
Menemukan yang baik itu mudah, namun mencari yang nyaman itu susah.
Karena semua orang pasti bisa berbuat kebaikan tapi sedikit yang bisa memberi kenyamanan.
Matahari pagi menembus jendela kamarku. Menampilkan seberkas cahaya hangat pada sudut ruangan. Deringan suara handphone membangunkanku dalam lelap mimpi. Aku mengusap mataku pelan. Melihat jam yang menempel di dinding. Sudah hampir jam 7 pagi.
Tanganku meraba sudut-sudut tempat tidur mencari handphone yang semalam aku bawa tidur. Setelah ku temukan kemudian aku membukanya. Sudah ada 5 panggilan tak terjawab dari Andra, satu pesan dari Eliana dan satu pesan dari Riri.
[Kak, aku baik-baik aja. Bilang ibu aku kangen lebaran nanti aku pulang.] Pesan singkat dari Eliana pada pukul 20.35 Wib.
Tapi baru ku buka pesannya. Begitu aku membacanya, langsung ku telpon balik nomernya. Tapi lagi lagi operator yang menjawab.
Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif.
Semoga Eliana baik-baik saja.
[Embun, maafin gue. Ga seharusnya gue marah sama Lo karena kita sama-sama ga tau.] Pesan dari Riri.
[Ga perlu minta maaf Ri.]
Hatiku lega mendapat pesan dari Riri. Semoga ia benar-benar bisa menerima apa yang telah terjadi.
Aku merebahkan kembali diriku di kamar. Padahal sudah siang. Menatap kosong tumpukan kotak-kotak hadiah yang aku bawa dari kantor. Kotak hadiah yang tidak pernah ada nama pengirimnya. Sampai berapa banyak kotak hadiah itu akan bertambah.
Aku bergegas meraih dan membuka salah satu kotak kecil yang tertumpuk itu.
Kali ini hanya berisi satu helai pashmina berwarna pastel. Tak ada satupun pesan di dalamnya.
Ku lebarkan pashmina itu, ku simpan di puncak kepala sebagai penutup rambut panjangku. Kemudian aku coba membelitkannya menyerupai kerudung. Aku berdiri untuk melihat diriku di cermin. Kemudian terkekeh sendiri, betapa lucunya memakai pashmina sedangkan tubuhku hanya berbalut hot pants dengan t'shirt over size.
Dari awal, ada yang aneh pada hadiah-hadiah misterius ini. Isinya semua busana muslim yang ukurannya selalu pas melekat di tubuhku. Aku menghela nafas. Kemudian melepas kembali lilitan pashmina pada kepalaku.
Aku mengambil handphone yang masih tergeletak di tempat tidurku. Kemudian mengetik sebuah pesan.
[Nan, gerah gak sih pake kerudung tiap hari kayak Lo?] Pesan itu ku kirim pada Nanda.
Flashback
Tok tok tok...
Aku membuka pintu. "Embun, anter urang yuk ka koprasi pondok!" Ajak Listy.
"Sekarang?" Aku menilik sejenak jam dinding yang menempel di ruang tamu rumahku. Pukul 15.15 WIB.
Listy mengangguk.
Yang aku tau koprasi pondok itu posisinya berada benar-benar di dalam lingkungan pesantren. Rasanya aku malu kalau pergi mengantar Listy tanpa menggunakan kerudung.
"Aku pake kerudung kali ya Lis kayak kamu, malu."
"Yaudah atuh."
Aku bergegas mengambil kerudung bergo dengan tali di belakang yang menggatung di kapstok kamarku. Bergo yang biasanya aku pakai pergi ngaji setiap sehabis Maghrib.
"Tapi hareudang Lis." [Gerah.] Kataku pada Listy sambil memakai kerudung.
"Teu nanaon Embun. Sebentar koq." [Gak apa-apa] jawab Listy.
Sesampainya di koperasi Listy menyuruhku untuk menunggu di halaman koprasi yang tidak terlalu ramai. Sedangkan Listy masuk ke dalam koprasi untuk mengambil sisa dagangan yang ia titipkan di pagi hari.
Aku berdiri melipat tanganku di dada sambil memainkan rumput dengan sebelah kakiku. Namun sedang asyik aku menunggu Listy tali kerudungku terlepas tiba-tiba. Aku mengikatnya kembali ke belakang kepalaku. Namun sejenak terlepas lagi. Sampai tiga kali aku mengulangnya. Aku merasa heran dan menoleh ke belakang.
"Khafa!" Teriakku dengan mata berbinar.
"Apa." Ia mengulum senyum melihatku.
"Jail iih." Aku menyeringai. Kemudian hendak memukulnya. Tapi ia menghindar kemudian malah memuji.
