Always Remember

Always Remember
Move on!



Yang mencintai bukan berarti harus dicintai. Perasaan yang pernah ada, sudah ku anggap sebagai titipan dari yang Maha melembutkan hati. Sudah sepatutnya ku jaga. Lebih dari itu ada perasaan lain yang tengah dititipkan juga. Lalu...


Aku bisa apa?


Embun


🌸🌸🌸


"Riri." Ucapnya sambil berbinar menatap Andra.


Sebenarnya aku meminta Andra untuk tidak duduk bersama teman-temanku karena aku tidak mau ada perasaan canggung di antara kami. Seperti yang lainnya, kalau sudah kumpul kita terkadang suka lupa diri bicara soal pribadi sesuka hati. Terlebih mereka adalah teman-teman dekatku sejak awal berseragam putih abu.


"Ri, Lo udah kenal Andra?" Kata Vita. Riri menggeleng. Tapi sejenak kemudian mengangguk. Tak jelas.


Aku mencuri pandang pada Andra kemudian mengisyaratkan padanya untuk menghindari kami. Tapi Andra malah terlihat mengejekku, seolah ia bisa bergabung dengan ku tanpa harus izin dariku. Yang membuat aku semakin kesal ia turut serta makan siang dan sengaja mengakrabkan diri dengan Riri dan Vita.


"Eh Vita, gue balik duluan ya. Gue masih ada perlu nih." Pamitku. Sebenarnya aku tidak ada acara lain. Aku tidak mungkin ke kantor Jakarta karena sudah hampir jam tiga sore.


Selesai cepika cepiki aku benar-benar pamit meninggalkan mereka.


Kalau kalian fikir aku nunggu Andra untuk pulang bareng, tidak! Kalian salah. Iya tentu saja. Aku pulang sendiri. Tidak sulit mencari angkutan umum di kota sejuta angkot ini. Begitu keluar cafe aku menyetop angkot yang tengah melintas. Tak perlu menunggu lama akupun telah duduk di kursi dekat pintu angkot berwarna hijau.


"Embun!" Andra memanggilku dari depan cafe. Ia berlari mengejarku. Mengetuk kaca angkot yang sudah hampir jalan. "tunggu! berenti bang!" Teriaknya. Angkot yang belum begitu cepat berjalan pun akhirnya berhenti. "Turun!" Perintah Andra padaku. Ku kira, ia mau naik angkot juga bersamaku seperti pada cerita-cerita yang pernah ku baca. Ternyata tidak.


Aku pura-pura tidak mengenalinya dan membuang muka. Tapi, Andra malah mengeluarkan uang berwarna merah dan memberikannya pada supir angkot. "Maaf ya bang, ini ongkos semua penumpang di belakang. Saya minta waktunya sebentar."


Aku berdecak. Bikin malu aja.


"Yuk yang... Turun yang pulang bareng aku aja ya." Ia berkata seraya menampakan wajah memelas. "Maaf ya semua, ini istri saya kalo marah emang suka gini." Katanya sambil melihat satu persatu penumpang di hadapanku.


Aku membelalakkan mata. Istri? Aku tersenyum kaku pada semua penumpang di hadapanku yang pandangannya semua mengarah padaku.


"Ciye, pengantin baru ya? Hayuk neng kasian itu suaminya udah melas gitu. Ga baik marah sama suami. Nanti dosa loh." kata salah satu ibu paruh baya.


"Tuh, denger yang. Yuk." Ajaknya. Kali ini lebih lembut dari sebelumnya.


Tidak mau tambah malu akhirnya aku turun dari angkot.


"Makasih ya bang.. mangga dilajeungkeun nariknya." [Dilanjutkan] ucap Andra pada supir angkot. Kemudian supir angkot tersenyum dan berterima kasih, angkot itupun berlalu meninggalkan kami.


Begitupun aku. Aku berjalan meninggalkan Andra. Tapi dengan cepat Andra menarik tanganku. Sehingga aku berbalik menghadapnya.


Ia mensejajarkan wajahnya dengan wajahku. "Sering sering ya cemburuin aku kayak gini." Ucapnya. Sejenak kemudian ia membawaku kembali ke cafe menghampiri motornya yang masih terparkir.


Ketika Andra hendak memakaikan helm untukku kemudian suara Dela memanggilku.


"Embun! Hape Lo!" Teriaknya sambil menunjukan handphone ku. Karena terburu-buru aku lupa bahwa aku telah meninggalkan handphoneku. Lalu Dela berjalan menghampiriku.


"Kalian?" Ia menautkan alisnya.


"Maaf Del, tadi ada kesalahan teknis." Andra menangkap kebingungan Dela.


"Kesalahan teknis apa maksud Lo? Kalian berdua udah saling kenal? Atau lebih dari itu?" Dela memberondong pertanyaan padaku dan Andra.


Aku mengambil handphoneku dari tangan Dela. "Makasih Del."


"Nanti gue jelasin ya. Gue jalan dulu." Jawab Andra.


