
Slow up ya teman-teman, Vote, like nya jangan lupa. Dibaca pelan aja, nikmati setiap kata-katanya.
Happy reading 💕
.
.
.
.
.
Bahagia.
Satu kata yang hanya angan-angan ku sejak dulu jika melihat Khafa. Kini, nyata adanya. Ku kira akan sulit berbaur dengan lingkungan baru yang Khafa tawarkan sebelumnya. Iya, lingkungan agamis di pondok pesantren.
Tapi, ternyata aku salah. Aku betah, sama seperti dulu. Kalau dulu biasanya hanya numpang belajar atau numpang nongkrong di lingkungan pesantren. Kini berbeda. Aku merasa di hargai dan di hormati. Khafa sudah mengangkat drajatku ke level yang lebih baik. Lengkungan senyum tak henti-hentinya aku tebarkan sebagai ungkapan rasa syukur.
"Kha, ini apa?" tanyaku pada Khafa yang sedang sibuk memilah barang-barang di kamarnya yang akan ia bawa ke rumah baru kami.
Kini, aku sedang duduk pada sebuah kursi dan mengamati sebuah sketsa peta tanah air yang beberapa gambarnya sudah di tandai lingkaran biru.
Khafa melirikku sejenak. Lalu, kembali berkutat dengan pekerjaannya.
"Lingkaran biru itu, tanda rumah tahfidz yang sudah berdiri di daerah sana. Belum apa-apa, masih banyak yang belum aku tandai, nanti yang masih belum ada tanda birunya, kamu yang tandai ya?"
"Bagaimana Kha?" Aku belum paham dengan maksudnya.
Khafa menoleh, lalu melangkah mendekatiku.
"Aku yang pergi, kamu yang tandai. Siap?"
Tidak. Aku tidak suka dengan kata pergi yang identik dengan perpisahan. Bahkan, aku benci.
Aku menggelengkan kepala cepat, "kamu gak boleh pergi!"
"Kenapa tiba-tiba berubah? Aku masih ingat lho waktu kamu bilang akan selalu mendukung setiap misi baikku," ujarnya sambil menatapku penuh harap.
"Aku ikut Kha, aku gak mau kamu pergi-pergi lagi!"
Khafa tersenyum tipis. Menghela napasnya pelan dengan tatapan teduh khas miliknya untukku.
Ah, membuatku ingin terus didekatnya.
Senada dengan keinginanku, ia meraihku dalam dekapannya. "Kamu perlu tahu, sejauh apapun aku nanti melangkah. Cuma kamu yang akan menjadi tempat ku pulang. Jadi, kamu jangan khawatir." Janjinya terdengar jelas diiringi degup jantung yang ku dengar dari dada bidangnya. Sehingga tidak perlu ia memohon, aku telah mampu menekan segala rasa yang sempat mengurungku dalam keegoisan. Ia telah berhasil membuat aku luluh kemudian jatuh cinta lagi dan lagi.
"Kha, aku gak mau kehilangan kamu lagi," lirihku sambil membalas pelukannya dengan erat.
"Kamu gak pernah kehilangan aku," jawabnya tanpa beban.
"Masih ngelak, kamu kan baru datang di hidup aku," protesku. Aku menengadah membalas tatapan pada kedua bola matanya.
"Iya, takdir kita memang baru di ACC. Mau bagaimana lagi?" ucapnya sambil mengelus puncak kepalaku.
"Udah ahh, lepasin jangan meluk-meluk terus. Nanti di gerebek Annisa sama Aisyah loh!"
"Moh, aku mau meluk aja terus. Ini kamarku mereka gak bakal bera----,"
Tok-tok-tok.
Ketukan pintu terdengar begitu keras.
"Mas, mas Khafa! Mbak Mbun! Bukain pintunya dong!" Suara Aisyah dari depan kamar.
Tuh kan! Aisyah.
Khafa segera melepaskan pelukannya padaku. "untung aja rumah sudah jadi. Kalo belum aku gak bisa hidup tenang nih," runtuknya. Aku geli melihat wajahnya yang sempat terkesiap karena kaget.
"Ada apa?" Khafa bertanya pada adiknya setelah membuka pintu. "Ganggu aja!"