"Gitu dong cantik tau pake kerudung." Aku malu kemudian salah tingkah mendengarnya. Ku kejar ia sampai tanganku bisa meraihnya untuk bisa ku pukul. Tapi ia malah berlari menjauh sambil puas menertawaiku. Dan aku terus mengejarnya. Sampai akhirnya suara Listy mengehentikan ku.
"Embun!"
Listy memberi kode padaku bahwa ada sepasang mata yang tengah memperhatikan aku dengan Khafa. Ustadz Mahfud.
"Hayuk balik!" Tanganku di tarik kasar oleh Listy.
Aku bangkit berdiri melangkahkan kaki ke arah meja belajar. Berjongkok membuka laci yang paling bawah untuk mengambil kotak broken white. Sudah lama sekali aku menyimpannya tanpa ingin membukanya lagi. Perlahan aku membuka kotak itu. Sebuah buku kisah Ali bin Abi Thalib dan Fatimah Az-Zahra ku genggam.
Ku baca lembar demi lembar buku yang menceritakan bagaimana perjalanan Sayyidina Ali mencintai sayyida Fatimah dalam diamnya.
Kha, jika kamu menggunakan cara mu mencintaiku seperti sayyidina Ali, maka aku tidak bisa memposisikan diriku sebagai sayyida Fatimah putri Rasulullah.
Suara deru motor terdengar berhenti di depan rumahku. Membuat lamunanku terpecah.
Aku bergegas merapikan semuanya dan melangkah untuk membuka pintu.
Krek!
Aku mematung saat melihat sosok di balik pintu.
"Hai!"
Brak!
Aku kembali menutup pintu. Mengerjapkan mata beberapa kali. Aku lupa bahwa aku punya janji dengan Andra untuk pergi ke Bandung hari ini.
Perlahan aku membuka sedikit tirai jendela di sisi pintu. Tapi ternyata Andra sudah lebih dulu melihatku. Ia terkekeh geli melihat kepalaku muncul dari balik jendela. Dengan cepat ku tutup kembali tirai jendela.
"Pagi banget sih." Bisikku sambil belum berani membuka pintu sepenuhnya.
Andra memasukkan kedua tangannya pada saku celana. "Dari tadi aku telponin juga."
"Ihhh ga denger...!"
"Sudah ku duga. Kebluk!" Andra melangkah maju membuka pintu lebih lebar.
Aku merentangkan tanganku melarang Andra masuk. "Aku belum mandi ihh." Pashmina yang masih tersangkut di bahuku terjatuh.
Ia malah mensejajarkan wajahnya bergerak seolah mengendus tubuhku. "Pantesan. Bau." Ia menyenggol ujung hidungku dengan telunjuknya.
"Enak aja!" Kataku sambil mengambil pashmina yang terjatuh.
"Apa itu?"
"Bukan apa-apa." jawabku kaku sambil memegang pashmina.
Andra menepuk puncak kepalaku. "Yaudah sekarang mandi terus siap-siap!" Ia meraih tanganku kemudian menggandengku masuk ke dalam rumah.
Aku tersenyum tipis. Hatiku menghangat mendapatkan perlakuan Andra. "Yaudah lepasin. Tunggu disini sebentar aku mandi."
"Oke!"
Sesaat setelah aku selesai mandi dan bersiap untuk pergi. Aku menghampiri ibu. Ia baru saja pulang dari pasar dengan Irgi. Membeli beberapa bahan baku untuk membuat sepatu.
"Bu, aku pergi dulu ya."
"Jadi? Andra-nya mana?"
"Di rumah."
Ibu menghampiri Andra yang tengah menungguku di ruang tamu. Melihat ibu, ia bangkit berdiri dan mencium tangan ibu.
"Ehh nak Andra, dari tadi?" Sapa ibu pada Andra.
"Baru aja koq Bu. Saya mau izin ajak Embun ke Bandung boleh ya Bu, kemungkinan besok baru pulang." Andra menatapku sejenak lalu kembali menatap ibu.
"Iya boleh. Tapi hati-hati ya. Jagain Embun."
"Iya Bu, calon mantu pasti jagain anak ibu dengan baik."
Ibu tersenyum. "Sudah sarapan belum? Sini yuk sarapan dulu."
"Belum sih. Tadi langsung kesini abis mandi bebek."
Aku memukul tangan Andra. "Jorok!" Cercaku pada Andra.
"Biar mandi bebek, tetep ko. Ga ngurangin kadar gantengnya aku. Ya kan Bu?"
Senyum di bibir ibu mengembang mendengar Andra. "Yaudah sini yuk." Ajak ibu sambil mengajak Andra ke dapur.
"Gausah Bu, nanti aku Ama Andra sarapan di luar aja. Iya kan?"
"Hmmm.. yaudah atuh. Hati-hati yah.. kalo sudah sampe jangan lupa kabarin ibu."
Dengan izin dari ibu, aku dan Andra pun berangkat ke Bandung dengan mengendarai motor.