
Jangan lupa like, love, vote and komen ya sebagai dukungan ❤️
.
.
.
.
.
.
Setelah selesai makan, tanpa di minta Khafa bergegas mengantarkan ku ke hotel untuk cek in. Banyanganku kini hanya satu, merebahkan diri di kasur empuk berukuran besar dengan perut yang sudah terisi maksimal. Surga dunia.
Aku masih dalam perjalanan menuju hotel sambil memasang wajah cemberut. Kecewa, karena hari ini aku tidak bertemu vitamin C dosis tinggi favoritku.
"Gak usah cemberut gitu, kamu cuma kehilangan sambel, bukan kehilangan-----,"
"Kehilangan apa?!" Sentakku.
"Kehilangan orang yang kamu sayang," lanjutnya. Menyebalkan sekali. Aku seketika membeku mendengar ejekannya.
Mana bisa, sambel disamakan dengan orang. Dasar aneh.
"Kamu gak ada minat untuk nginap di homestay yang dulu aja?" Tanya Khafa mencoba mencairkan kebekuan yang terjadi.
"Tempatnya mbok Sum?" Aku balik bertannya.
"Iya,"
"Gak. Lagian dulu itu juga karena kamu kan, saya kesana, kamu gak tanya dulu saya mau apa nggak!"
"Tapi kamu suka, kan?" Tanyanya lagi tanpa melirikku sama sekali. Matanya fokus menatap jalanan di hadapannya.
"Ya sih, mbok Sum baik. Dia itu, siapa?"
"Kerabat mama,"
"Terus, itu sebenarnya rumah siapa?"
"Itu tuh homestay punya-nya mama. Kalo mama balik kesini, ya dia balik kesitu. Cuma orang spesial yang nempatin rumah itu," jelas Khafa.
"Terus kenapa kamu waktu itu bawa saya kesitu?"
"Ya karena kamu termasuk orang spesial buat saya," jawabnya.
Entah kenapa, rasanya biasa saja ketika Khafa melemparkan alasan itu. Lagi pula, wajahnya begitu biasa-biasa saja. Tidak ada expresi seperti orang yang tengah menggombal.
Kami kini sudah tiba di sebuah parkiran sebuah hotel yang bernama Amarilys.
"Kalau saya spesial, kenapa kamu seakan-akan ngejauhin saya terus?" Pada akhirnya aku penasaran juga, lalu melempar pertanyaan itu.
"Karena berjauhan, bukan berarti saya meninggalkan," jawabnya begitu tenang.
"Kalau kamu nggak meninggalkan, seharusnya kita selalu sama-sama!" Aku tak mau kalah.
"Kalau mau sama-sama terus kamu harus saya halalin dulu biar nggak jadi fitnah. Paham?!" Ucapnya sambil melemparkan tatapan tegasnya kepadaku. Aku memang tak pernah bisa mengalahkannya dalam perdebatan apapun. Ia selalu mempunyai alasan terbaik dalam setiap langkah yang telah di ambilnya. "Ayok cepet turun!"
"Iya iya," jawabku gugup.
Orang ini, selalu saja membuat perasaanku naik turun. Kadang membuatku kagum, tapi setelah itu ia menyebalkan. Ia bisa tiba-tiba menyenangkan. Tapi, dalam waktu bersamaan ia juga bisa membuatku geram. Aneh memang, ajaib. Dan dari semua perlakuannya kepadaku, diam-diam ia berhasil membawaku kembali pada ruang itu.
"Ini punya kamu," katanya sambil memberikan paper bag kepadaku.
"Saya gak minta. Buat apa ini?"
"Ya buat kamu ganti. Memang kamu mau pake baju itu terus?"
Aku menggelengkan kepala.
Akhirnya aku menerimanya juga. "Makasih!" Tidak mungkin juga menolak. Khafa itu, adalah orang yang tidak suka penolakan.
Sebenarnya, aku tidak pernah suka menerima sesuatu dengan cuma-cuma. Rasanya tidak enak. Aku tidak mau kalau sampai aku berhutang budi pada seseorang. Sudah pernah ku bilang berkali-kali. Pada siapapun itu. Termasuk pada Khafa.
Aku lebih suka memberi daripada menerima. Tapi ternyata dalam hidup, kita tidak bisa selalu memberi. Ada saatnya juga ketika kita harus bisa menerima.
Setelah mengambil semua barangku dari mobilnya, aku berjalan menuju lobby hotel.
Ku dengar, suara dering handphone Khafa berbunyi. Lalu, ia sedikit menjauh untuk menerimanya.
Perasaanku tiba-tiba sedih. Kenapa ini, terasa seperti, perpisahan?
Ah, masa bodo. Aku tidak peduli akan bertemu lagi dengannya atau tidak. Aku memantapkan langkah kaki menuju meja receptionist, tanpa menoleh lagi ke belakang. Dan, tanpa ada lagi kata salam perpisahan.
Aku cuma mau menikmati suasana magis di kota ini sendiri. Kota yang selalu menjadi impianku dari dulu. Dari... dulu, pertama aku mengenalnya kemudian jatuh cinta. Bukan, bukan pada orangnya. Jangan salah paham dulu. Tapi pada kotanya. Kota yang selalu menorehkan cerita.
