Always Remember

Always Remember
Kolong langitku, Al Firdaus-mu



Saatnya tiba memenuhi undangan Dadang sebagai ketua pemuda di kampung ku. Pada undangan itu, tertera waktu ba'da Ashar. Sudah ku usahakan untuk pulang cepat dari kantor. Usai makan siang, aku dengan semangat meninggalkan ibu kota.


Setelah beristirahat sebentar, suara adzan Ashar berkumandang, suaranya menyebar ke seluruh penjuru kampung. Aku segera menunaikannya dan habis itu, tentu saja aku bersiap. Sebenarnya lelah sih. Tapi semangatku mengalahkan rasa lelahku.


"Kak, Embun!" Panggil seorang anak perempuan kepadaku ketika aku melangkah keluar halaman rumah. Ia adalah Lania gadis berusia belasan. Ia salah satu anak yatim di kampung ku. Sempat beberapa kali aku mengobrol dengannya kalau di rumahku sedang berbagi. "Kak Embun mau ke Al Firdaus?"


"Iya. Kamu?"


"Sama, aku juga,"


Kami berdua, jalan kaki beriringan melewati jalan setapak. Jalan tikus yang bisa membuatku cepat sampai di kolong langit.


Itu si Embun? Pake kerudung? Cantik pisan.


Halah besok ge di lepas lagi, maklum anak muda jaman sekarang. Kerudung mah kerudung, pacaran jalan..


Ohh, katanya sih putus sama cowok tajirnya. Jadi pake kerudung. Jangan jangan... Tobat kali.


Emang berapa lama pacaran? Bukannya udah tahunan ya..


Iya lima tahun katanya sih..


Hadeuh, Yah udah abis deh itu mah.. kalo nikah udah punya balita kali..


Pacaran Ama orang kaya ya gitu, habis manis sepah di buang ..


Percuma ya lama-lama pacaran, ujung-ujungnya di tinggal.


Oh udah berapa tuh sekarang umurnya.. kalah Ama adeknya.. adeknya udah punya anak, suaminya tentara.


Dengungan-dengungan itu terdengar dari beberapa orang kampung yang ku temui sepanjang perjalanan ke kolong langit. Pelan memang, tapi cukup memekakkan telinga.


Sabar!


Tidak semua niat baik bisa di terima dengan baik, bukan?


"Kak, jangan di denger ya!" Seru Lania sambil menoleh ke arahku.


Aku tersenyum kecut. "Memang kamu ngerti apa yang mereka katakan?"


"Ngerti lah, itu kan bukan yang pertama kalinya. Aku sering mendengar hal serupa kalau aku sedang main. Kakak selalu jadi trending topik di kalangan ibu-ibu,"


"Wah masa sih?"


"Iya, apalagi semenjak usaha di samping rumah kakak maju. Mereka merasa tersaingi,"


"Hah?" Tanyaku heran.


Kenapa aku tidak pernah kepikiran kesana? Aku tau di kampung ini, Memang banyak sekali home industri yang membuka usaha produksi sepatu dan sandal. Ya akupun terinspirasi dari mereka. Ide awal memang dari Jali yang bertahun-tahun bekerja pada orang lain dan tak kunjung mendapatkan apa-apa. Jadi ya, apa salahnya aku membuka usaha. Membuka lapangan pekerjaan untuk saudara-saudara sendiri.


Karena aku sadar bahwa saudara, bukan hanya ada ikatan pertalian darah saja. Tapi fungsi lainnya adalah saling merangkul untuk menjalani kehidupan yang lebih baik lagi tanpa harus berpangku tangan.


Berkat kegigihan Jali, Irgi dan semua teman-teman lain, akhirnya, usaha itu maju. Aku bahkan cuma menyumbangkan modal, ide dan membantu penjualan via online. Selebihnya penjualan ke pasar langsung di kerjakan oleh mereka. Memang sih, semenjak aku buka penjualan via online. Order semakin banyak dan omsetnya sudah lebih dari cukup menurutku. Rencana ku ke depan adalah, berhenti menjadi pegawai cargo dan melanjutkan usaha dengan serius. Aku berencana membuka toko sepatu di kota. Masih wacana sih, tapi aku mulai mantap, semenjak hubunganku berakhir dengan Andra. Aku bertekad membuat suasana baru dalam keseharianku.


"Kak! Kak Embun!"


"Malah bengong kak Embun mah. Aku dari tadi nyerocos sendiri," keluh Lania sambil cemberut.


"Hihii.. maaf ya. Ulang deh ulang deh.. sekarang aku pasti dengerin," rayuku.


"Ah enggak mau, kita udah sampe tuh udah rame kak!" Lania menujuk ke sebuah bangunan seperti gazebo besar dengan satu bangunan bertingkat berukuran sekitar 100 m² di sampingnya.


