
Sepanjang jalan sejak dari Khusnul khatimah aku terus menyibukkan diri dengan memainkan handphoneku. Aku masih kesal kalau ingat obrolan Khafa dengan Aba semalam soal Alya.
Pura-pura berlaku cuek dan tidak memperdulikan Khafa dengan segala jenis pesonanya. Sebenarnya, bukan hal yang mudah. Jujur saja, saat pertama kali aku melihat Khafa di pantai waktu itu. Sungguh telah menjadi daya magis tersendiri pada jiwa dan ragaku. Untung saja aku buru-buru menyadarinya. Kalau tidak, mungkin sekarang aku sedang terpenjara dalam rasa sesal berikutnya yang mungkin akan semakin akut.
Ku lirik sesekali Khafa yang sedang fokus. Hingga akhirnya, mobilnya parkir tepat di depan outlet berlambang gunung dengan nama Rocio.co.
Parkiran terlihat lumayan ramai. Ada beberapa kendaraan bermotor dan tiga buah mobil terparkir dengan rapi.
Setelah membuka pintu, aku mengekor Khafa yang masuk ke dalam outlet yang bergaya modern minimalis khas dengan semua benda yang berbau pendaki, camping dan pencinta alam.
"Assalamualaikum!" Khafa menghampiri beberapa karyawannya yang tengah berkumpul pada meja kasir.
"Waalaikumussalam mas, mbak," jawab semuanya dengan wajah yang sumringah.
Setelah menyalami dan menyapa mereka satu persatu Khafa berjalan menuju sebuah sudut ruangan yang di design untuk berkumpul beberapa temannya. Dan sebagian besar diantaranya adalah laki-laki dewasa dengan kisaran umur 20 sampai 40 tahun.
Aku merasa canggung berada di lingkungan mereka. Maka, aku lebih memilih menarik diri, lalu duduk di kursi panjang dengan bahan dasar kayu yang telah di modifikasi demikian natural namun terkesan mahal.
Aku tersenyum tipis menyapa seorang karyawan perempuan berhijab yang belakangan aku ketahui ia adalah kasir disini.
"Mbak, istrinya mas Khafa ya?" tanyanya sungkan.
Aku tersenyum simpul dan mengangguk. "Nama saya Embun, kamu boleh panggil saya mbak Embun," ujarku sambil mengulurkan tangan bersahabat.
"Aku Gita, kasir disini mbak," tutur gadis yang ku terka berusia 20-an itu memperkenalkan diri.
Aku mengangguk dan mengobrol saling bertukar informasi tentang Khafa dan outletnya. Sedang asyik berbincang dengan Gita, beberapa remaja perempuan berusia belasan masuk dan bergabung dengan temannya yang memang sudah lebih dulu berada di dalam outlet.
Mereka menghampiri kami, "Mbak, ada mas Khafa ya? Kita boleh minta foto bareng gak?" pinta salah satunya.
Gita melirikku sebentar dengan maksud meminta izin. Namun, belum sempat Gita menjawab, Khafa berjalan dari arah belakangku. Sontak membuat teriakan-teriakan kecil keluar dari mulut gadis-gadis itu.
Aku melongo menyaksikannya.
"Mas Khafa boleh minta foto bareng gak? Ada mas Gala juga gak?" cerocos seorang gadis berjilbab hitam tak henti bertanya. Ia terus merapatkan tubuhnya mendekati Khafa. Tidak berlebihan, tapi sikap Khafa yang terlihat ramah dan tebar pesona membuat aku jengah dan sebal.
Sok famous!
Aku mendecih melihat Khafa yang sibuk meladeni gadis-gadis itu berswa foto di berbagai sudut outletnya. Lalu, beberapa teman dalam komunitasnya menghampiri mereka dan ikut berfoto bersama.
Aku tak henti menatap tajam setiap pergerakannya. Tapi, dia, malah terlihat semakin sengaja memantik api emosiku kian membara.
"Git, ada air gak?" tanyaku pada Gita yang sedang merapikan beberapa lembar struk di balik meja kasirnya.
"Eh, iya, ada mbak ada, sebentar ya." Gita terburu-buru mengambil air untukku.
Rupanya, gadis itu sudah menebak kekesalan yang akan ku rasakan ketika melihat pemandangan yang saat ini terjadi.
"Ini Mbak," ucapnya seraya memberikan sebotol air mineral kepadaku. Ku remas dan ku putar tutup botolnya dengan kasar. "Ini Mbak sedotannya," lanjut Gita menyodorkan sesuatu.
"Gak perlu Git,"
Tidak perlu sedotan, meneguk langsung dari botol, rasanya akan lebih baik untuk menyiram kerongkongan ku yang tiba-tiba kering.
Aku meneguk air mineral hingga setengah isinya pindah ke mulutku.
"Udah biasa Mbak pemandangan kayak gitu," ujar Gita yang memposisikan diri duduk disampingku.