Aisyah masuk ke dalam kamar tanpa diperintah. Dan membiarkan pintu tetap terbuka. "Mbak, kok mas udah ngepack barang aja sih? Nginep dulu dong, aku besok kan balik ke pondok," ia mengiba kepadaku. Sementara mas-nya, cuek saja.
Aku tersenyum tipis lalu manaikkan alis sambil melihat Khafa. Aisyah mengikutiku menatap mas-nya. Ia seolah sedang memohon izin dari Khafa untuk mau menginap.
"Mas, gimana?" Aisyah tak sabaran.
Khafa melipat tangannya kemudian berlagak menimbang-nimbang keputusannya untuk memberikan izin.
"Boleh ya mas," rengek Aisyah.
Khafa mengangguk dengan disertai teriakkan Aisyah kemudian, "yeeeeeeeeaaayy! Jazakallah mas!!"
"Ayyyyaaaahhhhh!" Teriak anak laki-laki sambil berlari dari arah pintu.
"Fatuuuuurrrrr.... Jagoan ayah!" sambut Khafa sambil menangkap Fatur ke dalam pelukannya. Anak kecil yang mempunyai perawakan lebih kecil dari anak biasanya itu, terlihat sangat bahagia bertemu dengan ayah jadi-jadian nya. Lama mereka terlibat perbincangan khas orang yang saling merindukan dan baru bertemu.
Bahagiaku bertambah dan bertambah lagi. Tak terasa waktu cepat sekali berlalu hingga malam tiba.
Aisyah dan Fatur terlihat nyenyak terlelap di sampingku. Di ranjang sederhana yang ada di kamar Khafa. Benar-benar sederhana untuk seorang pemilik tiga cabang outlet dan anak seorang salah satu pendiri pondok pesantren. Tapi memang sih sangat sangat rapi. Aku salut, aku bangga pada Khafa yang nyaris tanpa cela di mataku. Aku suka sekali kesederhanaannya.
Ceklek.
Suara pintu di buka. Posisiku membelakangi pintu itu. Sehingga aku tidak tahu siapa yang hendak masuk. Aku juga tidak bisa menoleh karena tangan kiri ku di jadikan bantalan tidur untuk kepala Fatur.
Cup.
Pipi kananku terasa hangat oleh sentuhan lembut bibirnya.
"Sudah tidur?" desisnya di telingaku.
Aku meliriknya sekilas sambil sedikit meringis. Tangan kiriku mulai terasa pegal. Khafa menangkap penderitaan ku. Lalu, segera menggeser posisi Fatur agar segera terlepas dari tanganku.
"Ada yang mau di bicarakan Aba sama kita berdua. Pakai kerudungmu. Kita temui mereka sebentar di ruang keluarga,"
Aku sedikit terkejut dengan apa yang Khafa katakan. Perlahan aku beranjak dan memakai kerudungku. Jujur saja, meskipun keluarga Khafa semua baik. Tapi, aku sungkan dengan kebiasaan mereka yang selalu bersikap santun meski dalam lingkungan keluarga.
"Santai aja, gak usah nervous gitu, ada aku." Lagi-lagi ia menangkap kegundahanku.
"Nggak kok, aku cuma...," alasanku terjeda.
Ia meraih tanganku dalam genggamannya, "gak apa-apa, yuk!" Khafa meyakinkanku.
Aba dan ummi Sarah terlihat sedang duduk-duduk santai menikmati wedang jahe dan beberapa jenis makanan ringan. Ku lihat, ada setumpuk berkas di meja entah berkas apa itu.
Kami bergabung dengan hangatnya.
"Le, kemarin aba sama ummi bertemu ustadz Rahmat. Ia mengungkapkan rasa kecewanya sama aba. Karena antum ternyata sudah menikah. Padahal sebelumnya antum bilang belum siap nikah waktu dia meminta Alya jadi istri antum," tutur Aba tiba-tiba. Sontak membuat suasana hangat seketika berubah menjadi kaku.
Belum siap nikah sama Alya? Berarti suatu saat siap?
