
🌸🌸🌸
Setelah beberapa saat aku mengguyur badan dengan shower rasanya cukup segar. Saking segar, gigiku sampai gemeletuk kedinginan. Tapi, hati dan fikiranku setidaknya sudah jauh lebih tenang. Ku pakai handuk yang telah di sediakan Fitri di kamar mandi.
Ah tapi aku lupa sesuatu. Bajuku?
Kamar mandi ini kan letaknya di luar kamar. Terus bagaimana aku mengambil baju? Bodoh! Aku meruntuki perbuatanku.
Setelah aku menimbang beberapa saat, dan memastikan di rumah tidak ada siapa-siapa. Aku putuskan untuk membuka pintu dengan cepat dan berlari ke kamar tempat aku menyimpan tas berisi baju.
Aku membuka pintu dengan cepat dan,
"Kamu?!" Jeritku.
Aku menemui Khafa hendak mengetuk pintu dengan ekspresi kaget.
Brak!!!
Segera ku tutup kembali pintu kamar mandi dengan kasar.
"Kamu ngapain sih disitu?" Teriakku. "Mau ngintip saya ya?! Astagfirullah Kha, saya ga nyangka kamu------,"
"Kamu sadar gak kamu udah satu jam lebih di kamar mandi?!" Seloroh Khafa dari balik pintu.
Lah emang iya aku di kamar mandi sampai satu jam lebih? Rasanya tidak.
"Bukan urusan kamu saya di kamar mandi berapa lama, sana pergi! Saya mau ke kamar, baju saya di kamar!"
.
.
.
.
.
"Kha, kamu udah pergi kan?"
.
.
.
"Kha?"
Tidak ada jawaban. Okey. Ku buka pintu perlahan dan melangkahkan kaki dengan cepat.
Bruk! Aku terjatuh hanya berbalut handuk tepat di depan pintu kamar mandi.
Allah! Sempurna sekali hidupku hari ini.
Aku tersandung tas ku yang tergeletak di lantai. Untung tidak ada siapa-siapa.
Tapi, kenapa tiba-tiba tas ku ada disini?
Aku mendengus kesal. Pasti ini ulah Khafa. Aku bangkit perlahan, berjalan menuju kamar sambil menenteng tas ku.
Setelah aku sholat ashar dan rapi, lima belas menit kemudian aku keluar. Rumah Fitri masih sepi. Kemana perginya Fitri sama mas Wisnu? Kerjaan gimana ceritanya kalau begini.
Aku berjalan menuju teras. Orang itu, sedang membereskan sesuatu dari dalam mobilnya. Sepertinya alat-alat camping.
"Mas Wisnu kemana?" Tanyaku padanya.
"Sudah siap?" Dia balik bertanya.
Aku memutar bola mata jengah. Pertanyaanku di balas pertanyaan juga olehnya. Manusia mana yang tidak akan kesal menghadapi makhluk dihadapanku sekarang.
Kenapa jadi gini sih kamu Kha? Menyebalkan.
"Saya mau pergi sama mas Wisnu. Mas Wisnu nya mana?" Aku mengulang pertanyaanku dengan raut yang semakin kesal.
"Mas Wisnu ke Magelang," jawabnya enteng. Ia terlihat selesai merapikan barangnya.
"Terus kerjaan gimana? Koq kesannya main main gini sih?"
"Saya tau kok lokasinya, ayo berangkat!"
"Maaf, saya gak percaya sama kamu. Nanti saya di culik! Terus di kasih ke hewan buas. Terus saya mati. Saya gak mau, Saya masih mau hidup!"
"Iya, saya mau culik kamu ke pelaminan! Dan kamu gak boleh nolak," tohoknya sambil berjalan melewatiku. Ia tidak melihat ke arahku dan Ekspresi wajahnya masih saja datar. Ia pasti tidak serius.
Khafa menghentikan langkahnya.
Astagfirullah, salah ngomong nih.
"Ayo cepat!" Serunya.
Cepat nikah?
"Cepat naik ke mobil kita berangkat ke lokasi, sudah sore ini. Kamu buang waktu saya aja," tukasnya sambil menampakkan wajah geram. Ia lantas bersiap membuka pintu mobilnya.
Ya Allah kirain.
Tidak mau panjang lebar berdebat, akhirnya aku menuruti permintaannya. Lagi pula semakin cepat semakin baik bukan?
