab, "iya nih sen-di-rian. Mau ada yang di beli."
Sendirian!? Astagfirullah aku di anggap apa coba Paijo! TEGA.
Khafa mencuri pandang padaku dengan seringai menyebalkan sesekali. Ia sedang sengaja menyulut kembali api amarahku sepertinya. Ah bukan bukan, tepatnya ia sedang menguji sampai dimana batas kesabaranku.
Pintu lift terbuka di lantai selanjutnya. Khafa keluar lift tanpa mengajakku.
"Saya duluan ya," pamitnya pada gadis-gadis itu. Ia berjalan duluan di depanku tanpa sedikitpun menghiraukan keberadaanku di belakangnya.
Ya, Allah, sabar!
Mau tidak mau, aku tetap mengikuti langkahnya. Cuma dia yang aku kenal disini.
Yakin?
Apa jangan jangan sebenarnya diam diam aku sedang menikmati kebersamaan dengannya? Atau, apa aku kembali merasa tidak ingin kehilangannya?
Khafa berhenti di depan sebuah toko tujuannya. Menoleh sejenak kepadaku kemudian memasuki toko itu. Aku mendonggakkan kepala melihat nama toko yang tertera pada bagian atas pintu masuk, Hanania collection. Toko aneka baju muslim laki-laki dan perempuan.
Aku memasuki toko itu. Namun, Khafa menarik mundur langkahnya menjadi berdiri di sampingku sambil memasukkan kedua tangan pada saku celananya. Langkahku, jadi otomatis berhenti.
"Pilih, mana saja baju yang kamu suka!" Kata-katanya padaku begitu datar dan tanpa ekspresi.
"Tidak ada! Tidak ada baju seleraku disini," jawabku tidak kalah datar dari wajahnya. Saking datarnya, mungkin, kalau ada air mata yang jatuh ia tidak akan mengalir. Iya, aku jadi mati rasa.
"Assalamualaikum, Mas ustadz?" Sapa seorang perempuan cantik berhijab besar. Ia datang dari arah dalam toko. Tebakkanku ia adalah owner-nya. Sapaannya begitu hangat. Aku yakin mereka sudah saling mengenal sebelumnya.
"Hei Mbak Liana, waalaikumussalam," jawab Khafa sambil menyatukan kedua tangannya di dada.
"Nggak Mbak Li, saya lagi nyari gamis,"
"Gamis?" Mbak itu menautkan kedua alisnya. "Gamis perempuan?"
"Iya, saya minta-------," Khafa pura-pura mencari sesuatu. "Nah ini, ukurannya se-Mbak ini," Khafa menunjuk kepada ku tapi ia berlaku seolah tidak mengenaliku. "Tapi saya minta yang nutup mata kaki ya Mbak Li, jangan menggantung kayak gitu," lanjutnya sambil menunjuk kakiku.
Dia masih pura pura tidak mengenaliku? Ya ampun Kha, Perlakuanmu padaku, sudah seperti lagu Afgan. SADIS!
Dadaku mulai naik turun menahan emosi yang bergejolak di ubun-ubun. Menanggapi sikap Khafa yang seperti itu selama di mall, membuatku tidak ingin terlihat bodoh. Ku balas perlakuannya dengan pura-pura tidak mengenalinya juga. Aku berpura-pura sibuk memilih-milih pakaian yang ada di hadapanku.
"Yuk sini Mas, ikut saya. Banyak nih di sebelah sini." Khafa mengekor Mbak Liana mengambil barang yang Khafa maksud. Lima menit berselang ia kembali dengan beberapa stel gamis berwarna pastel.
"Emang buat siapa sih Mas tumben cari baju cewek, calon istri ya? Yah, potek deh aku," canda Mbak Liana. Ia membawa gamis-gamis itu ke kasir dan menghitung jumlah pembayarannya.
Khafa hanya menanggapi candaan Mbak Liana dengan segurat senyuman penuh rahasia.
"Pantesan nih, friend request aku ga pernah di confirm. Taunya udah mau sold out toh?" Lanjut Mbak Liana.
