
Selepas sholat subuh, aku kembali membuka kertas soal-soal ujian bahasa indonesia yang aku dapat dari tempat bimbel dan dari sekolah sekalipun. Ini adalah hari pertama aku ujian kelulusan. Meski rasanya muak melihat kertas latihan soal ini. Nyatanya harus aku baca juga. Jujur, aku lebih suka mengulang membaca novel favoritku ketimbang ini semua.
Kokok ayam di luar sana sudah saling bersahutan. Matahari mulai menampakan cahayanya. Menembus jendela kamarku yg sudah aku buka usai shubuh tadi. Bunyi burung liar di pepohonan terdengar begitu merdu bersiulan. Pagi ini cerah.
Aku beranjak merapikan semua buku dan kertas-kertas yang berserakan di meja belajarku. Menyisakan satu papan berjalan yang akan aku bawa ke sekolah lengkap dengan kotak pensilku.
Hari begitu cepet belalu. Sampai akhirnya hari kelulusan ku tiba. Ini akhir masa-masa SMP ku. Akhir juga aku tinggal ditempat tinggalku. Karena lulus SMP keluargaku sepakat pindah rumah. Tidak lagi tinggal dekat dengan pondok pesantren tempat Khafa menimba ilmu. Ahh Khafa... Nama itu..
Lelaki yang selalu berhasil membuatku tersenyum itu.... Aku tak pernah lagi tau kabarnya. Sudahlah aku tak ingin mengharapkan apapun lagi darinya.
Lepas SMP banyak yang berubah dalam hidupku. Aku berpisah dengan Fitri. Fitri yang aku tau ia pindah ke Wonosobo. Kampung halaman ayahnya. Aku mengambil SMK swasta di Kota tempat aku lahir. Sebenarnya nilaiku di SMP cukup bagus. Cukup untuk memenuhi persyaratan masuk SMA Negri. Tapi kondisi keuangan keluargaku berubah. Ayahku kena PHK di tempatnya bekerja. Aku terpaksa ambil SMK swasta yg terdekat dari tempat tinggalku yang baru. Banyak yang terjadi dalam keluargaku. Ayahku yang mulai kerja serabutan. Ibuku juga. Ia ikut turun tangan membantu ayahku menafkahi keluarga.
🌸🌸🌸
Hari ini hari pertamaku masuk SMK. Tak bisa tidur sejak semalam. tak sabar mengenakan seragam baru berwarna putih abu. Meskipun dalam hati ada sedikit kecewa menyusup ke relung hati. Karena tak bisa sekolah di sekolah impianku. Tapi aku harus terima. Aku tak ingin sampai putus sekolah. Jadi apa boleh buat. Aku harus jalani.
Saat itu Khafa naik ke kelas 3 SMA Aliyah. Mungkin masih di Amerika. Atau mungkin sudah pulang. Aku tak tau. Mungkin dia sudah tak ingat siapa aku. Biarlah. Disini aku pun tau tak ada kesempatan lagi memperjuangkan perasaanku. Aku harus melanjutkan hidupku. Sudah yah jangan bahas Khafa lagi. Aku bahkan tidak pernah tau kabarnya lagi. Ketika aku sudah tidak ingat dia lagi karena kesibukanku. Ibu kadang menanyakannya. Katanya pengen punya mantu orang Jawa.
Aduhh kenapa sejauh itu sih emak-emak mikirnya.
Menurut info dari Listy dan teh Nisa, Khafa memang asal Yogyakarta. Tapi ayah dan ibunya punya usaha di Jakarta. Dari gaya bicara Khafa tidak ada sama sekali logat Jawa. Sebab itulah aku tak menyangka kalau dia Jawa. Ternyata ibuku lebih tau. Ini pasti dari Listy. Tanpa sepengetahuan ku ia memberikan informasi tentang Khafa pada ibuku.
Hmmmnn.. Listy apa kabar kamu? Semoga kamu baik-baik ya disana.
Tepat pukul tujuh pagi. Aku sudah berada di barisan tengah di lapangan. Upacara pertama setelah tiga hari berturut-turut masa orientasi siswa berakhir. Ini SMK swasta ku lihat kanan kiri sudah banyak teman baru yang di dominasi perempuan. Mereka rata-rata berpakaian seragam rok pendek dan atasan yang sedikit ketat. Begitupun juga denganku. Hanya saja seragamku tak seketat mereka. Aku tak nyaman.
Aku punya beberapa teman baru. Salah satunya Vita. Sebenernya sudah lama dia ku kenal. Teman SMP ku dulu. Aku hanya sekedar kenal. Tidak dekat. SMP ku tergolong sekolah negeri yg besar. Satu tingkat ada delapan kelas. Dan Vita tidak pernah sekelas denganku. Setelah ngobrol dan kenalan lebih dekat lagi ternyata Vita rumahnya tidak jauh dari rumah lamaku. Tak heran kami langsung nyambung.
Vita bertanya padaku soal rumah lamaku. Dia bilang dekat pondok pesantren. Aku mengiyakan. Pondok pesantren. Hatiku berdesir. Pasti kalian tau kan. Ingatanku saat ini berlarian kemana.
