Always Remember

Always Remember
Bayangan



Hai readers yang Budiman. Terima kasih atas like, vote and komennya. Terus komen ya kalo abis baca. Itu berarti banget lho buat author.


Akhirnya part ini done juga. Nah di bagian ini ada beberapa pake bahasa Jawa halus ya. Berhubung author asli sundanese jadi mohon maaf kalo ada salah-salah kata.


happy reading 🌷🌷


🌸🌸🌸


"Berani maju lagi, saya colok mata kamu!"


Tok tok tok.. kaca mobil Khafa di ketuk dari luar. Dari dalam terlihat samar seorang ibu paruh baya berkerudung coklat tua membawa payung. Khafa terperangah tiba tiba, begitu juga dengan ku. Lalu ia membuka pintu.


"Mbok Sum." Sapanya.


"Ini Mas!" Ibu yang di sapa mbok Sum itu menyodorkan satu payung. "Lho berdua toh?" Mbok Sum melirikku. Terlihat agak kaget. Aku balas tersenyum tipis. Kikuk.


Khafa melebarkan jaketnya. Hendak memakaikannya kepadaku. Namun sebelum sampai jaket itu ke pundak ku, tanganku lebih cepat meraih jaket itu. "Saya bisa sendiri!"


Hujan sedikit mereda. Sigap, Khafa keluar memegangi satu payung kemudian membukakan pintu mobil untuk ku.


Aku mendengus pelan. Kenapa sih seolah hujan memberi kesempatan terus menerus untukku dan Khafa berada saling berdekatan. Aku sudah lelah dan tak bisa menolak ajakannya untuk satu payung berdua. Ingin segera sampai ke peraduan untuk merebahkan diri dengan nyaman.


Di bawah payung yang ia jadikan pelindung kami berdua dari tetesan air hujan, Indra penciumanku terus menerus diterpa aroma parfum yang menempel di jaket dan dadanya. Ingin sekali aku menampar pipiku sendiri. Memastikan kalau semua ini hanyalah mimpi.


Mataku beredar meraba seluruh ruangan. Di dalam bangunan klasik khas rumah Jawa. Kusen jendela dan pintunya berwarna krem sedikit mengkilap. Sofa dan permadani berwarna marun dengan motif keemasan. Saat mendonggakkan kepala ke atas ku lihat lampu gantung yang sederhana namun terkesan mewah.


"Mbok Sum, kulo Nyuwun tulung dipun aturaken mbak e wonten pundi kamar ingkang bade damel istirahat, kulo mendet barang rumiyin wonten mobil." [Mbok Sum, tolong kasih tau dimana kamar Mbak ini untuk istirahat. Aku ambil barang dulu di mobil.] Pesan Khafa pada mbok Sum dengan santun. Sedangkan Aku jangan ditanya, karena sama sekali tidak mengerti apa yang Khafa katakan pada Mbok Sum. Selain itu aku juga masih terpana melihat sudut-sudut rumah yang begitu nyaman.


"Monggo mbak, nunut Kulo." [Mari mbak, ikut saya.] Mbok Sum ngomong apa fikir ku. Tapi dari bahasa tubuhnya ia seolah mengajakku masuk ke dalam sebuah kamar. Aku mengekornya dari belakang.


Baru saja aku melangkah, lagi lagi aku di buat terpana oleh suasana kamar yang begitu nyaman. Ranjangnya berukuran double dengan kelambu yang menjuntai. Keempat sisinya di ikat bergelombang. Jika di bandingkan dengan ranjang di kamarku.... Ah apalah, sungguh bukan perbandingan yang sepadan. Belum lagi meja rias dan lemari yang terbuat dari kayu jati. Di sudut sebelah kanan meja rias aku melihat ada pintu kamar mandi. Syukurlah jadi aku tidak perlu keluar kamar jikalau aku membutuhkannya.


Tak berapa lama Khafa kembali dengan membawa barang-barang ku. Menaruhnya di atas meja rias yang telah aku tempati. Aku meliriknya sebentar.


"Mbok sum, Niki rencang kulo saking Bogor. Asma ne Embun. Nyuwun tolong dibantu. Neeh butuh nopo-nopo, sanjang mawon kale kulo ngeh." [Mbok Sum, ini rekanku dari Bogor. Namanya Embun. Tolong di bantu kalau dia butuh apa apa ya.] Aku hanya diam dan tersenyum tipis.