"Laki-laki mana ada istilah sold out-nya Mbak," jawab Khafa sambil menaikan satu alisnya. Ia mengeluarkan dompet dan memberikan satu kartu ATM pada penjaga kasir.
"Oh, iya iya sebelum empat masih ada kesempatan buat aku bearti ya?" Kelakar Mbak Liana lagi. Kemudian sang kasir mengembalikan kartu ATM milik Khafa.
Aku hanya bisa memperhatikan mereka dengan dengkusan dengkusan pelan dari jarak sekitar dua meter. Enak saja laki-laki tidak ada istilah sold out. Dia niat mau poligami?
Istighfar Kha, istighfar! Satu saja belum.
"Yaudah, jazakillah khoiran katsiran ya Mbak Li, aku pamit dulu. Assalamualaikum,"
"Wa iyyaka Mas. Waalaikumussalam," jawab Mbak Liana.
Kemudian Khafa berjalan keluar toko dengan menenteng satu paper bag cukup besar belanjaannya. Ia berlalu begitu saja melewatiku yang masih mematung di di dalam toko.
Aku memutar bola mataku. Lelah sekali rasanya. Tapi, dengan sabar aku tetap mengikutinya. Setelah satu jam lebih mengikutinya berjalan mencari beberapa barang, Khafa mengajak ku ke masjid terdekat untuk sholat Dzuhur.
"Sebenarnya, tadi pagi saya udah reservasi hotel untuk menginap semalam lagi." Mendengar penuturanku Khafa sampai mengurungkan niatnya membuka pintu mobil.
Ia tersenyum sambil mengembuskan napasnya pelan. "Yaudah, nanti saya antar ke hotel ya. Sekarang Sholat Dzuhur dulu yuk!"
"Saya lagi halangan. Kamu aja sana, saya nunggu disini," jelasku.
Setengah jam kemudian Khafa kembali dengan wajah yang, adem sekali. Puncak kepalanya masih tampak basah karena siraman air wudhu. Entah kenapa, aku merasa kekesalanku hari ini runtuh seketika melihat cahaya di wajahnya.
"Kita makan dulu ya, saya laper. Kamu mau makan apa?"
"Bakso," jawabku tanpa pikir lagi. Menurutku cuma bakso yang bisa mengerti perasaanku saat ini. Terbayang sudah kuah bakso yang asam, manis pedas hinggap di lidahku.
"Bukannya bakso banyak di Bogor? Nggak mau coba makanan yang khas disini?"
Aku menggeleng dengan pasti.
Tanpa bertanya lagi, Khafa telah membawaku ke gerai bakso Malang yang terkenal enak di Malioboro. Ia memesankannya satu untukku ketika aku pamit sebentar untuk ke toilet. Setelah kembali, dua mangkok bakso sudah tersaji di atas meja. Khafa duduk di hadapanku. Ia mengambil posisi meja yang sedikit lebih besar agar jarak aku dengannya tidak terlalu dekat.
"Lho kok gak ada sambel?" Tanyaku sambil mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru meja.
Masa iya, di tempat jualan bakso tidak tersedia sambel. Mustahil.
"Gak ada," jawabnya sambil menuang kecap ke mangkok baksonya. Wajahnya nampak tidak bersalah.
"Itu di table sebelah ada!" Aku melayangkan tanganku untuk segera menyambar sambel di meja sebelah. Namun, satu buah sendok hinggap keras dipergelangan tanganku saat itu juga.
"Awwww!" Jeritku menanggapi respon sakit yang di timbulkan karena pukulan itu. "Sakit tau!" Sentakku sambil mengusap-usap bagian yang sakit.
"Gak usah pake sambel!" Larangnya.
Jadi caranya dia melarangku sekarang seperti ini?
"Kamu juga kan suka pedes, kenapa larang-larang saya," protesku.
"Jangan banyak protes! Cepat baca doa, terus makan!" Titahnya dengan tatapan yang mendominasi. Membuat aku mematahkan keinginanku untuk menyantap bakso dengan rasa yang aku mimpi-mimpikan.