"Sepupu gue mondok disana. Dua tingkat diatas gue." Satu kalimat Vita yang membuatku terhenyak. Kebetulan macam apa ini? Kalo dua tingkat diatas Vita itu bisa di pastikan kalau sepupunya pasti satu kelas dengan.... Sudah sudah. Aku tak mau meneruskan soal ini.
Vita adalah teman yang supel. Cepat sekali akrab denganku. Ditambah tiga teman lain bergabung dengan kami. Bercanda-canda, tertawa-tawa. Membuatku dengan mudah lupa tentang kejadian-kejadian kemarin yang pernah dilewati.
Di SMK aku merasa otak ku tidak terkuras banyak untuk berfikir. Pelajaran demi pelajaran dapat aku kuasai tanpa berfikir berat. Terasa sekali jauh perbedaan ketika aku SMP. Pada semester awal aku berhasil meraih juara umum. Sebagai hadiahnya sekolah memberikan beasiswa full selama satu semester aku di bebaskan uang SPP. Sempat bingung sih sebenarnya kok bisa? Kok bisa jadi juara umum. Hehe.. Tapi biarlah begini adanya. Paling tidak aku bisa sedikit meringankan beban orang tuaku dalam urusan biaya.
Waktu terus berlalu. Hingga sampai pada suatu hari yang membuatku membuka kembali rasa yang ku simpan baik-baik. Rasa yang pertama aku rasakan. Perihal rindu yang belum aku mengerti. Tak bisa aku jelaskan.
Deg.
Hatiku tiba-tiba berirama tak menentu mendengar nama itu lagi. Aku berusaha cuek mendengar pertanyaan Vita.
"Embun!" Sekarang Vita memanggilku sambil mendorongku yang masih bergeming. "Kemaren tuh orang ke rumah nanyain ke gue katanya mintain buku putih ke elo. Buku apaan sih?"
Khafa? Masih inget buku putih? Buku yang selalu ku simpan di deretan paling depan meja belajarku. Meski sudah jarang sekali aku buka.
"Embun jawab!" Vita terus menuntut jawaban. Mulai menampakkan sifat aslinya. Gak sabaran.
"Darimana Lo tau Khafa Vit?" Kataku enteng. Harus enteng. Karena hatiku. Hanya aku yang boleh tau iramanya.
"Dia beberapa kali datang ke rumah Pandu sepupu gue," jelas Vita.
"Mau ngapain? Kabur-kaburan dari pondok ya tuh orang?" Tanyaku tanpa menoleh pada Vita.
"Ga tau. Kayaknya ngerjain tugas akhir gitu. Mereka kan mau lulus. Pandu beberapa kali balik ke rumah. Dianter temen-temennya. Si Khafa tuh salah satunya," jelas Vita lagi.
Tak heran Vita sering lihat Pandu pulang. Karena rumah mereka bersebelahan. Biasanya Pandu jarang di rumah karena mondok. Tapi akhir-akhir ini Vita sering sekali melihat Pandu sering sekali pulang.
"Khafa mantan lu yak?" Desak Vita. "Gue jaga rahasia Lo deh. Bener kan?" Bisik Vita mendekatkan bahunya ke bahuku. Takut terdengar teman lain yang ember.
"Bukaaann," jawabku cuek. Pura-pura sibuk dengan catatan ku.
"Kata si Pandu iya katanya."
"Lo percaya gue apa sepupu Lo itu?"
"Ngga dua duanya. Ga jelas ah." Kali ini Vita nyerah. Dia meninggalkanku ke toilet. Meninggalkanku dalam perasaan yang tak menentu.
Khafa.. mungkinkah kisah kita berlanjut? Aku tak mau. Aku tak mau mempejuangkan perasaan ini sendiri. Aku lelah. Lelah menantimu dalam ketidakpastian. Aku tak mau lagi menantikan waktu. Jam demi jam. Hari demi hari. Minggu demi Minggu. Bulan demi bulan bahkan tahun demi tahun hanya untuk melihatmu. Belum lagi jarak kini semakin jauh. Khafa semakin sulit ku jangkau.
Aku ini.. kenapa sih? Aku melipat tanganku di atas meja dan menelungkupkan kepalaku kedalamnya. Sementara fikiran ku masih saja tak karuan. Mengingat kembali hari hari yang pernah aku lalui bersama Khafa. Hari hari singkat yang begitu lekat dalam ingatan ku.
Aku ini maunya kisah ini indah. Ketika menyadari hati ini terus saja memikirkannya. Maunya orang itu selalu ada di dekat. Selalu terlihat. Maunya aku tau semua tentangnya. Apa saja yang di kerjakannya. Apa saja yang di fikirkannya. Sementara kenyataan tidak bisa seperti itu. Situasi dan kondisi Khafa saat ini adalah seorang santri pondok. Yang dalam lingkungannya banyak sekali aturan dan larangan yang harus ia jalani. Termasuk perasaan kita berdua. Jadi, salahkah jika saat ini aku maunya mengakhiri semua ini? Salahkah aku jika memutuskan tidak ada nama Khafa lagi dalam kisah ku?