
Embun bilang, Embun kangen kalian. Tapi dia sibuk. Jadi bisa up 3 hari sekali. Tak apa ya? Kasih vote terbaik kalian π
.
.
.
.
.
.
.
.
πΈπΈπΈ
Sebelum waktu Ashar tiba, aku sudah sampai di rumah. Sepulang dari Rocio, aku mampir ke toko jam tangan yang berada tidak jauh dari outlet kami. Ya, besok adalah hari ulang tahun Khafa yang ke dua puluh tujuh. Aku tau sepanjang umurnya, ia tidak pernah merayakan ulang tahun. Tapi tidak salah kan kalau aku ingin memberikan sesuatu yang spesial untuknya?
Ku pilih satu jam tangan berwarna hitam yang paling aku suka. Aku yakin, ia pasti juga suka dengan pilihanku. Dengan hati berbahagia aku menimang jam tangan ini. Dari luar, aku mendengar suara mobilnya masuk halaman. Aku tidak tahu kenapa jantungku tiba-tiba terasa berdebar mendengar kedatangannya. Lalu, aku segera menyembunyikan hadiah sederhana itu di sudut laci lemari. Aku berlari kecil ke pintu masuk untuk menyambut kedatangannya.
Setelah ku buka pintu, ternyata Khafa tidak sendiri. Ia datang bersama tiga orang temannya dan salah satunya adalah mas Gala. Ku tarik kembali langkahku masuk kedalam rumah. Lalu, aku berdiri di balik pintu. Diam-diam aku menata hati yang mulai merasa tidak enak. Ku ingat-ingat lagi obrolan ku dengan Khafa tadi siang. Rasanya tidak ada pembicaraan soal ia akan membawa teman-temannya ke rumah. Dan seharian ini, dia di Khusnul khatimah kan?
Ini memang bukan kali pertama teman-temannya datang ke rumah. Malah, hampir sepekan sekali mereka berkumpul untuk kajian bersama atau membicarakan soal misi mereka membangun rumah tahfidz berikutnya. Tapi kali ini terasa berbeda. Mereka semua terlihat seperti sedang mempersiapkan sesuatu.
"Assalamualaikum!"
Aku terkesiap kemudian berbalik badan. "Waalaikumussalam, Kha!"
"Dek, Kamu lagi ngapain disitu?" selidiknya. Ia berdiri di ambang pintu karena sempat menemukanku sedang melamun membelakanginya.
"Ehm, enggak koq. Nungguin kamu," jawabku sambil mencium punggung tangannya. Setelah itu, seperti biasa, Ia meraih kepalaku kemudian mencium lembut keningku. "Kamu sama siapa? Kok mereka gak diajak masuk sekalian?"
"Oh, itu mereka. Kita mau ke Magelang malam ini. Ada bencana tanah longsor disana. Beberapa teman kami membutuhkan pertolongan jadi...," kalimatnya terjeda karena menangkap ekspresiku yang berubah tidak enak. Ya, karena memang firasatku benar. Pantas saja aku merasa tidak enak. "Bolehkan, dek?" lanjutnya. Rupanya ia juga merasa kalau perizinan dariku, akan menghambat misinya kali ini.
Tapi, apa masih ada kesempatan buatku untuk bilang tidak boleh? Sementara, sebelum aku menikah. Aku sudah berjanji untuk mengizinkan semua kegiatan-kegiatan baiknya. Dan ternyata, hatiku sulit rasanya untuk tidak mengizinkannya. "Boleh ya, sayang?" Ia mengulang pertanyaannya dengan kata sayang sebagai rayuan.
Dasar!
"Dua hari lagi akan ada serah terima jabatan kan, di Khusnul khatimah?" Aku bukan tidak mengizinkan. Tapi, aku berusaha mengingatkan kalau sebentar lagi ia akan mempunyai tanggung jawab yang cukup besar.
Khafa mengangguk. "Justru itu, setelah aku di Khusnul khatimah, aku hanya akan membantu lewat donasi saja. Jabatan ku di organisasi ini, aku akan serahkan sama Gala sepenuhnya. Jadi, aku minta izin untuk terakhir kali ini. Ya,"
Aku tersenyum tipis lalu mengangguk. Rasanya, sulit sekali tidak menuruti keinginannya. Tatap mata tulusnya selalu membuatku luluh.
"Gak apa-apa Kha, itu juga termasuk jalan jihad yang kamu pilih kan? Jadi, kamu gak perlu bilang ini akan jadi yang terakhir, kapan aja kamu mau membantu sesama. Aku izinkan Kha, Insya Allah. Meskipun aku tahu, bahaya bisa kapan saja menghampiri kamu. Tapi, aku selalu doakan kamu selalu dalam lindungan Allah, Kha."