Khafa mulai melajukan mobilnya. Tidak ada sepatah katapun keluar dari mulutnya. Begitupun aku. Aku malas memulai obrolan karena yang ada nanti ujung-ujungnya aku kesal.
Mobil melaju memasuki jalan yang sedikit agak kecil dan rusak. Kanan kirinya kebun dan sawah menghampar. Tubuhku berkali-kali terguncang mengikuti goncangan mobil. Dan perutku sakit sekali. Seperti ada yang mengaduk-ngaduk.
"Huwweekkk!" Mual. Aku mual sekali. Aku menutup mulutku. Takut tiba tiba isi perut keluar dari sana.
Khafa sesekali menoleh ke padaku dengan tatapan khawatir.
"Huwweekkk!"
Astagfirullah. Semakin lama aku semakin tidak tahan merasakan goncangan di mobil.
"Berhenti Kha, aku mau--------- huwwweeekk!" Aku semakin membekap mulutku.
Khafa menghentikan mobilnya, lalu dengan cepat aku membuka pintu. "Huwweekkk..," seluruh isi perutku keluar tanpa sisa. Aku terengah merasakan lemas di sekujur tubuhku.
"Minum?" Khafa menyodorkan sebotol air mineral kepadaku. Wajahnya terlihat cemas. Kemudian ia keluar membersihkan jejak muntahanku di jalanan dan di pintu mobilnya tanpa rasa jijik.
Allah! Sudut mataku basah menahan sakit dan mual bersamaan. Ku hempaskan kembali tubuhku pada jok mobil. Lalu aku minum sedikit demi sedikit air yang Khafa berikan.
"Aku gak kuat Kha," rintihku.
Khafa sibuk mencari sesuatu di belakang mobilnya. Dan memakai lagi sarung tangannya. Tak lama kemudian ia memberikan sebotol minyak kayu putih kepadaku. Aku hanya membuka dan menciumi ujung tutup botolnya. Setidaknya aku sedikit lega meski rasa lemas masih menjalari seluruh tubuhku.
Seorang ibu paruh baya tergopoh-gopoh menghampiri kami berdua.
"Ya allah mas ustadz enten nopo niki? Mbak yu ne knopo?" Tanyanya penuh rasa khawatir.
"Boten knopo knopo bu, mong mabok perjalanan mawon," jawab Khafa.
Ya Allah tambah pusing kepala mendengarnya. Aku tidak mengerti.
"Kulo bantu mijit geh mbak?" Ucap ibu itu kepadaku.
Aku menaikkan alisku sambil menatap Khafa, yang berarti bertanya apa arti bicara ibu itu.
"Mau mijit kamu. Mau?"
Aku membulatkan mataku. Lalu menggeleng.
"Boten Bu, Mbak nya boten purun," jawab Khafa pada ibu itu.
"Sampun riyen nggeh mas kulo yuwun pamit,"
"Nggeh mbok, matur suwun," jawab Khafa lagi. Ibu itu, lantas pergi.
Kemudian Khafa kembali ke kursi kemudi. Dan memarkirkan mobilnya di tepi jalan. Sedangkan aku masih belum ada tenaga untuk berkomentar. Aku pasrah saja lah kemana aku akan di bawa.
Beberapa saat kami saling diam. Mualku sedikit demi sedikit mulai menghilang. Khafa melepas kembali sarung tangannya. Maksudnya apa sih ini orang? Buka pakai buka pakai sarung tangan.
"Ini lokasi sulit. Apa ada jalan lain?" Tanyaku pelan.
Khafa terlihat sedang memainkan bibir dengan telunjuk kanannya. Mungkin dia sedang berfikir.
"Kalau nggak ada. Truk cuma bisa antar barang sampe jalan besar di depan tadi. Masuk lokasi kamu cari pick up sendiri," jelasku tanpa menunggu jawaban darinya.
Khafa mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu menoleh kepadaku. "Kita cari pick up sama-sama."
"Kenapa harus kita? Ini kan daerah kamu, ya kamu cari saja sendiri," protesku.
Perutku kontraksi lagi. Sakit, aku menggigit bibir bawahku menahan sakit.
--------------------------------------------
bersambung ❤️❤️❤️
jangan lupa Like, vote sama komen terbaiknya ya..