Always Remember

Always Remember
Menentukan pilihan



🌸🌸🌸


"Bang, itu surat jalan untuk ke Palembang sudah aku buatkan ya. Habis magrib bisa langsung jalan."


"Oke sip," kata bang Ali sambil mengacungkan jempolnya.


Aku bergegas mengambil ransel ku dengan cepat. Hari Semakin sore. Aku setengah berlari keluar pintu gerbang. Mengejar jadwal kereta yang semakin dekat.


Pak Yanto menghampiriku, "Mbak, di depan ada mas Andra tuh."


"Andra?"


"Iya. Sama ada paket lagi tuh mbak."


"Paket?" Lagi?


Aku berjalan mengekor pak Yanto. Mengambil paket misterius tanpa nama pengirim itu. Dan menghampiri Andra.


Andra sudah beberapa kali menyempatkan diri menjemputku ke kantor. Sifatnya yang ramah dan mudah bergaul membuat pak Yanto cepat akrab dengan Andra.


Di depan gerbang aku melihat Andra berdiri dengan kedua tangan di sakunya. Menggunakan kemeja berwarna biru dongker di gulung sesiku. Berpadu dengan celana panjang jeans berwarna hitam. Ia menyandarkan tubuhnya ke body mobil. Tersenyum menyambutku.


"Ih ko bilang-bilang mau kesini?"


"Biar kamu terkejut."


"Ih kayak abege aja."


Andra membukakan pintu seperti biasa.


"Terima kasih." Andra menutup pintu. "Kamu koq tumben ada di Jakarta? Gak mungkin karena jemput aku doang," lanjutku sambil memasang seat belt.


"Iya aku abis dari kantor pusat."


"Tuh kan aku cuma sambilan."


"Ngga dong kamu ngga sambilan. Tapi sapuluh. Sempurna." Andra menatap ku sebentar "buat aku." kemudian menstarter mobilnya.


"Ga jelas banget kamu ih."


Andra tergelak. Sambil menyetir melewati kemacetan Jakarta sore hari. Syukurlah Andra datang, biasanya jam segini aku sedang mencari ojek untuk menembus kemacetan Jakarta. Demi mengejar waktu agar tidak ketinggalan kereta. Jujur saja, di Jakarta maupun di Bogor Andra sudah banyak sekali jasanya untuk ku. Sampai aku bingung bagaimana cara membalasnya.


"Ngomong-ngomong ke kantor pusat pake baju begituan?"


"Ya nggak, udah ganti tadi pas keluar kantor. Masa mau ngedate pake seragam dinas."


"Ngedate? Ama siapa?"


"Ya Ama kamu lah. Masa Ama teteh warung sebelah kantor kamu sih!"


"Kok bisa tau sama teteh warung sebelah kantor aku?" Aku menyeringai.


"Tau dong."


"Ih abis godain dia ya?"


"Dia yang godain aku."


"Kamu ih!" Aku memukul pelan lengan kirinya.


Senyum terukir di bibirku. Beberapa kali terbesit bagaimana mungkin menyakiti hati yang begitu tulus menerimaku apa adanya. Bodoh, kalau benar sampai aku tega menyia-nyiakannya. Aku yang terlahir dari keluarga yang biasa biasa saja, memiliki paras yang menurutku juga biasa biasa saja, bisa dipertemukan dengannya adalah suatu anugrah yang tak semua perempuan bisa merasakan.


Iya. Aku sungguh beruntung bisa merasakan betapa nyamannya di cintai oleh seseorang bernama Andra Dewanata.


Sebuah lagu mengalun dari radio mobilnya.


Dia seperti apa yang selalu kunantikan


Aku inginkan


Dia melihatku apa adanya


Seakan 'ku sempurna


Dia…


"Dia.. bukan aku." Kataku setelah Andra selesai menyanyikan lagu.


"Kamu!"


"Tapi lagunya dia, bukan A K U," Pungkasku.


"Yaudah nanti aku ganti Embun. Bukan dia, aku atau kamu."


Beberapa menit kemudian kami tiba di sebuah cafe live music di kawasan Margonda. Suasana cafe cukup ramai. Mungkin karena besok weekend. Andra mempersilahkan ku duduk pada table tidak jauh dari mini stage yang terdapat beberapa alat musik.


"Bro Andraaaa!" Teriakan nyaring terdengar bersamaan dengan melingkarnya lengan ke bahu Andra. "Apa kabar Mamen? Lama banget Lo gak kesini." Sambungnya.


Andra yang tengah memposisikan duduk akhirnya menoleh juga. "Hei David! Baik baik Alhamdulillah. Gila, lama banget kita gak ketemu ya." Mereka tampak akrab sekali. Seperti teman lama.


"Sama siapa nih bro? Kenalin dooong.. sombong banget lo."


Aku yang sedari tadi duduk melihat-lihat menu makanan beranjak mengulurkan tangan. "Embun," kataku.


"Hah? Embun?" Tanya lelaki yang bertubuh gempal itu sambil melihat Andra. "Embun yang dulu ketemu sama lo waktu KKN di Bogor?" Bahkan ia tahu tentang aku dan Andra sejak dulu.


Andra mengangguk sambil tersenyum.


"Wah keren abis lo bro! Sukses ya buat kalian berdua. Jangan lupa undangannya entar." Ia menepuk pundak Andra. Aku meliriknya sekilas kemudian kembali menatap Andra dengan senyum tipis. "Buat Lo berdua gue kasih free menu spesial disini ya. Ntar ada yang bawain buat kalian berdua. Gue tinggal dulu ya bro."