Seulas senyuman balasan meluncur dari bibirnya. Lalu, ia membawaku ke dalam pelukannya. "Jazakillah khoiran katsiran, sayang. Kamu selalu bisa membuatku jatuh hati lagi dan lagi," ucapnya sambil membelai lembut hijabku.
Tidak lama kemudian, ia melepaskan pelukannya. "Aku janji, besok sore aku sudah kembali ke rumah. Tunggu aku, ya,"
"Sekarang, berani nyuruh aku nunggu?" ejekku sambil menahan air mata yang mulai menggenang.
"Karena aku pasti kembali," jawabnya tenang.
Mataku memanas menerima perlakuannya kali ini. Tapi lantas, aku mengangguk juga. Aku tidak tahu kenapa rasa takut kehilangannya tiba-tiba muncul di hatiku. Namun sayang, aku tidak mampu mengatakannya. Iya, ternyata rasa takut kehilangannya kalah oleh rasa takutku melihat kesedihannya.
Setelah semua persiapan selesai, akhirnya tiba juga saat aku ia tinggalkan untuk pertama kalinya. Sebelumnya, ketika Khafa pergi ke Solo untuk pendidikan. Aku selalu ikut. Meskipun aku hanya bisa menunggunya saat ia melakukan ujian. Setidaknya aku selalu ada di dekatnya.
"Mas Gala, istrinya gak apa-apa di tinggal?" candaku pada Mas Gala yang sedang sibuk membenahi kebutuhan mereka pada mobil Khafa. Aku bukan sekedar bercanda sih, aku mencoba menyuarakan ke'nggak apa-apa'anku dalam bentuk candaan kepada Mas Gala. Ya, mana ada sih istri yang gak apa-apa beneran ketika hendak di tinggal oleh suaminya seperti ini. Aku kan, bukan Fatimah Az-Zahra yang bisa ikhlas sepenuhnya ketika di tinggal oleh Ali bin Abi Thalib berperang.
"Jangan di jawab Gal, sama aku aja dia gak panggil Mas, sama kamu malah mesra begitu," sahut Khafa mencibirku.
Mas Gala hanya terkekeh sejenak tanpa menoleh padaku maupun pada Khafa. Ku tebak, Mas Gala ini orangnya begitu introvert. Penuh rahasia dan misterius. Ah, bukankah itu-itu juga artinya?
"Saya belum punya istri Mbak." Akhirnya Mas Gala menjawab juga dengan wajahnya yang terlihat sendu.
Dua orang temannya yang lain memastikan bahwa semua keperluan mereka telah masuk semua ke dalam mobil.
"Aku, pergi dulu ya. Kamu hati-hati di rumah. Kamu jangan khawatir aku tidak akan menepati janjiku. Tunggu aku," ucapnya.
Aku menghela napas panjang kemudian mengembuskannya perlahan sambil mengangguk. "Fii amanillah, suamiku. Pulang secepatnya," balasku sambil ku paksa senyum ini muncul dari bibirku.
Setelah prosesi mencium punggung tangannya dan ia mengecup keningku. Khafa pergi mengendarai Jeep Wrangler hijau tua kesayangannya.
Kembalilah secepatnya, Kha!
Setelah mobil Khafa benar-benar tak terlihat, aku melangkah gontai masuk ke dalam rumah. Mengunci semua pintu dan menutup semua jendela. Lesu, aku memasuki kamar utama dengan langkah malas. Ini adalah malam pertama ku tidur tanpa suami di sampingku.
Ku guyur sebagian diri dengan air hangat sebelum aku benar-benar tertidur. Lalu, merangsek perlahan ke ranjang dan menarik selimut hingga menutupi sebagian badan.
Detik, menit, jam berlalu. Aku belum juga bisa tidur. Akhirnya aku mengambil handphone di nakas dan menatap nomer Khafa.
Kalau aku telpon sekarang, mungkin akan terkesan payah. Jadi, ku urungkan niatku untuk menelponnya. Ku simpan kembali handphone di nakas. Lalu, memaksakan diri untuk tidur.
Daripada aku sibuk memikirkan dia. Aku berpikir, bagaimana kalau besok aku membuat surprise kecil untuknya. Rupanya, ide itu berhasil membuatku bisa tidur lebih cepat dan berhenti mengkhawatirkannya.
*****
Hari berganti siang, aku bergegas ke dapur untuk mencoba membuat kue.
Tok-tok-tok
"Assalamualaikum! Mbun!" Suara teriakkan Fitri dari luar.
"Waalaikumsalam," jawabku. Lalu, aku berlari membuka pintu.
