Always Remember

Always Remember
Panggilan Baru



"Dek, bangun. Aku subuh dulu ya," suaranya seperti ghaib ketika aku masih memejamkan mata. Sentuhan hangat menyentuh lagi di bibirku.


Lalu, beberapa saat kemudian, saat kesadaran ku sepenuhnya berkumpul, Aku terbangun dengan posisi ter-absurd di atas ranjang. Selalu begitu. Entahlah, kebiasaan ini masih sulit ku buang. Karena itu semua terjadi tanpa aku sadari. Padahal maunya, aku terbangun dan masih berada dalam pelukan sang suami. Ini malah tidak sama sekali. Ia mungkin sudah berada di masjid.


Ku lirik jam berwarna putih berbentuk lingkaran yang menempel di dinding. Jarum pendeknya menunjukan ke arah diantara angka lima dan enam. Hemn, subuh sudah lewat rupanya.


Kemana pak suami? Kok belum kembali?


Aku bergegas mencuci muka dan mengambil hijab sederhana, lalu dengan semangat setengah berlari ke lantai bawah. Pagi yang paling indah dalam hidupku.


"Rajin banget mas," ejekku saat menemukan Khafa di halaman rumah sedang menggunting rumput.


Ia mencebik. "Mandi sana!"


Huh! Kirain mau dipanggil sayang.


Tapi, keketusannya sungguh berbeda dengan yang aku dengar ketika aku masih setengah terlelap. Jangan-jangan yang ku dengar tadi adalah bisikan dari makhluk tak kasat mata. Ghaib.


Hiiii ngeri!


Aku menggeleng cepat menepis pikiran yang tidak-tidak.


"Nanti aja. Dingin tau," tolakku sambil duduk di tangga teras.


Khafa membuka sarung tangan dan menyimpan gunting rumputnya.


"Lho kok, udahan? Padahal aku mau liat kemahiran kamu gunting rumput lho," ujarku. Ia kemudian berjalan menghampiriku.


"Gak penting, yang harus kamu lihat kemahiran ku yang lain," Ia berjongkok di hadapanku.


Yang lain? Entah kenapa aku ingat tentang kebiasaannya di waktu luang. Mendaki gunung.


"Kemahiran mendaki gunung ya? Asik! Aku ikut!" Seru ku antusias.


"Bukan. Tapi mendaki kamu!" Sergahnya dengan ekspresi nakal sambil menepis keringat yang bermain-main di dahinya.


Pipiku memanas mendengarnya. Dan yang lebih parah, ada yang tidak beres pada otakku saat melihat ia menepis butiran keringatnya. Entah kenapa ia terlihat begitu sexi dan membuatku memikirkan hal yang iya iya.


Ish! Aku tiba-tiba bergidik ngeri dan ingin lagi merengkuhnya dalam pelukan. Aiihh!


"Aww!" Aku mengaduh manja saat ia mencubit hidungku karena menemukanku sedang melongo.


"Pasti lagi mikir yang nggak-nggak ya?" Sangkaannya tepat sekali.


"Bukan nggak-nggak Kha, tapi iya-iya. Kan kita sudah halal," belaku meski tetap mengakui kalau sangkaannya memang benar.


"Kalau kamu lagi halangan tetep aja jadinya haram," ujarnya menyangkal pernyataanku.


"Tapi kata si Jika, iya," eyelku dengan entengnya. Aku selalu ingin protes dan tidak mau kalah. Iya, aku selalu bisa menjadi diriku sendiri ketika berada dihadapannya. Tidak tahu kenapa.


"Jika? Jika siapa?" Khafa semakin bingung dengan omonganku yang mulai melantur.


"Itu lho authornya Cinta tertinggal, Jika Laudia," jawabku lagi.


"Ji-kalau-dia?" Ia menautkan kedua alisnya sedikit berpikir. "Jangan ada dia lagi diantara kita! Pokoknya Ji-kalau-aku! Cuma aku!" lanjutnya dengan nada yang mulai meninggi. Ish, ia seolah lupa semalam sudah berlaku manis padaku.


"Ih apa'an sih Kha, mulai egois deh."


"Kamu yang apa'an. Bikin aku pusing aja. Author-author, author apa!?" Ia mulai kesal dan memberikan raut wajah mengintimidasi. Tapi aku biasa saja, karena aku tahu ia tidak akan benar-benar marah. Apalagi soal sepele seperti ini. "Ayo mandi, kita cari sarapan. Habis itu kita ke Khusnul khatimah," Ia beranjak dari hadapanku.


"Lho emang kamu belum mandi, kok ajak-ajak aku segala?" tanyaku menggodanya.


"Sudah, sebelum subuh aku sudah mandi. Emangnya kamu, anak gadis kok jam segini belum mandi," cibirnya.


Menyebalkan.


"Kamu ngomongnya mirip ibu Kha," ujarku.


"Biarin! Ayo cepet mandi, apa perlu aku mandiin?"


"Iiiiihh, malas ah Kha, mau tidur lagi aja." Aku ikut beranjak mengikutinya dengan gerakan malas.


Ia menoleh kepadaku, "Masya Allah," ucapnya. Lalu, bergerak memelukku dan mulai mengangkat tubuhku ala bridal style.


