
Hari berganti begitu cepat. Perasaanku sudah tak karuan rasanya. Jika aku mampu menahannya sebentar saja rasanya aku mau. Bukan, bukan karena aku tidak mau hidup selamanya bersama Khafa. Tapi, aku ingin bernapas dulu sebentar saja dari rasa yang semakin tak menentu. Sedih, senang, haru, takut. Semua bercampur jadi satu.
Aku sempat beberapa kali bicara dengan Fitri soal keluarga Khafa di Jogja yang agamis. Itu menjadi sebuah ketakutan tersendiri untukku. Bisa tidak yah aku menyatukan diri dengan mereka nantinya? Apa aku akan menjadi orang terbodoh disana? Bagaimana mengimbanginya? Khafa mungkin akan mengerti keterbatasanku. Tapi keluarga besarnya? Semakin di pikirkan, diri ini malah semakin di selimuti ketakutan.
Tapi semua bukankan sudah di depan mata? Ketakutan sebesar apapun pada akhirnya harus aku lewati. Fitri selalu membesarkan hatiku. Bahwa aku pasti bisa. Entahlah, kehadiran Fitri di Jogja memang sedikit nya menjadi salah satu penguat niatku untuk berani menghadapi semua. Walaupun tetap saja, keyakinan ku sampai hari ini masih belum maksimal. Kadang aku yakin, kadang aku takut dan ingin sekali mundur berputar haluan. Tapi apa masih mungkin?
Malam ini Khafa dan orang tuanya akan datang ke rumahku. Aku menemani ibu dan Eliana di dapur menyiapkan Snack untuk suguhan. Rasanya masih seperti mimpi.
"Ibu senang dan lega akhirnya kakak jadi juga sama Khafa, plong sekali rasanya hati ibu melepasmu pada laki-laki yang tawadhu dan baik seperti Khafa,"
"Iya Bu, tapi nanti kak Embun jauh. Ibu gak apa-apa?" Tanya Eliana.
"Itu sudah kewajiban buat seorang istri mengikuti suami kemanapun, kamu juga gitu kan? Asal jangan lupa untuk selalu mengabari ibu."
"Tuh, jangan lupa mengabari ibu. Kamu mah nggak di telpon nggak ngabarin," tukasku pada Eliana.
"Dih, kan liat situasi dan kondisi aku juga kali kak, nanti juga kakak ngerasain. Yang penting aku udah disini sekarang. Kok jadi gantian gini ya?" Balas Eliana.
"Iya, pokoknya ibu selalu doakan yang terbaik buat kalian berdua. Nanti sebentar lagi kita bakalan berpisah satu sama lain harus saling menghargai waktu kebersamaan. Kak, yang sayang sama Eliana, begitupun kamu El, walaupun kalian berjauhan harus saling sayang saling ngabarin, kalian itu saudara kandung hanya berdua. Gak ada lagi," tutur ibu panjang lebar.
Mendengar ibu, aku melepaskan pisau yang sedang ku genggam. Menghentikan gerakan tangan ku memotong kue. Perasaan sedih yang ku rasakan membawa tubuhku untuk memeluk tubuh ibu. Lalu, menangis dalam pelukannya. Begitupun dengan Eliana. Kami larut dalam pelukan ibu sejenak.
"Udah udah, ini beresin dulu ayok. Kakak ganti baju sana. Sebentar lagi keluarga Khafa datang lho,"
"Iya iya," jawabku sambil melangkahkan kaki menuju kamar.
Beberapa menit kemudian aku siap dengan pakaian dan Khimar terbaikku. Degup jantungku akhir-akhir ini tak pernah beres. Saat ini contohnya. Aku kembali di dera rasa nervous yang berlebihan. Keringat mulai muncul di kening dan bawah hidungku.
Ustadz Mulyana dan ustadz Ammar telah datang untuk ikut menyambut kedatangan keluarga Khafa. Ia sudah duduk di ruang tamu yang telah ditata sedemikian rupa bersama Irgi.
"Assalamualaikum," tiba saatnya suara salam itu di ucapkan satu keluarga itu. Aku masih menata debaran yang kian gila di kamar bersama Eliana.
"Santai kenapa sih kak, belum malam pertama udah nervous begini,"
Plak!
Sebuah pukulan hinggap di lengan atas Eliana.
Eliana meringis sambil mengaduh.
"Bisa-bisanya kamu mikirin malam pertama!" Bentakku.
"Hahahaaa.," Eliana malah tergelak menanggapi kemarahanku.
"Sssttt.. udah, dengerin di luar!" Seru ku pada Eliana.
"Kedatangan kami kesini dalam rangka silaturahmi, untuk menindaklanjuti ta'aruf putra kami untuk menjadi pendamping hidupnya. Alhamdulillah, itu memang sudah di setujui kedua belah pihak,"
Tutur ayah Khafa yang biasa Khafa panggil dengan sebutan Aba. Beliau dengan pelan mengutarakan maksud dan tujuannya.
"Sebagai orang tua, kami juga ingin berkenalan dengan putri ibu, yang insyaallah besok segera menjadi putri saya juga,"
"Baik, saya akan memanggil Embun, mohon di tunggu sebentar," ucap ibu.
Irgi beranjak memanggilku. "Mbun, sudah siap?"
"Hah?"
"Ihh, malah hah! ya udah ayok kedepan sekarang, calon mertua Lo pengen kenalan,"
"Semangat kak!" Seru Eliana sambil tertawa nyengir kepadaku.