"Mbun, cepet ganti baju! Ikut gue ke...." Fitri menjeda sejenak. Aku menatapnya heran. "Ke Khusnul khatimah, ummi sama Aba minta kamu datang," lanjutnya pelan.
"Tapi Fit, Khafa...."
"Iya ini soal Khafa, makanya kita harus cepet-cepet!" jawabnya sambil mendorong tubuhku untuk segera masuk rumah dan berganti pakaian.
Hatiku dirundung tanda tanya besar. Ada sedikit sesal yang menyelinap di dalam relung hati. Pasti soal kepergian Khafa menjadi relawan. Ku tinggalkan dapur yang berantakan dengan berbagai macam bahan membuat kue yang ku kerjakan sejak setelah waktu subuh. Aku tidak peduli lagi. Itu urusan nanti. Kali ini, mengikuti Fitri adalah keputusan yang terbaik.
Dengan di bonceng Fitri, kami melesat membelah kota menuju Khusnul khatimah. Di parkiran, mas Wisnu sedang berjalan dari ruang kelas. Entah mau kemana. Sedangkan aku bersama Fitri masuk ke ruangan Aba, ruangan yang tidak akan lama lagi berpindah menjadi ruangan anak laki-lakinya.
Senyap. Sesaat masuk aku merasakan suasana senyap dalam ruangan. Dinginnya AC terasa perih menusuk kulitku. Apalagi di tambah tatapan ummi Sarah yang sedikit tidak bersahabat. Aku duduk bersisian dengan Fitri di hadapan Aba dengan kepala menunduk dalam.
"Nduk, apa benar semalam, kamu izinkan Khafa pergi menjalani tugasnya sebagai relawan?" tanya Aba tegas.
Aku mengangkat kepala sejenak lalu mengangguk pelan.
Aba mengembuskan napas panjang.
"Mbun, maaf ummi ikut campur masalah kalian. Aba sama ummi pikir setelah menikah Khafa berhenti bertualang dalam bahaya. Ternyata masih sama. Tidak ada yang berubah. Kamu tidak bisa membuat Khafa betah di rumah nduk? Kamu tidak bisa membuat Khafa punya tujuan hidup yang pasti dan ingin meninggalkan kegiatannya selama dia sendiri?" cecar ummi Sarah.
Sudut mataku basah mendengar pertanyaannya yang menurutku itu bukanlah pertanyaan. Iya, itu semua lebih mirip rentetan tuduhan yang menyudutkan ku sebagai istri Khafa yang tidak berguna. Tidak bisa apa-apa.
Ternyata, selama ini Khafa memang hidup dalam kesendirian. Tidak ada satupun yang mengerti kegiatannya selama ini. Tidak pernah ada yang mendukungnya selama ini.
Diam-diam air mataku menetes dalam keheningan. Aku masih menunduk dalam. Bukan, bukan karena aku menyesal karena telah mengizinkan Khafa pergi menjadi relawan semalam. Tapi aku sedih membayangkan sepinya hari-harinya Khafa tanpa ada orang yang mengerti kegiatan tulusnya selama ini.
Kha, seandainya kamu ada di dekatku sekarang. Aku ingin sekali memelukmu, menguatkanmu, mendukung segala kagiatanmu. Detik ini, aku ikrarkan pada diriku sendiri, kalau aku.... Jatuh cinta lagi padamu.
"Assalamualaikum, Aba maaf." Mas Wisnu tergopoh memasuki ruangan.
"Waalaikumussalam," jawab kami semua.
Kami yang sesaat hening sontak menoleh ke arah mas Wisnu. Begitupun aku, ku seka tetes air mata yang sempat jatuh di pipi. Lalu, menatap mas Wisnu penuh rasa ingin tahu.
"Ada apa Le?" tanya Aba penasaran.
"Be-begini Aba, tadi ana lihat di running text sebuah berita di televisi...," ucap Mas Wisnu tergagap. "Katanya, ada dua orang relawan yang gugur terkena longsor susulan saat mengevakuasi korban di lereng gunung Merapi," lanjut Mas Wisnu.
Astagfirullah.
Gemetar. Lemas. Jantungku seolah berhenti sejenak debarannya.
Relawan?
Gugur?
*Longsor?
Gunung Merapi?
Khafa*?
Tubuhku terhempas pada sandaran sofa yang ku duduki. Tidak ada tenaga. Air mataku berlomba-lomba untuk keluar. Ku tutup wajahku dengan kedua telapak tangan. Aku tidak mampu lagi menatap Aba ataupun Ummi yang mungkin akan menyalahkan ku sepenuhnya kalau relawan yang gugur itu benar-benar, Khafa.