Always Remember

Always Remember
Mengulur waktu



Dua bulan berlalu, aku sengaja mengulur waktu rencana pernikahan. Bukan, bukan karena aku belum yakin padanya. Bukan juga karena aku belum bisa move on dari Khafa. Laki-laki itu bahkan aku masih bisa tersenyum ketika mengetikkan namanya.


Lupa?


Tidak mungkin. Juga tidak akan.


Untuk apa?


Hal yang indah tidak seharusnya kita lupakan bukan?


Semua yang ku lewati dengannya adalah mutlak kenangan indah. Meskipun pernah ada air mata yang menyertainya. Itu bukan karena ada sebab penghianatan. Aku tak pernah merasa menghianati ataupun di hianati olehnya. Hanya saja, waktu yang terlalu cepat mempertemukan.


Terlalu cepat?


Iya, saat itu terlalu cepat. Lalu di pertemukan kembali terlalu lambat. Sehingga semuanya tidak bisa lagi diperjuangkan.


Sudahlah, sekarang aku sadar. Sekeras apapun usaha kita berjuang untuk apa-apa yang kita inginkan. Kalau memang tidak ada takdir yang menuliskan kita bersama maka tidak akan pernah ada kebersamaan.


Juga, hubungan antara aku dan Khafa tidak akan pernah naik level menjadi kita.


Jadi alasanku mengulur waktu pernikahan adalah ingin membuktikan pada keluarga besar Andra bahwa aku dan Andra tidak pernah melakukan hal apa yang mereka takutkan.


Pada mimpi pagi itu, apa yang aku dengar ketika tidur ternyata benar. Itu adalah perbincangan Andra dengan Mamanya yang aku dengar pada separuh kesadaran ku.


Setelah mimpi yang seakan nyata itu aku mengalami suatu gangguan kondisi tidur yang di sebut sleep paralysis. Konon penyebabnya adalah kelelahan dan juga kurang tidur. Aku memang sering mengalaminya pada saat-saat kondisi seperti itu.


Ada baiknya juga ternyata aku mengalami hal seperti itu. Begitulah, sesuatu tidak akan terjadi secara kebetulan tanpa ada hikmah di baliknya. Aku jadi tahu dan sempat menanyakan pada Andra.


Kami membahasnya dengan terbuka dan dewasa. Aku tak akan serendah itu. Dan Andra tak akan semudah itu. Meski terkadang ia juga suka bandel.


Aku merasa harus belajar dari pengalaman yang telah terjadi pada Eliana. Pernikahannya yang terburu-buru membuat rumah tangganya selalu bermasalah.


Aku bersyukur sekali. Apa yang ingin ku lakukan di dukung penuh olah Andra. Kita sama sama paham ini untuk kebaikan bersama.


Selama dua bulan berlalu setelah ia melamar ku waktu itu, selama itu juga paket-paket misterius yang ku terima berhenti. Paket yang pada akhirnya aku tau siapa pengirimnya.


Dan kabar baiknya lagi adalah selama itu juga ia membuktikan padaku bahwa ia memahami perkataanku.


Andra berhasil berhenti merokok.


"Kamu tahu alasan aku berhenti merokok?" tanyanya. Tangannya sibuk meracik kopi hitam andalannya.


"Karena tidak mau terlihat keren?" Aku menyandarkan diri pada dinding sambil melipat tangan di dada dengan pandangan yang intens pada Andra.


"Bukaaannn... Aku kan emang udah keren," balasnya seraya bergaya merapikan rambutnya yang tidak berantakan.


Aku terkekeh sambil memutar bola mata. Malas mendengar pernyataannya yang selalu merasa percaya diri tingkat tinggi. Walaupun memang sebenarnya, iya juga sih. Apalagi disaat ia sedang membuat kopi seperti itu.


"Kalau bukan itu, lalu apa?" tanyaku lagi.


"Aku mau hidup seribu tahun lagi sama kamu."


Aku mengerucutkan bibir seraya mengangguk. "Terima kasih."


"Terima kasih karena apa?"


Segelas kopi hitam tanpa gula sudah siap disajikan. Lalu ia berikan padaku.


"Karena telah menjadikan ku alasan kamu menjadi lebih baik."


Andra menatapku lekat lalu ia menjawab "sama-sama." Seulas senyuman muncul begitu saja di bibirnya. Membuat kopi pahit yang tengah aku seruput saat itu terasa.... Manis.


Aku tersenyum sendiri mengingatnya. Rasanya baru saja aku merasakan kehangatan moment itu bersamanya.