Khafa menatapku dengan seulas senyuman penuh arti. Diam-diam tangannya kembali menggenggam tanganku. Respon cepat ku berikan terhadap penuturan Aba barusan. Ya, aku meremas keras tangannya sebagai bentuk kekesalanku saat ini.
"Ana memang salah waktu itu, sebenarnya ana bukan belum siap tapi ana tidak siap. Kan aba tahu alasannya. Jadi tidak usah lah kita bahas lagi," balas Khafa sambil berusaha menenangkan ku dengan sebelah tangannya.
Aba manggut-manggut. Mungkin ia hanya menuturkan apa yang ia terima dari luar saja. Agar ke depan tidak ada kesalahpahaman.
"Ya, pokoknya nanti antum kalau ketemu. Cobalah minta maaf. Semua orang memang tidak bisa menyalahkan takdir. Tapi mereka wajar kalau menyalahkan antum karena telah salah bicara," nasihat aba.
"Baik Insya Allah Aba, ana pasti minta maaf."
"Besok, antum bawa berkas-berkas itu pulang. Pelajari dan dalami. Antum harus belajar dari awal soal Khusnul khatimah. Tidak bisa main-main lagi. Dua bulan lagi, antum harus siap menggantikan posisi ana disini," pinta Aba sambil menunjuk ke arah tumpukan berkas di meja.
Khafa terlihat terkejut dengan permintaan Aba. Sepertinya ia memang belum siap menerima amanah sebesar itu secepat ini.
"Nduk, kamu juga ikut belajar ya bareng Khafa, sebagai istri, kamu juga harus tahu agar bisa mengimbangi suamimu kelak ketika menjalani amanahnya. Syukur-syukur bisa bantu," tambah ummi untukku. Aku hanya mengangguk kecil dengan pikiran yang belum sepenuhnya mengerti.
"Ana belum siap, ana mau ikut bantu ngajar saja. Karena ana juga punya tanggung jawab dengan tiga outlet yang sudah ana bangun dengan susah payah Aba," alasan Khafa.
"Khafa, sampai kapan antum mau sibuk dengan dunia antum terus. Permintaan Aba ini bukan untuk pertama kalinya. Bisnis antum, bisa sambil jalan kan? Cepat atau lambat antum harus siap menerima amanah ini. Antum anak laki-laki Aba satu-satunya. Mau tidak mau harus siap menggantikan posisi Aba suatu hari." Aba memohon pada anaknya yang memang sedikit keras kepala.
Khafa terdiam menimbang jawaban. Namun pada akhirnya, setelah obrolan malam kami selesai. Khafa membawa juga semua berkas yang tertumpuk di meja ke kamarnya.
"Selamat ya ustadz, selamat menjalankan amanah baru," ejekku pada Khafa sambil berjalan ke kamar.
"Baik ustadzah, Insya Allah," balasnya serius dengan anggukan kepala santun seolah sedang berbicara pada seorang guru.
Plak!
Ku pukul kencang bahu kirinya. "Jangan panggil aku ustadzah! Ngaco!"
"Gak bisa lebih keras mukulnya?" Ia menghentikan langkahnya.
"Nggak!" Jawabku sambil memutar bola mata. Lalu, aku berjalan duluan meninggalkannya.
Khafa meletakkan semua berkas pada tumpukan barang yang telah ia siapkan untuk dibawa. Lalu berjalan mendekatiku.
"Gak usah tidur disini, gak muat! Sana cari tempat lain. Aku ngantuk mau tidur sama Fatur dan Annisa." Kalimatku sengaja ku buat ketus untuknya. Agar dia tahu, aku sedang kesal soal pernyataannya pada ustadz yang pernah terang-terangan memintanya untuk menjadi menantunya.
"Ihhh, pulang aja yuk!" Ajaknya ketika aku mulai merebahkan badan.
"Gak mau!"
"Gitu ih, baru aja semalam bisa tidur di peluk. Masa sekarang harus tidur sendiri lagi." Ia menggerutu disampingku.
"I don't care. Sudah ya aku mau tidur. Ini sudah larut lho," ingatku.
"Ya sudah, aku mau lanjut beresin barang aja. Kamu tidur lah duluan!"
"Hmn," jawabku pelan berlagak tak peduli.