"Sampun ngeeh mas, kulo tak ting wingking sekedap, bade damel wedang jahe, kangge mbak yu ne." [Baik mas. Saya pamit ke belakang dulu mau buat wedang jahe buat mbak nya.] Mbok Sum bergegas ke dapur.


"Silahkan keluar! Saya mau istirahat." Titahku pada Khafa. Rasanya itu tidak mirip perintah tapi lebih tepatnya mengusir.


"Iya iya. Kalo butuh apa apa, bilang mbok Sum aja ya. Saya pamit dulu. Masih ada urusan," Katanya tenang.


"Hmmm.." jawabku singkat.


Kemudian Khafa menutup pintu. Aku lekas menahannya.


"Kha.." aku memanggilnya pelan. Ku kendalikan emosi ku.


Ia menoleh. "Terima kasih." Ucap ku.


Khafa hanya menjawabnya dengan seulas senyuman. Lalu mengangguk.


Sudut mataku mulai memanas.


Tidak! Jangan. Jangan menangis Embun! Aku harus bisa buktikan kalau aku bukan Embun yang cengeng lagi seperti dulu. Bukan kah ini kesempatan aku untuk menunjukkan pada Khafa kalau aku baik baik saja tanpa dirinya. Aku menarik nafas pelan. Meyakinkan diri sendiri kalau aku baik baik saja.


Tok tok tok..


Baru saja aku mau membuka jaket yang menempel di bahuku. Hah? Jaket? Inikan punya Khafa. Aku segera melepasnya ketika menyadarinya. Lalu membuka pintu bercat krem itu. Nampak Mbok Sum dengan nampan lumayan besar di tangannya. "Eh Mbok Sum. Masuk! Maaf merepotkan." Kataku. Aku berusaha mengikuti gaya Khafa berbicara. Halus dan santun.


"Ndak apa apa mbak. Ini wedang jahe dengan makan siangnya. Tadi mas Khafa bilang mbaknya belum makan. Jadi mbok bawain nasi gudeg juga."


"Oh ya Allah, terima kasih Mbok. Terima kasih banyak."


Mbok Sum menyimpan nampannya di atas meja jati dekat pintu. Lalu kembali pamit ke belakang.



Ingin sekali segera melahapnya. Tapi aku memutuskan untuk mandi terlebih dahulu. Setelah selesai mandi, aku melahap semuanya hingga tandas.


🌸🌸🌸


Deringan ponsel membuatku terbangun dari tidur. Tak terasa sudah hampir senja.


Andra calling....


"Halo sayang.."


"Hei.." kataku sambil mengumpulkan kesadaran.


"Kamu lagi apa disana? Susah banget ngehubungin kamu."


"Aku baru aja bangun tidur. Tadi hujan. Ga ada signal."


"Aku video call yah sekarang. Via Skype."


"Oke."


Aku segera mengambil notebook yang ada di tasku.


(Assalamualaikum.. ) Suara salam terdengar samar dari luar. Fikir ku itu tamu yang datang untuk homestay di seberang homestay ku. Tiba tiba aku mendengar suara pintu berderit.


"Hai!" Kata Andra dengan latar kamar. Ia tampak sumringah.


"Kamu ga kemana-mana weekend?"


Ia menggeleng. "Ngga ada kamu."


Aku menatap layar laptop dengan seksama.


"Ihh mulai deh. Kamu sakit?"


"Koq tau?"


"Agak pucet tuh."


"Meriang tau aku, ga ada kamu." Andra mengernyitkan dahi nya.


"Yaudah minum obat sana gih!"


"Obatnya kamu."


"Andra!" Aku memelototinya.


"Terus seharian kamu tadi ngapain aja?" Tanyaku pada Andra.


"Harusnya aku yang nanya kayak gitu sama kamu? Kamu baik baik kan disana?"


Aku mengangguk.


Hening sejenak.


"Hei! Sayang!!!"


"Iyaaa.. kamu gimana? Ngapain aja seharian?"


Andra bercerita panjang lebar. Aku, tak begitu memperhatikannya. Perhatianku terbelah pada bayangan yang memantul pada cermin di lemari jati dalam penginapanku. Sesosok laki-laki bersandar di samping pintu kamar yang tidak tertutup semua. Kepalanya menunduk, matanya terpejam seperti sedang menahan rasa. Aku tidak tau rasa apa yang tengah ia tahan. Kesedihan, kemarahan, kekecewaan atau penyesalan.


Sosok itu adalah.... Khafa?