Aku berjalan dalam keheningan, menyusuri lorong ruang ruang tahanan sementara. Ketakutanku selama ini terjadi. Tapi aku yakin Andra tidak bersalah. Tuduhannya atas kepemilikan senjata tajam dan pengeroyokan itu hanyalah fitnah belaka. Karena yang terjadi justru sebaliknya. Aku yakin bahwa kebenaran cepat atau lambat pasti akan terkuak.


"Kamu baik-baik aja kan sayang?" tanya Andra pertama kali saat ku temui. Wajahnya tak sesegar biasanya, aku melihat sedikit lingkaran hitam di sekitar matanya. Mungkin ia kurang tidur beberapa hari ini.


"Harusnya aku yang nanya kayak gitu," ucapku sambil mengusap tangannya yang terlipat di atas meja.


"Aku janji aku akan selesaikan ini secepatnya. Aku gak mau rencana kita tertunda lagi." Andra mengadu pandangan denganku. Menggenggam tanganku dengan erat.


Aku mengangguk pelan dan tersenyum. Tapi saat mataku melihat ada luka lebam di buku-buku tangan Andra seketika senyuman ku menghilang.


Aku memberanikan diri untuk menyentuh luka itu hati-hati dengan tangan kiri ku.


"Kenapa bisa luka begini?" Ibu jariku bergerak ke kanan dan ke kiri mengelus luka itu. Mataku memandang wajah dan tangan Andra secara bergantian.


"Bukan apa-apa." Andra melepaskan genggamannya. Menyembunyikan tangannya di bawah meja sambil tersenyum.


Aku menghela nafas lalu tersenyum kecut. Andra selalu saja begitu, menyembunyikan segala hal yang mungkin akan membuat ku ikut merasakan sakit.


"Maafin aku ya, gara-gara kejadian waktu itu aku jadi melibatkan mu dalam urusan ini."


Aku menggeleng. "Kamu gak salah. Gak perlu minta maaf."


"Selesai urusanku disini aku segera balik ke Bogor. Aku mau urus surat pengunduran diri ke kantor. Setelah menikah aku mau tinggal di Bandung sama kamu. Kamu mau kan?" tanyanya dengan raut meminta.


Entah apa yang terjadi pada kehidupan Andra belakangan ini. Sampai akhirnya ia memutuskan untuk kembali ke Bandung. Tapi kata-katanya barusan terdengar tegas dan meyakinkan. Hanya saja pada kalimat tanya terakhirnya ada nada tidak yakin di dalamnya.


"Kalau memang itu sudah jadi keputusan terbaikmu, jangankan ke Bandung, Kalau kita sudah menikah, sejauh apapun kamu melangkah aku pasti akan menjadi orang pertama yang berada di sampingmu," jawabku sambil memandang Andra.


"Ya udah udah, jangan fikirin hal berat dulu. Aku bawa makanan kesukaan kamu loh! aku yakin kamu pasti belum makan," kataku sambil memberikan rantang Tupperware berisi nasi, cah kangkung, empat potong tempe goreng dan satu ekor pesmol ikan mas berukuran sedang.


"Waw, Kamu masak sendiri?" tanyanya dengan wajah berbinar saat aku membuka rantang tersebut.


Hhhhh jangan harap! Mana bisa...


"Beli jadi," jawabku datar.


"Di rumah makan biasa kita singgah?" tanyanya lagi.


Aku mengangguk.


Andra menarik sebelah bibirnya, "Kirain kamu masak spesial buat aku."


"Kalo aku masak di Bogor terus di makan di Bandung gimana rasanya coba?" bela ku.


"Alesan aja. Bilang aja gak bisa," lanjutnya.


"Bisa kok."


"Bisa makannya doang?"


"hehe.. iya,"


Andra sigap menyantap makanan yang ku bawa. Aku, melengkapi kekurangan Andra yang suka makan ikan mas tapi tidak suka memilih durinya.


Iya, aku sibuk memilah duri ikan mas dengan dagingnya untuk siap Andra makan. Tega memang dia.


"ekhemm," seorang polisi berdehem. Andra sontak menengok ketika sedang menyuapi makanan ke mulutku.


"Dunia milik berdua ya mas? yang lain ngontrak," lanjutnya.


Kami tersipu mendengar kata polisi yang seolah mengejek. Lalu tergelak bersamaan dengan ramahnya pak polisi menyertai perbincangan kami setelah selesai acara makan.


Hingga akhirnya aku pamit pulang ketika seorang polisi tersebut meminta untuk segera mengakhiri kunjunganku.