Dela terdiam menyaksikan aku pulang bersama Andra. Aku tidak tau apa yang menyebabkan Dela sampai sekaget itu.


Andra mengendarai motor dengan kecepatan sedang. Tapi arahnya bukan kembali ke kantornya.


"Lho kita mau kemana?" tanyaku.


"$&$(+@!@;$!*(#+$;@(#/." Andra menjawab dari balik helm full face nya. Aku tidak bisa mendengar dengan jelas. Daripada harus berteriak aku ikut saja kemana ia membawaku.


Setelah melewati jalan yang berkelok, mananjak dan menurun akhirnya kita sampai pada satu gerbang sebuah taman di atas bukit. Kemudian menerabas masuk tanpa memperdulikan loket masuk yang sudah usang. Andra memarkirkan motornya di sisi jalanan yang menghadap langsung pada pemandangan kota Bogor bagian Selatan. Lalu ia membuka helm dan menyimpannya di rerumputan.


Aku meringis memegang pinggangku yang terasa pegal. Duduk dalam boncengan motor sport itu sangat sangat melelahkan. Ditambah dengan kondisi jalan yang sedikit rusak.


"Duduk." Andra memintaku mengikutinya duduk di rerumputan.


"Kok malah kesini? Kamu ga balik ngantor?" Tanyaku sambil mengedarkan pandangan. Udara sejuk terasa menyegarkan membuat moodku jauh lebih baik.


"Gak." Jawabnya singkat.


"Nanti kena SP lho."


"Di pecat juga gak apa-apa Asal masih sama kamu." Katanya sambil menarik tanganku untuk duduk.


"Ihh mulai deh."


"Mulai apa?"


"Gak pernah serius jawabnya kalo aku tanya tuh."


"Aku gak pernah bercanda jawab pertanyaan pertanyaan kamu." Jawabnya dengan ekspresi sedatar triplek.


"Terserah."


"Terserah siapa?"


"Kamu lah."


"Beneran nih terserah aku?"


"Au ah gelap."


"Pokoknya terserah aku ya. Sabtu besok aku mau ajak kamu ke Bandung. Kamu harus mau. Kan terserah aku."


"Nggak ada replay."


"Kalo aku gak mau?"


"Aku paksa kamu sampe mau."


"Nanti kamu kena pasal penculikan kalo gitu."


"Gak takut."


"Yaudah aku mau."


Andra tersenyum penuh arti sambil menatapku.


"Andra aku boleh nanya?" Kataku sambil memainkan ujung tali sepatuku.


"Apa?"


"Kamu bener mau beli tempat Deket rumahku?"


"Kata siapa? Jali?"


"Bukan. Tapi aku udah tanya kebenarannya sama Jali."


"Terus ko masih nanyain sama aku?" Ia menautkan alis tebalnya.


"Heuh?" Aku tak mengerti maksud Andra.


"Jali mungkin belum selesai jelasin sama kamu. Tapi kamu sudah menarik kesimpulan sendiri."


"Maksudnya?"


"Aku gak jadi beli. Kata pemilik lahannya sudah ada yang berniat membelinya untuk di bangun menjadi rumah Tahfiz."


"Jadi bukan kamu?"


Andra menggeleng kemudian melemparkan tatapannya ke pemandangan yang ada di hadapan kami.


Tring!


Notifikasi grup berbunyi di handphoneku.


Absurd girl.


Nanda : sorry gue ga bisa datang. Anak gue sakit.


Di antara kami hanya Nanda yang sudah menjadi ibu rumah tangga.


Riri : tau gini, gue juga mending ga datang.


Riri keluar.


Nanda : Riri marah Ama gue? Koq leave grup?


Vita : kok jadi gini sih?


Vita : bukan marah Ama lo nan tapi...


.


.


.


.


.


.


.


Dela : tapi ama gue.


Aku : Maaf sebelumnya. Sebenernya Andra emang tadi dateng ama gue. Nanti gue jelasin. Gue masih di jalan."


"Riri keluar grup chat. Marah sama aku jangan-jangan." Lirihku. Aku tahu persis sifat Riri sedikit saja kesalahan, maka ia akan berubah selamanya.


Andra menoleh menangkap kegelisahanku.


"Dela dulu sempet ngenalin aku sama Riri."


"Terus?"


"Nggak ada terusannya. Aku biasa-biasa aja. Dia chat aku balas seperlunya. Kadang malah nggak aku balas."


Aku mengusap wajahku. Meruntuki yang sudah terjadi. Aku tahu, aku salah.


"Bukan salah kamu. Kita sama-sama gak tahu kalau dunia sesempit ini." Sambung Andra.


"Tetap saja, aku tidak mau sampai hubungan persahabatanku yang sudah bertahun-tahun rusak karena ulahku."


"Bukan ulahmu, tapi ulahku."


Aku terpaku menatap matahari di hadapanku yang mulai turun menyerupai semburat jingga yang menawan. Burung-burung beterbangan pulang ke peraduan.