"El, Aldan tidur?" Tanya Irgi. Eliana mengangguk. "ya sudah hayu kamu juga ikut ke depan biar mereka juga kenal sama kamu,"
"Iya A Irgi siap,"
Setelah kata basmalah, aku melangkah pasti pergi ke ruang tamu menemui mereka. Aku menyatukan kedua tanganku tanda Salim kepada Aba. Setelah itu aku mencium takzim tangan kanan wanita paruh baya yang masih cantik di usianya. Ia duduk tepat di samping Aba.
"Ayu ne calon mantuku," ucap Aba sambil melemparkan tatapan bangganya kepada Khafa.
Setelah acara formal selesai. Ustadz Mulyana pamit dari rumahku. Kini tinggallah keluarga ku dengan keluarga Khafa di ruang tamu. Kami duduk saling berhadapan.
"Kamu benar nduk, perempuan yang pernah di bawa Khafa ke Al Furqon?" Tanya ummi Sarah.
"Alhamdulillah, sudah berhijab sekarang ya? Setau ummi kemarin dari warga sekitar kamu masih belum,"
"Iya ummi, saya memang baru berhijab." Aku memberanikan diri untuk menjawab pertanyaan ummi.
"Tapi, bukan karena Khafa kan kamu mulai berhijab?" Tanyanya pelan tapi menusuk.
Terpancar rona kecewa dari Aba karena pertanyaan ummi Sarah yang tanpa di basa basi. Khafa pun terlihat sedikit kaget.
Aku menggelengkan kepala lemah. Lalu, menunduk tanpa sepatah katapun keluar dari mulutku. Aku bingung harus menjawab apa. Karena sebenarnya aku juga bingung apa alasan aku tiba-tiba berhijab. Yang pasti aku hanya ingin berubah menjadi lebih baik. Bukan karena Khafa.
Suasana menjadi hening seketika. Namun ibu buru-buru mencairkan suasana dengan mempersilakan mereka menikmati hidangan yang telah tersaji rapi di meja.
"Kamu sehari-hari kerja nduk?" Tanya Aba kepadaku.
"Sebelumnya saya kerja di perusahaan cargo Aba, tapi seminggu yang lalu saya resign,"
"Jadi profesi kamu itu yang mempertemukan putra Aba ini dengan kamu?" Seloroh ummi.
"Tidak juga ummi, saya sebenarnya sudah kenal Khafa sejak....,"
"Sepuluh tahun yang lalu ummi, sejak saya mondok di Darul Qur'an. Karena alasan itu juga saya mempersiapkan mahar sepuluh gram logam mulia untuk Embun," sahut Khafa tanpa di minta.
"Masya Allah, kenapa kamu nggak pernah cerita sama Aba le?" Tanya Aba kepada putranya.
"Afwan Aba, ana sungkan," jawab Khafa begitu santun.
Aba tersenyum mendengar alasan Khafa. "Kamu memang putra Aba yang mandiri le, apa apa selalu sendiri," ujar Aba. Aku tidak tahu itu sebuah pujian atau sindiran.
Tapi, aku jadi tahu. Ternyata Khafa lebih terbuka kepada ibu kandungnya yang berada di Jakarta. Padahal mereka mungkin jarang sekali bertemu. Aku juga tahu sekarang, kalau ternyata hidupnya selama ini tidak mudah.
"Jadi, nanti setelah menikah kamu bersedia untuk sementara tinggal di rumah Aba? Karena rumah Khafa belum selesai. Sambil menunggu, tinggal bersama kami tidak keberatan kan nduk?"
Deg.
Ketakutan yang belum lama aku lawan, seperti kembali tiba-tiba setelah mendengar kata-kata Aba. Tapi aku bisa apa?
"Insya Allah Aba, dimana pun dan kemanapun suami saya pergi sudah sapatutnya saya ikut." Dengan ekor mataku, aku melihat seulas senyuman di bibir Khafa ketika ia mendengar jawabanku.
Setelah pembicaraan ringan lainnya, akhirnya keluarga Khafa pamit undur diri untuk kembali ke hotel tempat mereka menginap. Hotel yang telah Khafa sewa beberapa kamarnya untuk keluarga besarnya dari Jogja dan ballroom nya untuk resepsi pernikahan sederhana kami.
"Kak, aku baru lho liat jelas mas Khafa," ujar Eliana. Tangan kanannya membantu bi Imah menyusun gelas-gelas kosong sisa hidangan.
Aku melirik ke arahnya.
"Dulu gak tinggi gitu ya. Keren banget. Bang Aldo aja nggak sekeren itu badannya. Padahal dia angkatan darat," katanya sambil menyuap potongan kue ke dalam mulutnya.
"Gitu gitu juga, itu suami kamu,"
"Iya lah, kak, tapi kok ummi-nya Khafa kaya agak jutek ya kak, semoga cuma sangkaan aku aja sih."
"Ah kamu jangan suudzon gitu, nakut-nakutin Kaka aja. Lagian itu bukan ummi kandungannya Khafa,"
"eh iya. Terus yang mama kandungnya dimana?"
"Di Jakarta."
"Oo, awas di rebus lho kak. hahaa,"
"El," aku memelototi Eliana dengan gemas.
"Iya nggak kak, kakak pasti bisa lewatin. Semangat ya kak, yang penting mas Khafa baik sama kakak,"
"Ah kamu, biasa aja. Semua baik pasti sama aku. aku yakin,"
"Iya deh aamiin. Oh iya, kakak udah pijat lulur? Malam pertama harus fresh loh!" Goda Eliana sambil mengeringkan matanya.
"Udah, ahh apa'an si kamu El, gak puas apa ledekin kakak terus?"
"El, kamu tidur di kamar aku aja ya, malam ini aku mau tidur sama ibu," pintaku.
"Iya kak, kan Aldan juga udah tidur di kamar kakak,"