"Ihhh Kha, jangan gini ah!" Tolakku sambil mengayunkan kaki keatas dan ke bawah.


Dug!


"Awww!" Pekikku merasakan sakit di kepala. Kali ini aku bukan sedang mengaduh karena manja. Tapi aku benar-benar merasakan sakit. Bagaimana tidak, kepalaku terbentur keras pada pintu masuk ruang utama. Gaya-gayaan sih Paijo!


Bruk!


Khafa menjatuhkan tubuhku reflek. Mungkin maksudnya ia akan memberikan pertolongan pertama pada kepalaku yang terbentur. Tapi ternyata aku belum siap ia jatuhkan, sehingga aku jatuh tersungkur di lantai.


Kebangetan!


"Astagfirullah! Maaf, maaf," ucapnya berbarengan dengan terjatuhnya aku ke lantai.


"Paijooooooo! Sakit tahu!" Teriakku kesal sambil meringis. Aku memegang kepala dengan tangan kananku dan pinggul dengan tangan kiriku.


"Kamu!" Sentakku.


Seketika ia bungkam dengan sekali sentakanku itu. Mungkin ia memang merasa bersalah. Kemudian dengan cepat menolongku.


Kepalaku sudah reda sakitnya karena usapan demi usapan yang di berikan Khafa terus menerus. Namun, aku masih meredakan sakit pada bagian bokong dan terus memijatnya perlahan.


"Apa perlu di pijat? Itunya?" Ia bertanya kaku sambil menunjuk bagian bokong yang ku pijat sendiri.


"Gak perlu!" Ketusku.


Setelah merasa lebih baik, Khafa menuntunku berjalan menaiki tangga.


"Sudah! aku bisa sendiri," usirku saat aku sampai di depan pintu kamar mandi.


"Iya, hati-hati, ya. Jangan lama-lama," ucapnya. Lantas ia kembali ke lantai bawah.


Beberapa lama berendam dengan air hangat, membuat tubuhku cukup merasa rileks dan lebih baik.


Lalu, aku pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan. Walau bagaimanapun aku harus segera memulai perananku sebagai istri bukan?


Tapi ternyata aku terlambat. Disana sudah ada beberapa potong ayam goreng, sambal, tempe bacem juga lalapannya telah tersaji di atas meja.


"Kha, kamu sudah sarapan?" Tanyaku ketika Khafa sedang sibuk dengan layar laptopnya di ruang tamu.


"Hmn?" Ia menaikkan alisnya balik bertanya tanpa melihatku.


"Sarapan! Itu semua dari mana?" Aku menunjuk pada arah meja makan.


Mendengarku menaikan nada suara, ia menoleh juga ke arah ku. "Oh, itu, mbok Sum tadi anterin kesini," jawabnya sejenak. Setelah itu, dia serius lagi dengan pekerjaannya.


"Kamu udah sarapan?" Aku mengulangi pertanyaan.


"Hmn," jawabnya masih tidak memperhatikanku.


"Kha, lagi ngapain sih?" Tanyaku mulai tidak sabaran dan penasaran dengan apa yang ia kerjakan.


No respon.


Ia masih saja serius dan tidak memperdulikanku.


"Kha!!"


Terkesiap. "Hah, iya dek?" Ia menoleh sebentar kepadaku lalu, kembali pada kesibukannya.


Dek?


"Dek, siapa?"


"Kamu,"


"Kamu ngapain sih? serius banget,"


"Nggak ngapa-ngapain. Ini ada kerjaan sedikit. Ya udah yuk makan dulu," jawabnya segera mengakhiri pekerjaannya. Tidak lama kemudian ia beranjak dan merangkul pundakku.


"Kenapa kamu bilang aku dek?"


"Karena kamu, ga mau panggil aku mas."


"Tapi, kita bukan kakak adek!" Elakku sambil mengelak juga dari rangkulannya.


"Kamu terus menerus panggil aku Kha, jadi aku anggap kamu panggil aku kak, gak ada bedanya juga. Kha atau kak, terdengar sama dari mulutmu, dek," tuturnya memberikan alasan.


Ah, memang iya sih sebenarnya. Ucapanku memang begitu tidak ada bedanya Kha dengan kak. Aku tidak tahu kenapa. Mungkin ini bawaan dialek Sunda yang melekat di lidahku. Seperti 'maaf menjadi maap'.


"Urusan panggilan aja ribet," gerutuku pelan sambil berjalan ke meja makan.


"Dari dulu kamu memang gitu, salah terus soal panggilan," ujarnya yang mengekor aku berjalan.


"Kamu!" Sentakku sambil menoleh memelototinya.


"Enak aja, kamu tau." Ia tak mau kalah namun tetap pada nada rendah.


"Kamu!!" Aku makin emosi.


Cup.


Aku membatu dengan mata yang membulat sempurna, saat sebuah kecupan tiba-tiba mendarat di bibirku.


"Udah, jangan marah lagi kalau tidak mau ada serangan yang lebih dari itu," bisiknya di depan wajahku.


-----------------------------------------------


sambil nunggu up, baca karya temen author juga yaa..