Dan di bagian atas pondok gazebo yang menghadap langsung pada persawahan dan gunung salak itu, terpampang banner tebal yang bertuliskan Rumah tahfidz Al Firdaus.


Aku menatap takjub pemandangan baru di kolong langit. Kemana batu batu besar itu? Kok tinggal satu? Dan satu-satunya itu adalah batu tempat aku biasa duduk meratapi nasib. Ah tidak! Tidak ada yang perlu di ratapi pada nasibku. Aku baik-baik saja. Yang benar adalah batu itu tempat aku menikmati senja. Terdengar norak bukan? Biarlah, aku memang begitu.


Kolam itu masih ada. Bahkan ikannya lebih banyak. Jernih airnya juga tidak berubah. Kolong langit ini terlihat jauh lebih baik dari sebelumnya.


Di atas gazebo sudah berkumpul banyak anak-anak, pemuda juga para tokoh masyarakat kampung. Aku mengedarkan pandangan pada satu persatu orang. Sampai akhirnya tatapanku berhenti pada Dadang. Ia tersenyum tulus dari kejauhan menyapaku. Aku balas tersenyum sambil mengangguk.


Dimana Khafa? Apa ia tidak datang di pembukaan rumah tahfidz-nya?


"Assalamualaikum Embun," sapa suara lelaki dari belakangku.


"Waalaikumussalam," jawabku. Kemudian aku menoleh.


"Ustadz Ammar? Kesini juga?"


"Iya, saya di undang. Untuk selanjutnya saya ngajar disini juga bergantian dengan ustadz lainnya."


"Jam berapa pembukaannya, kok belum ada acara apa-apa?"


"Tadi sudah doa bersama, sebentar lagi mau ada pembagian santunan dan sembako untuk warga sekitar. Kita lagi nunggu warga penerimanya kumpul dulu,"


"Oh gitu." Lalu, aku berbincang banyak dengan ustadz Ammar.


Tanpa ku sadari, ternyata Khafa turun dari bangunan atas rumah tahfidz itu. Sejak kapan dia sampai sini? Kenapa tidak mampir ke rumahku dulu?


Ah Kha! Rasanya kenapaku buat kamu tidak pernah pernah ada habisnya.


Khafa bergabung dengan para tokoh masyarakat disini, yang salah satunya ada ustadz Mulyana. Ia terlihat supel dan hangat sekali. Ia sesekali melirik ke arahku dengan tatapan yang penuh arti. Tapi, tidak sedikitpun mengurangi wibawanya.


"Yaudah, saya tinggal kesana dulu ya."


"Baik. Ustadz, silahkan,"


Ustadz Ammar pamit dari hadapanku. Kemudian bergabung dengan para tamu undangan lain di atas gazebo. Ia juga terlihat menyapa Khafa kemudian saling melemparkan candaan. Sepertinya mereka sudah saling kenal sebelumnya.


Hari semakin sore. Senja kali ini di kolong langit terasa berbeda. Banyak senyuman syukur yang di hasilkan dari para warga yang menerima santunan. Banyak anak yatim dan anak tidak mampu lainnya bercanda tawa begitu riang. Bagaimana tidak, mereka kini telah mendapatkan wadah untuk menuntut ilmu tanpa biaya apapun. Bahkan Khafa bilang tadi dalam sambutannya. Ia akan memberikan hadiah setiap bulan untuk santri-santri yang rajin dan berprestasi.


Para tokoh masyarakat juga terlihat senang sekali berkenalan dengan Khafa. Nantinya yang akan mengajar di tempat ini adalah ustadz dan ustadzah yang berdomisili dekat sini. Khafa dan timnya menyerahkan langsung semuanya pada salah satu tokoh masyarakat. Sedangkan bangunannya, ia amanahkan langsung pada Dadang sebagai ketua pemuda.


Aku tak berhenti menyunggingkan senyuman untuknya. Aku bangga sekali padanya. Khafa itu, sesuai namanya. Peduli sesama, dermawan dan tidak mementingkan diri sendiri. Begitulah arti namanya yang ku temukan tanpa sengaja di berita online.


Tiba-tiba, pertanyaan itu kembali menyerang kepalaku. Apa aku pantas menjadi istrinya?


Kalau biasanya aku menikmati senja disini dengan melewatkan panggilan adzan magrib. Kali ini beda, aku segera pulang untuk menunaikan kewajiban ku. Sedangkan yang lainnya, semua sudah meninggalkan area rumah tahfidz lalu pergi ke masjid untuk sholat magrib.


Begitupun Khafa, ia masih belum sempat menyapaku karena sibuk menyapa satu persatu dari mereka.