Always Remember

Always Remember
Andra ngigau?



Sudah jam makan malam. Aku masih berbaring di tempat tidur. Ini hari ketiga aku istirahat di rumah. Tak kunjung membaik. Demam ku masih turun naik. Kepala terasa berat sekali. Kulit terasa perih meskipun hanya disentuh dengan lembut. Tubuhku lemas tak berdaya. Ku selimuti seluruh bagian tubuhku.


Tok-tok-tok


Terdengar suara ketukan pintu. "Kak, ada Andra." Ibu berbicara di balik pintu. Aku hanya membuka sedikit selimut yang menutupi wajahku. Aku tak menjawab akhirnya ibu masuk ke kamarku. "Suruh masuk?" tanyanya. Aku mengangguk lemah.


Setelah ibu mempersilahkan kemudian Andra masuk ke kamarku. Memegang keningku perlahan.


"Kamu dari kapan kayak gini?" tanya Andra.


Aku memang tidak jujur padanya. Tidak mau merepotkan. Sejak awal aku merasa ada yang tidak beres pada suhu tubuhku. Aku berusaha bertahan sekuat tenaga. Hanya minum obat warung untuk menurunkan demam. Bukan tanpa sebab, ini kulakukan karena aku tak mau merepotkan siapapun. Aku tinggal di rumah hanya dengan ibuku. Adikku kerja di luar kota dan tinggal di mess. Pulang hanya sekitar sebulan sekali.


Aku juga tidak memberi tahu Andra. Beberapa hari kemarin ia tugas di Surabaya. Aku tak mau membuat ia khawatir sehingga membuat pekerjaan nya terbengkalai.


"Baru aja kok. Tadi siang aku mulai demam," jawabku bohong.


Andra menyentuh keningku lembut. Entahlah aku merasa mataku memanas. Mungkin efek demam juga. Tiba-tiba aku teringat sentuhan ayah. Ketulusannya. Tanpa ku sadari bening itu jatuh. Andra mengusap pelipisku perlahan. Menghapus sisa air mata yang terjatuh.


Tak keluar sepatah katapun dari Andra. Aku pun diam mencoba membaca apa yang ada dalam pikirannya.


"Kamu udah makan?" tanya Andra lagi.


Aku menggeleng. "Ga pengen."


Andra mengambil sesuatu yang ia bawa. Aroma bumbu khas bubur ayam menyeruak seolah menusuk hidungku.


"Makan ya,"


"Kok bawanya bubur? Kamu udah tau aku sakit?" tanyaku heran.


Dia sudah tau aku sakit?


"Iya. Tadi sore ibu nelpon aku. Pas aku baru aja sampe dari Surabaya."


Ahh ibu!


Tiba-tiba aku merasakan ingin buang air kecil. Aku memaksakan bangun dari tempat tidur ku. Tapi kepalaku sakit sekali. Andra bergegas menyangga tubuhku.


"Mau ngapain? Bilang kek mau bangun." Wajahnya begitu mengkhawatirkanku.


"Aku kebelet pipis," kataku pelan. Sungkan rasanya mau bilang.


Andra memapah ku ke kamar mandi. Kepalaku seolah berputar. Keluar kamar mandi aku tak tahan lagi menahan rasa sakit di sekujur tubuh. Kepalaku semakin pusing pandanganku kabur.


*****


Perlahan ku buka mataku. Tubuhku terasa kaku.


Dimana aku? Aku menggerakkan jari-jari ku. Berat sekali. Selang infus mengalir ke tangan kananku. Di kiri ku Andra tertidur sambil menggenggam erat tanganku. Kulihat jam dinding di kamar rumah sakit menunjukkan jam satu dinihari.


"Kamu udah sadar?" Andra terbangun. Sinar matanya terlihat begitu menghawatirkan ku.


Aku mengangguk pelan. "Kenapa kamu bawa aku kesini? Aku ga mau disini, aku mau pulang aja." Aku mencoba bangun dari pembaringan. Ahh sial kepalaku berat sekali.