Aku sudah memasuki kamar hotel yang berada di lantai empat. Tanpa banyak basa-basi, ku sambar langsung tempat tidur empuk yang aku telah bayangkan. Aliran darahku seakan lancar dengan seketika. Suasana yang sempat beku beberapa saat tadi dengan Khafa, membuat perasaan dan otot-ototku juga ikut kaku.
Aku merogoh kantung pada Sling bag ku, mengambil handphone yang tadi sempat ku abaikan getarannya. Satu pesan masuk dari Irgi. Ia meminta gambar model baru flatshoes yang telah aku buat. Produksi barang baru, biar konsumen tidak bosan. Selain membaca atau menulis, aku sekarang sedang suka menggambar. Gambar-gambar design Flatshoes yang ku produksi di pabrik sepatu samping rumahku. Awalnya aku terpaksa membuat, karena kita kekurangan ide baru. Tapi lama-lama aku menikmatinya.
Setelah membalas pesan Irgi, kepalaku makin bergelayut manja pada bantalan empuk yang ada di atas kasur. Perlahan kesadaranku memudar berganti mimpi indah yang siap menyambutku.
Aku mengucek mataku perlahan. Ku lirik arloji yang masih menempel di tangan. Sudah pukul 16.25 WIB. Aku beranjak pergi mandi dan mengganti pakaian. Ku buka paper bag pemberian Khafa, lima stel gamis teronggok sudah di hadapanku. Banyak sekali. Dan yang membuat aku melongo, ada kantung kecil berisi pakaian dalam juga untukku. Kok bisa?
Tapi, benar juga katanya, masa iya aku tidak ganti baju. Sedangkan bajuku kotor semua. Akhirnya dengan terpaksa, aku memakai juga baju pemberiannya.
Berkali-kali aku memutar tubuhku di hadapan cermin. Baju ini kebesaran? Atau kelonggaran? Kenapa aku merasa seperti ogoh-ogoh? Atau karena aku biasa memakai pakaian ketat?
Aku mengabaikan perasaan ini dengan terpaksa. Yang pasti setelah aku tidur, semangatku seperti ter-charge ulang. Biarlah soal perubahan penampilanku. Toh disini, tidak ada orang yang aku kenal. Jadi aman, tidak akan ada yang mengejek atau mungkin mencibir.
Dengan penuh percaya diri, aku keluar kamar sambil mengaitkan Sling bag pada pundakku.
"Khafa? Ngapain kamu disini?" Kaget sekali rasanya ketika melihat dia bersandar santai pada pintu sebelah kamarku.
"Jalan jalan yuk!"
"Kamu?"
"Ayok!" Ajaknya dengan semangat. Saking semangatnya, ia tidak lagi menunggu jawabanku. Lalu, ia meninggalkan ku yang masih ternganga keherenan di belakangnya.
Next trip! Ingat Embun, jaga jarak!
Aku terus melangkah di belakangnya, memberi jarak sekitar satu meter dengan dirinya. Namun kadang aku tertinggal jauh, sesekali aku tidak memperdulikan arah langkahnya karena sibuk melihat-lihat aneka macam souvernir yang di jajakan sepanjang jalan Malioboro.
Sebenarnya percuma juga ada dia. Aku seperti jalan sendiri. Seperti kejadian di mall tadi. Disini Khafa berlaku seperti itu lagi. Pura-pura tidak mengenaliku.
Tapi, lagi-lagi dia malah terlihat menyapa atau di sapa beberapa orang disana. Menyebalkan!
Trotoar jalanan mulai terlihat sepi, pada kemana sih mereka? apa karena matahari mulai menua? Jadi mereka ikut berbenah diri. Sayang sekali. Senja seindah ini, tidak boleh begitu saja aku lewati.
Omong-omong, adaptasi ku terhadap gamis lebar ternyata tidaklah mudah. Berkali-kali aku hampir jatuh karena terbelit bajuku sendiri. Sampai akhirnya aku benar-benar terjatuh dengan satu jinjingan di tangan kananku.
Aku diam dan bertahan posisiku terjatuh. Jangan tanya sebab apa, ya sakit lah. Aku tidak bisa bangun sendiri dengan cepat. Lutut dan sikutku sakit bukan main. Ini mungkin terjadi bukan semata-mata karena gamisku. Tapi aku juga yang mulai merasa lelah karena telah jauh barjalan.
Jangan harap Khafa menolong, dia, tau keadaan ku saja tidak. Ia lurus berjalan tanpa memperhatikan ku yang sedang menderita menahan malu.
Dengan wajah yang sudah memerah aku tetap berlagak baik-baik saja. Lalu, aku merangsek naik, duduk pada kursi besi yang sempat aku tabrak.
Tanpa ku sadari, ketika aku membersihkan bajuku dari sisa kotoran. Khafa menghampiriku dengan tenang.
"Menyerah sampe sini aja?" Sindirnya. Ia berdiri di hadapanku dengan tangan di kedua saku celananya.
"Capek!" Jawabku sekenanya.
Lantas, ia duduk di seberang kursi yang sedang aku duduki.
Hei Paijo! Kalo gini caranya, gimana aku bisa ngobrol? Masa iya harus teriak-teriak. Padahal, banyak sekali yang ingin aku bicarakan dengannya.