"Maksud kamu? Kha--" ralat. "Maksud kamu mas Khafa biasa di kerubutin abege-abege gitu?" Aku membuang napas sebal.
"Nggak cuma itu Mbak, biasanya dalam komunitas mereka itu banyak juga pendaki pemula perempuan. Ya, mereka selalu seperti itu, mencari mas Khafa kalo nggak mas Gala," jelasnya.
"Mas Gala?" Aku mengernyitkan dahi. Rasanya aku baru dengar nama itu. "Sri Gala ya nama panjangnya?" tanyaku sambil tertawa kecil. Ternyata ada yang lebih aneh dari namaku.
"Bukan mbak, masa namanya serigala, ada-ada aja mbak Mbun nih, nama lengkapnya Gala Alsandare. Dia tuh keturunan Jawa Manado," jelas Gita lagi. Rupanya gadis ini banyak tahu kehidupan Khafa dan teman-temannya disini.
"Ooooo,"
"Iya, Mbak memang gak kenal? Pernah liat sosial medianya mas Khafa nggak?" Gita menoleh kepadaku.
Aku menggeleng pelan.
Sosial media? Mana aku tahu sosial media milik Khafa. Terakhir aku melihatnya aku sudah memblokir akunnya. Jadi, tidak bisa lagi untuk sekedar melihat apa saja yang ada disana.
"Kalo sering liat pasti kenal. Ada beberapa foto kegiatan mereka disana. Mereka berdua itu yang banyak andilnya di organisasi relawan bencana Mbak, gak pernah takut untuk terjun langsung. Padahal keselamatan mereka juga terancam. Udah kayak pahlawan mbak, makanya banyak yang ngefans tuh."
Mendengar keterangannya, aku sontak menoleh pada Gita. Lalu, tersenyum tipis. Merasakan perasaan yang lagi-lagi terasa menghangat ketika mendengar fakta demi fakta tentang Khafa.
"Assalamualaikum,"
"Waalaikumsalam," jawabku bersamaan dengan Gita.
"Tuh mbak, itu mas Gala." Gita berbisik sambil mencolek tanganku. "Ganteng ya?"
Aku melemparkan seulas senyuman pada seorang lelaki tegap berkulit putih yang di sebut Gita mas Gala itu. Aku tidak begitu asing, dia adalah sosok teman yang pernah Khafa kenalkan kepadaku saat resepsi pernikahan kami. Setelah ia menyapa kami dengan senyuman, mas Gala menghampiri Khafa yang tengah sibuk bertukar ilmu soal pendakian dengan teman-temannya.
Gita kembali disibukkan dengan pekerjaannya. Akhirnya aku mencari handphone yang ku simpan di dalam tas untuk mengusir kebosanan.
"Bosan, ya?" Khafa tiba-tiba duduk di sampingku.
Aku terkesiap, lalu menoleh kepadanya. "Nggak kok, kalau masih mau disini silahkan aja, aku mau pulang duluan, ya?" kataku dengan menyembunyikan hati yang dongkol dibalik senyum palsu.
"Marah?" Ia membalas tatapanku dengan lembut.
"Memang aku terlihat seperti sedang marah?" balasku masih berusaha bersikap biasa saja.
"Kok, minta pulang duluan?"
"Gak apa-apa, males aja liat kamu sibuk jumpa fans, sok femessss!" cibirku.
"Cemburu?" Ia bertanya sambil tersenyum jahil. Ia pasti memang sengaja membuatku kesal.
Ish!
πΈπΈπΈ
Beberapa hari kemudian....
.
.
.
.
.
Khafa terkesiap, ia sontak menoleh dan memandangku. Aku bisa merasakan gelagat gundahnya. Dan tidak biasanya ia terlihat kaku. Sejak lepas isya tadi ia sibuk dengan layar laptopnya dan handphonenya.
"Kamu capek ya? Akhir-akhir ini kamu sibuk banget," ujarku.
"Aku gak capek, sini!" Ia memutar kursinya lalu, menarik tanganku agar selangkah lebih dekat dengannya.
"Kalau belum siap, kamu bisa bilang sama Aba, kalau kamu masih butuh waktu. Menjadi pemimpin itu gak gampangkan? Meskipun aku tau, kamu itu pasti bisa. Tapi kegiatan kamu yang lain kan yang buat kamu ragu? Karena aku yakin kalau kehadiran aku bukan jadi hambatan buat kamu,"
Khafa tersenyum, lalu memejamkan matanya sejenak sambil mengangguk kecil. "Besok, ikut aku ke Ruteng. Yuk!" ajaknya keluar dari tema yang aku bahas sebelumnya.
"Ruteng?" Aku mengernyitkan dahi.
"Iya, Ruteng, Nusa Tenggara Timur. Aku mau liat tempat baru disana yang mau dijadikan rumah tahfidz," tuturnya.