"Everything it's gonna be okay Embun. Ada aku," ucap Andra menenangkan ku.


"Embun.." Andra manggilku lembut. Ku buka mata ini perlahan. Ku lihat sepasang iris coklat tua milik Andra berembun. Kedua tangannya merangkum jemariku. Menciuminya dengan lembut. "Aku sayang banget sama kamu."


Hening. Aku tak tau harus berkata apa. Kata itu sudah beberapa kali aku dengar keluar dari mulutnya. Namun kali ini berbeda. Wajah Andra terlihat sangat serius.


"Aku mau selalu ada untuk kamu." Lanjutnya. Ia menatapku dalam.


Aku mencoba menerka maksud Andra. Ia begitu mengkhawatirkan ku. Disaat seperti ini tak ada yang menjagaku. Membantuku atau ibuku. Aku tak mudah untuk meminta bantuan orang lain termasuk Andra. Mungkin Andra merasa kehadiran nya belum seutuhnya aku akui. Karena aku masih sungkan dan merasa tak mau merepotkan nya.


Ku pikir-pikir Itu sebuah kenyataan. Perasaan Andra terhadapku menjadi alasan utama ia ada. Bagaimanapun baiknya Andra, aku tak sanggup. Aku tak sanggup harus berbagi semua hidupku dengannya. Aku tak sanggup terus membohongi Andra dengan sebuah kepura-puraan.


Andra terlalu baik. Tanpa aku minta ia telah banyak berkorban. Moril maupun materil. Aku yakin Andra tulus melakukan semua itu. Perasaannya, perlakuannya seolah tak mengharapkan balasan apa-apa. Aku belum bisa menerima perasaan nya aku yakin Andra tau itu. Tapi aku juga tak sanggup menolaknya. Seringkali muncul perasaan bersalah setiap kali aku menatap wajahnya.


Sudah berkali-kali aku coba menerima kehadirannya sebagai lelaki penting dalam hidupku. Sudah berkali-kali aku mencoba membalas perasaannya. Namun sia-sia, Bersamanya aku masih merasa hampa.


"Embun?" lirihnya. Ia membuyarkan lamunanku. Alisnya sedikit bertaut seperti sedang menanti sebuah pernyataan yang aku ucapkan. Aku tau Andra terus berusaha mengeja isi lamunanku.


"Kamu mau ga nikah sama aku?"


Krek...


Pintu ruangan ku di buka. Seorang suster masuk hendak memeriksaku.


"Eh.. mbak Embun udah bangun." Sapanya ramah.


Andra memundurkan posisi ia duduk. Memberi jarak padaku agar suster leluasa memeriksa ku.


"Tidurnya lama banget ya mas? Ampe masnya ketiduran juga," ujar suster sambil mengganti botol infusku yang hampir habis.


"Iya tuh sus, sampe ngigau tidurnya," jawab Andra datar.


Aku membelalakkan mata.


"Masa? Ngigau apa mas?"


"Iya katanya 'mas ganteng jangan pergi ya temenin aku. Aku takut.'.." Andra menirukan gaya ku berbicara.


Ish! Menyebalkan!


"Hehehe.. bisa aja si mas. Masa iya gitu?"


Mereka berdua sukses menggodaku. Aku mencebik. Sebal. Andra malah senyum melihatku. Kemudian berbaring di sofa samping ranjang tidurku. Ia melipat tangannya, menjadikan bantalan kepalanya. Sepertinya ia lelah sekali.


"Yaudah istirahat lagi ya mbak. Saya tinggal dulu," pamit suster setelah selesai memeriksaku.


🌸🌸🌸


Sayup kudengar suara adzan subuh di kejauhan. Andra menggeliat bangun dari tidur di sofa samping ranjang tidurku.


"Aaarrrggghh.. " Andra melonjak. "Aku shubuh dulu ya." Ia berjalan keluar ruangan ku. Mungkin ke mushola rumah sakit. Atau ke masjid terdekat. Entahlah Andra keluar begitu saja.


Andra.. semalam, yang ngigau aku apa kamu sih?