"Oke sip. Jadi ngerepotin nih. Thanks banget ya."


"Oh ngga dong. Buat Lo apa sih yang nggak. Oke gue tinggal dulu ya."


"Selamat sore menjelang malam para pengunjung sekalian... Apa kabar nih weekend nya.. seru, seneng udah pasti ya." Terlihat David di atas mini stage bercuap-cuap.


Sesaat kemudian waiters datang mengantarkan segelas lemon tea pesanan ku.


"Hari ini spesial banget nih. Gue kedatangan sohib lama gue. Bro Andraaaa.. dia datang sama calon tulang rusuknya. Wahh so sweet banget ya.."


Beberapa pengunjung mencari keberadaan Andra.


"Bro! Lambaikan tangan dulu dong."


Andra mengangkat tangannya ke udara. Sontak pengunjung menoleh ke arah kami berdua. Aku mencubit kecil lengan Andra. "Apa'an sih temen kamu tuh. Malu tau."


"Biar aja." Lalu Andra malah menghampiri David di mini stage cafe.


"Ih mau kemana?"


Andra hanya menunjukkan tangannya ke arahku. Dengan ekspresi bermakna tunggu disini sebentar. Aku cemberut.


Lalu Andra mengambil sebuah gitar dan duduk menggantikan David.


Andra berdehem. Mencoba mic dihadapannya.


"Thanks bro David. Udah kasih kesempatan gue duduk disini." Kata Andra mengawali. Suara teduhnya menghipnotis semua pengunjung.


David tersenyum. Lagi lagi menunjukkan jempolnya.


Andra mulai memetik gitar. "Lagu ini, gue persembahkan untuk seorang perempuan sederhana yang mampu membuat hati gue kaya."


Riuh rendah pengunjung semakin membuat aku tersipu. Juga karena Andra tak melepaskan tatapan nya sedikitpun padaku.


Di ujung cerita ini


Di ujung kegelisahanmu


Kupandang tajam bola matamu


Cantik, dengarkanlah aku


Aku memperhatikannya dengan sabit yang terbentuk di bibirku.


Aku tak setampan Don Juan


Tak ada yang lebih dari cintaku


Tapi saat ini 'ku tak ragu


'Ku sungguh memintamu


Jadilah pasangan hidupku


Jadilah ibu dari anak-anakku


Membuka mata dan tertidur di sampingku


Lirik demi lirik yang Andra bawakan. Membuat dadaku terasa sesak. Tak terasa bulir haru itu jatuh di pipi. Perlahan ku tepis menggunakan ujung jari. Aneh! Ini bukan rasa seperti yang dirasakan orang jatuh cinta kemudian berbunga-bunga. Aku malah merasakan hal yang sebaliknya. Aku merasakan seperti ada yang patah dalam hatiku sendiri.


Aku janji Andra aku janji. Aku akan terus belajar mencintaimu. Gumam ku disela tangis haru ku.


Aku tak setampan Don Juan


Tak ada yang lebih dari cintaku


Tapi saat ini 'ku tak ragu


'Ku sungguh memintamu


Jadilah pasangan hidupku


Jadilah ibu dari anak-anakku


Membuka mata dan tertidur di sampingku


Aku tak main-main


Seperti lelaki…


Suara riuh tepuk tangan pengunjung mengakhiri penampilan Andra.


"Terima kasih semua." Andra menyimpan gitarnya dan berdiri masih memegang mic. Lagi lagi, matanya tak henti menatap ku penuh cinta. "Dalam kesempatan terakhir gue disini. Gue mau menyampaikan sesuatu. Mohon perhatian untuk semua yang ada ko disini agar menjadi saksi."


Sejurus kemudian Andra merogoh saku celananya dan mengeluarkan kotak kecil berwarna merah. Lalu ia berkata :


"Embun Puspa Julie, wanita sederhana yang selalu mampu membuatku jatuh cinta. Will you marry me?"


Cafe kembali riuh rendah. Semua pasang mata tertuju padaku. Wajahku merah padam. Malu. Semua pengunjung bersorak serempak meneriakkan kata 'terima'. Andra berjalan menghampiriku. Berlutut di hadapanku.


Aku tidak mungkin menggeleng kan kepala tanda menolak. Setelah apa yang semua Andra lakukan kepadaku. Tapi aku juga masih ragu untuk mengangguk karena sesekali bayangan Khafa masih sering terlintas. Sayangnya aku tidak punya cukup waktu untuk berfikir. Tak punya cara untuk menyakinkan pilihan.


Ahhh Embun.. selama ini kamu kemana aja sihh?


Aku menggigit bibirku. Meremas sekuat tenaga gelas yang berisi lemon tea.


Suara riuh pengunjung sedikit berkurang melihat reaksiku yang tak bisa mereka tebak. Andra menunduk dalam. Aku tau, ia tak akan siap dengan penolakan. Padahal biasanya ia mempunyai tingkat kepedean yang sangat tinggi.


"Andra Dewanata, aku Embun Puspa Julie tidak mempunyai alasan apapun untuk menolak mu."


Andra merangkum jemariku. "Jadi?"


"Kamu koq jadi kaya ga PD gitu sih?" Aku berusaha tersenyum. Menyembunyikan keraguanku. "Yes Andra, i will."