Aku membuang napas pelan karena kecewa. "Kirain, mau ajak aku Honey-moon!" Aku cemberut.
"Ngarep!" ejeknya. Kemudian, ia tertawa.
Ku kira, aku bakal mendapatkan moment indah lagi dalam hidupku. Mendapatkan suami sempurna lalu, diajak honeymoon romantis ke luar kota atau bahkan ke luar negeri sekalipun. Ternyata, tidak!
"Kamu kan disana kerja, buat apa aku ikut?" Aku mencoba menahan keinginanku. Padahal sebenarnya, aku memang tidak mau ia tinggalkan.
"Tuh kan, pura-pura, katanya gak mau kehilangan aku, bilang aja pengen aku paksa kan?" Khafa mencubit gemas hidungku.
"Kamu memang sendiri, perginya?" Aku mengernyit sambil memperhatikan wajah Khafa.
"Berdua, sama kamu,"
"Nyebelin. Bukan itu! Maksudnya tim-mu itu lho," jelasku.
"Gala, aku sama dia, tapi dia berangkat dari Jakarta. Itupun kalau dia bisa menyempatkan waktu."
"Gala? Mas Gala yang ganteng itu?"
"Gantengan akulah!" sombongnya.
Aku tersenyum miring, "ke-pede-an!"
"Kenyataan!" jawabnya tak mau kalah.
"Mau deh aku mau ikut! Kalau sama mas Gala," seruku sambil mengangguk semangat.
"Mas Gala, mas Gala! Kamu kok, jadi semangat karena pergi sama Gala bukan sama aku," ia menyeringai kesal.
"Aku telpon Gala deh biar dia gak ikut!" Khafa berbalik badan lalu mengambil handphonenya.
"Eh, jangan! Biar aku aja yang gak ikut!" Aku mengalah.
"Kamu nyuruh aku, milih Gala apa kamu?" Ia memutar kursinya kembali menghadap ke arahku. Tatapannya berubah serius.
Ngambek kan!
"Kamu cemburu Kha?"
"Iya lah, mana ada suami yang gak cemburu dengar istrinya memuji lelaki lain di depan mata!" jujurnya.
"Mana ada istri yang gak cemburu ketika suaminya di depan mata meladeni banyak cewek-cewek minta foto?" balasku tak mau kalah. Bukankah ini kesempatan buatku menumpahkan perasaan yang sempat kesal kemarin-kemarin?
"Kamu balas dendam?" Ia menatapku penuh tanya. Aku diam tak menjawab. "Aku gak ada kontak fisik sama mereka, aku juga gak punya perasaan apa-apa sama mereka! Jadi, kenapa kamu harus cemburu?"
"Aku gak cemburu, aku cuma----" aku menjeda sebentar kalimatku.
Ah, dia beneran marah?
"Cuma gak suka aja kamu deket-deket perempuan lain," lanjutku semakin pelan.
Diam-diam bibirnya melengkung membentuk sebuah senyuman tipis. "Cemburu mu candu buat aku, nanti aku akan buatmu cemburu lagi ah!" Ia bergumam pelan sambil menaik turunkan alisnya.
"Kalau gitu aku juga akan membuatmu lebih cemburu," balasku pelan.
"Enak aja!"
"Ya udah ya udah, maapin aku ya, aku becanda Kha! Pokoknya aku ikut, Gala juga ikut. Biar aku jadi obat nyamuk buat kalian berdua," candaku.
Khafa terkekeh pelan. "Dia yang akan jadi obat nyamuk, bukan kamu," sergahnya sambil membawaku ke dalam pelukannya.
"Jahat kamu, Kha!" Aku memukul pelan pundaknya.
"Bi-a-rin!" pungkasnya sambil memperdalam menenggelamkan wajahnya di perutku.
"Geli Kha!"
Ia malah sengaja menggeletiki perutku dengan hidungnya.
"Ish! aku lepas nih!"
"Iya nggak, iya..." jawabnya menghentikan aksinya.
"Kha, Kenapa mendadak sih ke Ruteng nya?" tanyaku sambil mengelus lembut kepalanya yang berada menempel di depan perutku.
"Gak apa-apa, pokoknya kamu siap-siap ya,"
Ia mendonggakkan kepala menatapku. Sehingga, otomatis membuat gerakan tanganku berhenti.
"Memang kamu sudah beli tiket?"
"Sudah, pokoknya kamu tinggal jalan, okey!"
"Okey! Ya, sudah kita tidur yuk!"
"Jangan ajak-ajak aku tidur, kalau memang kamu belum siap!"
Siap kok!
Tapi, aku malu untuk jujur.
"Kamu duluan aja ya, aku masih belum menyelesaikan pekerjaanku. Biar besok enteng perginya,"
"Ya, sudah." Aku berbalik badan dengan perasaan kecewa yang diam-diam menyelinap.